Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 September 2023 | 21.19 WIB

Hajar Adik Kelas, Lima Siswa SMP Negeri di Cilacap Diperiksa Polisi

PRIHATIN: Pj Bupati Cilacap Yunita Dyah Suminar (kanan) menemui pelaku perundungan di Mapolres Cilacap pada Rabu (27/9). - Image

PRIHATIN: Pj Bupati Cilacap Yunita Dyah Suminar (kanan) menemui pelaku perundungan di Mapolres Cilacap pada Rabu (27/9).

JawaPos.com - Aksi bullying di kalangan remaja kembali terjadi. Kali ini, korbannya adalah RF, siswa kelas VIII SMP negeri di Cimanggu, Cilacap. Sementara itu, pelakunya adalah lima orang kakak kelas korban. Polisi telah mengamankan lima remaja yang terlibat dalam aksi perundungan tersebut.

Kasus perundungan itu terungkap setelah beredar video tentang siswa berseragam yang dihajar temannya. Video itu langsung viral di jagat media sosial. Polisi bergerak setelah mendapat laporan dari kakak korban. Selasa (26/9) lalu satu per satu pelaku ditangkap polisi.

Kapolresta Cilacap Kombespol Fannky Ani Sugiharto mengatakan, lima remaja tersebut diperiksa dengan didampingi keluarga masing-masing.

”Dua orang terduga pelaku dan tiga orang lainnya sebagai saksi. Pemeriksaan kelimanya dilakukan intensif,” katanya kepada Radar Banyumas kemarin (28/9). Polisi mendalami peran dua pelaku utama, yakni MK, 15, dan WS, 14.

Kasatreskrim Polresta Cilacap Kompol Guntar Arif Setiyoko menjelaskan motif perundungan. Dia mengatakan, RF dianggap mengaku-ngaku sebagai anggota kelompok Barisan Siswa yang diketuai MK. ”Hal itu membuat MK sebagai ketua kelompok dan WS sebagai anggota merasa tersinggung,” terangnya. Karena korban maupun para pelaku masih di bawah umur, pemeriksaan dilakukan dengan menggandeng pihak-pihak terkait.

Kemarin juga beredar kabar bahwa RF meninggal dunia. Namun, kabar itu dibantah Kompol Guntar Arif Setiyoko. ”Kabar itu hoaks. Korban masih dalam kondisi baik,” katanya ketika dikonfirmasi kemarin (28/9).

Dia lantas menjelaskan kondisi korban. Menurut dia, korban mengalami memar di beberapa bagian. Mulai wajah, badan, hingga punggung. Untuk memastikan kondisinya, akan dilakukan CT scan. ”Polsek jajaran sudah memastikan kondisi korban di rumah dan dipastikan tidak ada yang meninggal dunia,” tegasnya.

Sementara itu, kakak korban, Cici Mardiyanti, menyatakan, saat ini adiknya masih mengeluh sakit di beberapa bagian tubuhnya. ”Ada luka di pelipis dan pipi, perut masih sakit, dadanya sesak, dan ada memar di bagian bahu,” tuturnya.

Dia meminta keadilan agar para pelaku diproses dan dihukum. ”Tidak semestinya anak usia SMP melakukan tindakan brutal seperti itu. Saya meminta pelaku dipenjara saja biar jera,” katanya.

Pada bagian lain, kekerasan yang dilakukan siswa SMP negeri di Cilacap dinilai cermin dari kegagalan pengasuhan keluarga. ”Dalam hal ini peran ayah dan ibunya,” kata ahli pendidikan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jejen Musfah. Dia menegaskan, kasus di Cilacap itu bisa menggambarkan kerapuhan atau tidak berfungsinya peran ayah dan ibu sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anak. Kondisi itu dipicu kualitas hubungan anak dan orang tua yang tidak baik.

Bisa juga anak tersebut tumbuh dari keluarga yang tidak memiliki kepedulian pada pendidikan. ”Atau bahkan (orang tuanya) memiliki sikap buruk sehingga tecermin pada perilaku anaknya,” jelasnya. Dalam pengasuhan yang baik dan berkualitas, anak akan tumbuh dengan rasa kasih sayang. Kemudian tidak akan berbuat kasar meskipun berada di pihak yang benar.

Jejen menyatakan ikut melihat video tersebut. Menurut dia, yang tampak adalah perilaku anak-anak di luar nalarnya. Gara-gara rekannya pindah geng, lantas melakukan penganiayaan yang membabi buta seperti itu.

Jejen mengatakan, sekolah juga punya andil dalam mendidik anak. ”Sekolah punya peran mendidik dari aspek karakter juga. Bukan semata akademik,” tuturnya.

Sekolah seharusnya bisa menjalankan peran untuk deteksi dini. Misalnya, anak-anak yang nakal sudah bisa dipetakan. Kemudian dipanggil guru bimbingan konseling (BK). Lalu dijelaskan dampak-dampak jika dia terus berbuat nakal. Atau bahkan sampai melakukan kekerasan atau tindakan lainnya. ”Sekolah harus bisa menjalankan pencegahan,” tandasnya.

Pakar pendidikan Indra Charismiadji mengatakan, kejadian di Cilacap itu adalah potret nyata pendidikan Indonesia. Di antaranya, tingkat kecerdasannya masih rendah. Ujung-ujungnya selalu mengedepankan tindakan fisik atau kekerasan. ”Bagi mereka yang cerdas, kemungkinan melakukan tindakan yang biadab atau tidak berperikemanusiaan seperti di Cilacap itu tidak mungkin,” katanya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore