
Tampang oknum kiai yang diduga mencabuli 50 santriwati Ponpes Pati, ditangkap di Wonogiri, Jawa Tengah, Kamis (7/5). (Istimewa)
JawaPos.com - Kasus dugaan pelecehan oleh seorang yang mengaku kiai tengah ramai diperbincangkan publik. Setelah muncul dugaan asusila pimpinan Pondok Pesantren Ndholo Kusumo di Desa Tlogasari, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kini masyarakat dihebohkan dengan kiai berinisial AHF yang diduga menghamili santriwati F di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Maraknya dugaan asusila oleh seseorang yang mengklaim tokoh agama membuat Kementerian Agama (Kemenag) angkat bicara. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Basnang Said, menegaskan pihaknya mendukung proses hukum untuk menjatuhkan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku.
’’Kemenag secara tegas mendukung proses hukum terhadap pelaku dengan menghukum seberat-beratnya pelaku," kata Basnang Said kepada JawaPos.com, Rabu (27/5).
Menurutnya, Pondok Pesantren binaan AHF diduga tidak memiliki izin resmi. Karena itu, ia memastikan akan mencabut papan nama maupun plang pondok. Hal ini dilakukan karena tidak mencerminkan institusi pondok yang mengedepankan nilai luhur suci pesantren dan keteladanan nilai pesantren.
Ia pun memastikan akan memfasilitasi perlindungan dan penanganan psikologis korban. Hal ini dilakukan sesuai dengan mekanisme dan regulasi penanganan kekerasan seksual.
Ia menegaskan, Kemenag akan mengubah regulasi izin operasional Pondok Pesantren. Regulasi baru mewajibkan instrumen ramah anak yang aman dari kekerasan dan penyalahgunaan relasi kuasa. Salah satu caranya dengan hadirnya mekanisme aduan yang aman dan rahasia.
Diharapkan juga ada partisipasi wali santri dalam penyusunan kebijakan pondok. Wali santri harus ikut dalam pengawasan langsung terhadap pondok pesantren. ’’Di satu sisi, pondok perlu membuka diri ke dinas terkait. Hal ini difasilitasi oleh Kanwil Kemenag Provinsi dan atau Kanwil Kemenag Kabupaten di mana pondok pesantren berada," imbuhnya.
Sebelumnya, pada perayaan Idul Adha hari ini (27/5), Polres Pekalongan Kota menangkap pemimpin padepokan sekaligus pondok pesantren (ponpes) berinisial AKF. Pria paruh baya ini ditangkap polisi atas dugaan pencabulan sejak 2008 lalu. "Bertepatan dengan hari suci Idul Adha ini, kami lakukan pengamanan terhadap terduga pelaku," ucap Kapolres Pekalongan Kota AKBP Riki Yariandi dikutip dari pemberitaan Radar Pekalongan.

Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Menteri PU Dody Hanggodo Ungkap 10.000 Pegawai Terindikasi Judol dan Masalah Absensi
Analisis Prediksi Bursa Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Albiceleste Sudah Teruji hingga 120 MenitÂ
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Jude Bellingham Ungkap Adu Argumennya dengan Lionel Messi saat Inggris Tumbang dari Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026
3 Fakta Statistik yang Untungkan Spanyol Kalahkan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Luis de la Fuente Punya Pola Juara
