
Barang bukti emas dan sejumlah uang saat ditampilkan pada konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (10/7/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) disebut sebagai gambaran nyata praktik kejahatan terstruktur yang melibatkan tata kelola sumber daya alam (SDA) hingga berdampak pada lemahnya penegakan hukum di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Manajer Penelitian dan Pengetahuan Lokataru Foundation, Hasnu Ibrahim, dalam diskusi publik bertajuk "Dari Korupsi Batu Bara PLTU Hingga Pencucian Uang: Membedah Anatomi Korupsi dan TPPU dalam Skandal Eks Jampidsus Kejagung" yang digelar di Jakarta, Kamis (23/7).
Ia menilai, perkara tersebut hanya merupakan bagian kecil dari persoalan korupsi berskala besar yang melibatkan aktor-aktor penting dalam sistem penegakan hukum.
Ia mengungkapkan, penyidik telah menyita barang bukti berupa uang tunai senilai Rp 476 miliar serta emas batangan seberat 74 kilogram dari 12 lokasi berbeda, termasuk sebuah safe house di kawasan Sentul.
"Namun, kita tidak boleh terkecoh dengan 74 kg emas dan uang miliaran rupiah tersebut. Karena kita bisa belajar dari beberapa skandal besar di Indonesia di mana pola dasar korupsi besar di Indonesia masih banyak harta-harta haram yang perlu diungkap oleh aparat penegak hukum, jadi tak cukup jika berhenti disitu," kata Hasnu.
Menurutnya, dugaan manipulasi pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sepanjang 2018 hingga 2026 diperkirakan menyebabkan kerugian perekonomian negara mencapai Rp 5 triliun. Praktik tersebut, kata dia, juga berdampak langsung terhadap masyarakat karena memicu pemadaman listrik secara luas di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.
Hasnu menekankan, skandal tersebut memiliki tiga lapisan utama. Pertama adalah tindak pidana asal (predicate crime), yakni dugaan manipulasi tata kelola batu bara yang melibatkan PT UBP dan PT BRA melalui pemalsuan dokumen kualitas maupun kuantitas batu bara, sementara pembayaran kontrak tetap dilakukan penuh oleh negara.
Lapisan kedua, berupa tindak pidana pencucian uang (TPPU), yang disebut dilakukan melalui penggunaan safe house untuk menghindari deteksi PPATK serta praktik commingling, yakni mencampurkan dana hasil kejahatan dengan aset legal agar aliran uang sulit dilacak.
Sementara lapisan ketiga, krisis kelembagaan (enablers). Menurutnya, ketika aparat penegak hukum yang semestinya memberantas korupsi justru terjebak dalam praktik informal governance sehingga memunculkan konflik kepentingan dan perlindungan politik.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di Liga Nations UEFA: Jvarosnebi Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Bangladesh vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Harimau Malaya Curi Kemenangan
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022