
Reza Indragiri
JawaPos.com–Setelah dua tahun, kasus pembunuhan ibu dan anak yang mayatnya ditemukan di bagasi mobil Alphard, akhirnya terungkap. Ada pengakuan dari salah seorang pelaku yang membantu polisi mengungkap kasus tersebut.
”Alhamdulillah kalau pelaku mengakui perbuatannya. Bisa saja itu menjadi hal yang meringankan hukuman, sekiranya dia divonis bersalah,” papar Reza Indragiri Amriel, pakar psikologi forensik.
Tapi menurut dia, psikologi forensik sudah sampai pada kesimpulan bahwa barang yang paling potensial merusak proses penegakan hukum dan pengungkapan kebenaran adalah pengakuan. Sebab, pengakuan rentan mengalami distorsi dan fragmentasi.
”Jadi, polisi tetap harus memastikan apakah itu pengakuan yang sebenarnya atau pengakuan palsu (false confession/FC). Jangan taken for granted bahwa yang bersangkutan sudah jujur, sejujur-jujurnya,” tutur Reza.
Dia menjelaskan, salah satu jenis FC adalah voluntary FC. Orang yang memberikan pengakuan palsu semacam itu bisa dilatarbelakangi oleh keinginan menutup-nutupi kesalahan atau pelaku lain.
Karena itu lanjut dia, yang bersangkutan perlu dikorek agar memberikan informasi yang berkualitas. Dari sisi psikologi forensik, dalam setting interogasi, informasi yang berkualitas harus lengkap dan akurat.
”Kemampuan polisi secara global dalam mengungkap kasus pembunuhan memang mengalami penurunan. Padahal teknologi investigasi semakin canggih. Dalam kasus ini, sepertinya para pelaku bukan sindikat kriminal,” ujar Reza.
Bahkan, dia menambahkan, terungkapnya kasus pembunuhan di Subang bukan dicapai oleh proses investigasi kepolisian, melainkan berkat kebaikan pelaku.
”Jadi, kita mau bilang apa? Pelaku memang cerdas atau pada dasarnya kemampuan investigasi polisi yang perlu di-upgrade?” ucap Reza.
Soal polisi bilang ditemukan percikan darah korban di baju salah satu tersangka, Reza mempertanyakan, kapan polisi menemukan itu? Kalau sudah ditemukan sejak dulu, semestinya pendalaman hingga penetapan tersangka sudah bisa dilakukan sejak dulu juga.
”Awas, jangan sampai memunculkan kesan polisi membuat atau menciptakan barang bukti guna memenuhi ketentuan minimal dua alat bukti,” kata Reza.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
