Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Juli 2023 | 02.19 WIB

Mutilasi Mahasiswa UMY Sleman Redho Tri Agustian, yang Pertama Dipotong Bagian Kepalanya

Waliyin (rambut dicat), pelaku mutilasi mahasiswa UMY, disebut memiliki 2 karakter berbeda.

JawaPos.com - Teka-teki dan misteri mutilasi mahasiswa UMY yang dilakukan Waliyin dan RD masih belum sepenuhnya terungkap. Meskipun polisi saat ini sudah menangkap warga keduanya yang mencoba melarikan diri dan bersembunyi di Bogor, Jawa Barat.

Diketahui, Waliyin merupakan warga Magelang berusia 29 tahun dan RD adalah warga DKI Jakarta berusia 38 tahun itu. Kasus ini sendiri ditangani penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda DIY. 

Satu per satu fakta sudah didapatkan polisi. Baik berdasarkan keterangan dan pengakuan kedua pelaku, maupun dari berbagai barang bukti yang sudah diamankan. Pemicu aksi keji mutilasi hingga si korban direbus itu pun terungkap. 

Sebelumnya, mahasiswa UMY itu dilaporkan hilang oleh keluarganya ke Polsek Kasihan, Bantul. Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi mendapat informasi bahwa Redho terakhir kali terlihat pada Selasa, (11/7) dini hari.

Sejak saat itu, Redho sama sekali tidak pernah kembali ke tempat kos-nya. Sementara, penemuan sebagian potongan tubuh korban mutilasi itu terjadi sehari setelahnya.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIJ Kombes FX Endriadi mengungkap, mutilasi mahasiswa UMY itu bermula dari perkenalan di media sosial. Endriadi menyatakan, korban dan pelaku adalah anggota sebuah komunitas yang memiliki grup media sosial Facebook. Disebutkan bahwa bahwa komunitas itu melakukan aktivitas tidak wajar. Namun tidak dijelaskan secara jelas dan detil soal maksud dari 'aktivitas tidak wajar' tersebut.

Karena sama-sama menjadi anggota komunitas tersebut, Redho, Waliyin dan RD akhirnya kerap berinteraksi. Interaksi yang cukup sering dan intens itu pula yang kemudian mengawali ketiganya saling berkenalan.

Endriadi menerangkan, perkenalan antara Redho, Waliyin dan RD terjadi sekitar 3 bulan sebelumnya. Sejak saat itu, korban dan kedua pelaku semakin intens berkomunikasi satu sama lainnya.

Dari komunikasi itens dan perkenalan itu, ketiganya lantas sepakat untuk melakukan pertemuan alias kopi darat. Hal itu dimulai oleh Waliyin yang mengundang RD datang ke Jogja. Undangan itu lantas disanggupi RD. Tujuan dari undangan Waliyin ke Jogjakarta itu tidak lain adalah juga untuk bertemu dengan Redho.

Setibanya di Jogja, RD langsung dijemput oleh Waliyin. RD kemudian diajak menginap di tempat kos di Dusun Krapyak, Kalurahan Triharjo, Kapanewon Sleman.

Selanjutnya, korban dan kedua pelaku disebut Endriadi melakukan aktivitas tidak wajar sebagaimana ia maksud sebelumnya. Hal itu dilakukan secara bersama-sama. Akan tetapi hingga tidak dijelaskan apakah aktivitas tersebut dilakukan di tempat kos Waliyin atau di lokasi lain.

Untuk diketahui, Kombes Endriadi mengungkap bahwa aktivitas tidak wajar itu merupakan kegiatan yang berkaitan dengan kekerasan. Namun, entah bagaimana ceritanya, kekerasan itu ternyata dilakukan secara berlebihan.

Akibat aktivitas tidak wajar itu pula yang akhirnya membuat Redho Tri Agustian meninggal dunia.

"Mereka (korban dan pelaku) melakukan kegiatan berupa kekerasan satu sama lain dan terjadi berlebihan," ungkap Endriadi, Selasa (18/7).

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore