
ONLINE DAN OFFLINE: Sejumlah perwakilan siswa baru SMAN 16 mengikuti pembukaan MPLS di sekolah kemarin. Sisanya mengikuti secara online. (Robertus Risky/Jawa Pos)
JawaPos.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) selalu berpesan untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia. Namun, sepertinya hal ini tidak akan terlaksana.
Sebab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri memperbolehkan peserta didik bersekolah di zona kuning. Padahal, zona kuning sendiri tingkat penyebarannya masih tinggi.
Alasan pembukaan sekolah ini, salah satunya adalah karena pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sulit untuk dijalani. Namun, menurut Pengamat dan Praktisi Pendidikan Indra Charismiadji, ini merupakan hal yang tidak masuk akal.
Baca juga: Alasan Pembukaan Sekolah, Nadiem: 88 Persen Daerah 3T
"Ini sangat bertentangan dengan program Pak Jokowi. Program pembangunan SDM unggul, SDM unggul kan di era digital, di era industri 4.0. Jadi kan harusnya memang mendorong pendidikan yang berbasis digital, sesuai dengan jamannya," ungkapnya kepada JawaPos.com, Selasa (11/8).
Padahal, melihat dari data Gugus Tugas Covid-19, grafik penyebaran masih belum melandai. Bahkan, tingkat kematian di Indonesia juga terhitung sebagai salah satu yang tertinggi dibanding rata-rata negara di dunia.
"Saya melihat itu sih ngeri ya, artinya kalau saya beranggapan itu sangat berbahaya, risiko terlampau besar untuk membuka sekolah, di sini yan kena bahaya juga guru, bukan anak-anak saja," terangnya.
Bahkan, dengan belajar di sekolah, orang tua pun berpotensi tertular virus dari sang anak yang mungkin saja merupakan orang tanpa gejala (OTG). Jadi, menurut dia, kebijakan ini adalah suatu tindakan yang aneh.
"Padahal pemerintah kan punya tugas melindungi seluruh tumpah darah Indonesia, di konstitusi kita kan jelas itu. Dengan memaksakan masuk di zona kuning ini, ada apa," pungkasnya.
Sebelumnya, Mendikbud Nadiem Makarim membeberkan alasan pembukaan sekolah kuning. Di mana salah satunya adalah adanya penurunan capaian pembelajaran. Bahkan, dengan adanya itu, Indonesia berpotensi memiliki tingkat lost generation (perbedaan kemampuan di satu generasi) yang lebih tinggi.
“Kesenjangan kualitas antara yang punya akses teknologi dan yang tidak, itu jadi semakin besar. Dan kita beresiko punya generasi dengan Learning Loss. Di mana akan ada dampak permanen dalam generasi kita, terutama bagi yang lebih muda jenjangnya,” tutur dia, Jumat (7/8).
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=6l3ne-DM0_s
https://www.youtube.com/watch?v=MlLlFBcsqBM
https://www.youtube.com/watch?v=NuSZjiXAg8U

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
