Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 Desember 2024 | 16.46 WIB

Jadi Korban Penyiraman Air Keras, Natasya Hutagalung Masih Sulit Buka Mata Kiri

Potret Natasya Hutagalung bersama keluarganya (Tarida Hutagalung untuk Radar Jogja) - Image

Potret Natasya Hutagalung bersama keluarganya (Tarida Hutagalung untuk Radar Jogja)

JawaPos.com – Hanya mata sebelah kanan Natasya Hutagalung yang sesekali bisa terbuka sampai kemarin (27/12). Yang sebelah kiri belum bisa membuka sama sekali.

Hal tersebut terjadi akibat siraman air keras yang dilakukan Satim di tempat kos mahasiswi Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa (STPMD) APMD tersebut di kawasan Gondokusuman, Kota Jogja, pada malam Natal (24/12). Satim melakukannya atas suruhan Belly Vilsen, mahasiswa magister hukum Universitas Atma Jaya, Jogjakarta, yang juga mantan kekasih korban.

Menurut sang bibi, Tarida Hutagalung, dari seluruh anggota tubuh, bagian muka Natasya yang paling parah mengalami luka bakar akibat disiram air keras.

Tarida menambahkan, mata sebelah kanan keponakannya yang berusia 21 tahun itu sudah bisa terbuka sesekali, tapi hanya sebentar. Namun, yang mata kiri hingga saat ini belum bisa dibuka. "Karena memang masih sangat-sangat perih," tuturnya lewat sambungan telepon, sebagaimana dilansir Jawa Pos Radar Jogja.

Natasya yang masih dirawat di RSUP dr Sardjito, Sleman, saat ini dalam kondisi sadar. Namun, menurut Tarida, dia mengalami trauma dan takut. Karena itu, keluarga belum mengizinkan pihak luar berkomunikasi banyak dengan Natasya.

Tarida menyebut, insiden itu terjadi tepat di malam Natal, bersamaan dengan hari ulang tahun Natasya. Natasya baru selesai mandi untuk bersiap mengikuti misa Natal ketika serangan tersebut terjadi.

"Kami tidak menyangka pelaku adalah teman yang pernah dekat dengan anak kami," bebernya.

Pihak keluarga sebelumnya mengetahui hubungan antara Natasya dan Belly. Keduanya berasal dari daerah yang sama, Ketapang, Kalimantan Barat. Bahkan, si pelaku sempat mengunjungi rumah keluarga Natasya saat mereka masih berpacaran.

"Belly pernah berkunjung ke rumah opung (kakek) Natasya bersama pada 2022," ungkapnya.

Keluarga juga mendengar cerita dari Natasya bahwa dia dan pelaku telah putus hubungan. Pelaku terus mengajak balikan, tapi Natasya menolak.

Keluarga sempat menanyai Natasya alasan kenapa dia menolak diajak balikan. Natasya mengaku bahwa Belly mempunyai perilaku yang toksik. Namun, untuk detail penjelasannya, keluarga belum mengetahui secara mendalam.

Apa yang dilakukan pelaku kepada Natasya dinilai merupakan perbuatan sangat keji. Pihak keluarga menuntut agar pelaku merasakan apa yang sedang dirasakan Natasya.

"Kami pengen hukumannya kalau bisa kasih siram (air keras) juga ke Belly dan si Satim ini atau dipenjara minimal seumur hidup," katanya.

Menyamar sebagai Perempuan

Satim dan Belly berhasil ditangkap polisi kurang dari 24 jam atau pada Rabu (25/12) dini hari. Kasatreskrim Polresta Jogjakarta Kompol Probo Satrio mengatakan, tragedi itu bermula ketika Belly sakit hati karena diputuskan Natasya. Mereka berdua berpacaran sejak 2021, tapi putus pada Agustus 2024.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore