Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 6 Januari 2026 | 18.25 WIB

Nadiem Makarim Klaim Kekayaannya Merosot Selama 5 Tahun jadi Menteri Jokowi

Tersangka kasus dugaan korupsi dalam digitalisasi pendidikan pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek tahun 2019-2022 Nadiem Makarim memberikan salam ke arah wartawan sebelum sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (5/1/2026 - Image

Tersangka kasus dugaan korupsi dalam digitalisasi pendidikan pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek tahun 2019-2022 Nadiem Makarim memberikan salam ke arah wartawan sebelum sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (5/1/2026

JawaPos.com - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, mengklaim kekayaannya merosot selama lima tahun menjabat sebagai menteri di era pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Hal itu disampaikan Nadiem dalam sidang pembacaan nota keberatan atas dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) atau eksepsi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (5/1).

“Selama 5 tahun mengabdi sebagai menteri justru kekayaan saya menyusut,” kata Nadiem.

Ia menyebut, salah satu penyebabnya adalah hilangnya berbagai peluang finansial yang sebelumnya dimilikinya ketika masih menjadi bos Gojek.

“Hilanglah kesempatan saya untuk mendapatkan saham tambahan yang diberikan kepada para pimpinan Gojek setelah saya keluar,” ucap Nadiem.

Selain itu, ia juga menegaskan tidak lagi menerima penghasilan besar seperti saat masih aktif sebagai bos aplikasi transportasi Gojek. Ia menegaskan, pengorbanan dirinya menjadi menteri tidak hanya finansial, melainkan juga menyangkut sisi personal dan psikologis.

“Hilanglah ketenangan batin saya. Sebagai menteri termuda, saya merasa kecil hati melihat menteri lainnya dengan anak-anak yang sudah dewasa,” tuturnya.

Ia menggambarkan perbedaan kondisi tersebut berdampak pada ritme kerja dan aktivitas politik para menteri.

“Dengan mudah menjadwalkan rapat sampai malam, sowan ke berbagai tokoh, membangun dukungan politik,” bebernya.

Sementara itu, sebagai ayah dari tiga anak yang masih balita saat itu, Nadiem mengaku harus membagi waktu secara ketat antara keluarga dan tugas negara. Ia menilai, masa tersebut sebagai fase pembelajaran ganda dalam hidupnya, baik sebagai orang tua maupun sebagai pejabat publik.

“Saya harus belajar menjadi ayah dan menteri di saat yang bersamaan,” ungkap Nadiem.

Di lingkungan kementerian, Nadiem juga mengaku menghadapi tantangan besar karena harus beradaptasi dengan sistem yang sama sekali baru baginya.

“Dalam kementerian, saya harus belajar dari nol lagi, menghadapi hutan belantara birokrasi dan politik yang saya tidak kuasai,” tuturnya.

Meski menyadari berbagai risiko dan kemungkinan kegagalan, Nadiem menegaskan keputusannya masuk pemerintahan dilandasi niat untuk berkontribusi bagi masa depan pendidikan Indonesia.

“Semua kenyamanan sebelumnya saya lepas dengan ikhlas untuk mencoba memperbaiki masa depan anak anak indonesia. Mata saya tidak tertutup. Saya tahu saya sangat mungkin gagal. Saya tahu saya bisa dikorbankan,” imbuhnya.

Dalam perkara ini, Nadiem Anwar Makarim didakwa melakukan korupsi yang merugikan keuangan negara sebesar Rp 2,18 triliun terkait pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM). Perbuatan tersebut dilakukan Nadiem bersama sejumlah pihak, yakni Ibrahim Arief alias Ibam, Mulyatsyah, Sri Wahyuningsih, dan Jurist Tan.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore