
TINGGALKAN MASA LALU: SPT (kiri) dan Bang Napi memperagakan kembali cara mereka berdiskusi dan mengincar target sebelum klitih/ (ILHAM DWI/JAWA POS)
JawaPos.com – Beberapa waktu terakhir masyarakat Jogjakarta dan sekitarnya dibuat resah dengan maraknya fenomena klitih. Fenomena ini merupakan aksi kekerasan dengan menyasar korban acak dan pelakunya masih remaja. Maraknya fenomena klitih ini diduga terkait dengan tekanan akibat pandemi Covid-19.
Dugaan tersebut disampaikan dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Muhammad Nur Rizal. ’’Perubahan-perubahan serta tekanan yang muncul akibat pandemi, bisa menjadi salah satu hal yang memicu aksi klitih oleh para remaja,’’ kata Rizal kepada wartawan Senin (18/4).
Pria yang juga pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) itu mengatakan, di tengah pandemi Covid-19 yang terjadi dalam kurun dua tahun terakhir, remaja harus menghadapi perubahan dinamika yang cukup kompleks. Perubahan tersebut terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, relasi pertemanan, dan lingkungan masyarakat tempat tinggalnya. Menurut Rizal, dalam kondisi tersebut anak sulit memenuhi kebutuhannya untuk ruang ekspresi diri.
Rizal menegaskan manusia, terutama remaja membutuhkan ruang atau kesempatan untuk ekspresi dan aktualisasi diri. ’’Tetapi belakangan anak muda tidak punya ruang untuk berekspresi baik di sekolah, keluarga, maupun di lingkungan masyarakat sekitarnya,’’ katanya.
Dia mengatakan selama pandemi, pembelajaran dilakukan secara daring atau virtual. Sehingga membuat ruang para remaja atau siswa untuk berkarya, berekspresi, dan berinteraksi menjadi hilang. Begitupun ruang interaksi di lingkungan masyarakat juga nyaris tertutup. Sebab banyak masyarakat membatasi aktivitas sosial dengan masyarakat di lingkungannya.
Di tengah pandemi, anak-anak atau remaja banyak menghabiskan waktu di rumah. Dalam kondisi ini, persoalan bisa muncul ketika keluarga tidak memiliki relasi yang baik di antara anggota keluarganya. “Banyak orang tua mengalami efek pandemi dan terpuruk secara ekonomi sehingga mereka lupa untuk membangun kedekatan dan komunikasi yang intensif dengan anak,” kata Rizal.
Di satu sisi Rizal mengatakan, anak juga mengalami banyak persoalan baru sehingga perlu mendapat perhatian dan pendampingan dari orang tua. Hal ini membuat relasi antara anak dengan orang tua semakin jauh, dan banyak anak melarikan diri ke dunia teknologi. “Ketika ruang interaksi dan partisipasi berkurang, anak lari ke dunia teknologi,’’ katanya.
Bagi sejumlah anak, ketika dia terpapar pada hal-hal negatif, dia kemudian mencoba menerapkannya di kehidupan nyata. Termasuk melakukan kejahatan klitih yang marak terjadi di kota gudeg tersebut.
Menurut Rizal, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, bisa membawa sejumlah perubahan pada perilaku kejahatan yang kini bisa dilakukan secara individual. Termasuk kejahatan klitih yang sebelumnya lebih banyak dilakukan secara berkelompok, saat ini aksi tersebut bisa dilakukan secara individual.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
