Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Oktober 2019 | 03.43 WIB

Maspupah Ceritakan Momen Terakhirnya dengan Yadi Sebelum Tewas

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Meninggalnya Maulana Suryadi, 23, dalam kerusuhan di Slipi, Jakarta Barat, Rabu (25/9) lalu masih menyisakan kontroversi. Pihak keluarga mencium adanya kejanggalan dalam kasus ini. Keluarga menduga Yadi meninggal bukan karena sesak nafas maupun gas air mata seperti yang dinyatakan polisi.

Ibunda Yadi, Maspupah, 49, menceritakan bahwa keanehan ini sudah nampak sejak dia dan beberapa keluarga lainnya dijemput polisi untuk melihat jenazah Yadi di rumah sakit, pada Kamis (26/9). "Itu dua mobil, ada delapan orang polisi, ke rumah ngabarin bilang 'Bu sabar ya Bu Maulana Suryadi udah enggak ada'. Saya langsung merasa nyesak sampai nangis," kata Maspupah.

Salah satu anggota polisi kemudian menanyakan apakah Yadi memiliki riwayat sakit. Maspupah kemudian menjawab jujur bahwa anaknya pernah menderita asma meskipun sudah lama, dan tak pernah kambuh lagi.

Maspupah memastikan kondisi anaknya dalam keadaan sehat saat berpamitan berangkat akan mengikuti demo. Keanehan berlanjut ketika di tengah perjalanan menuju RS Polri Kramatjati, polisi yang menjemput berhenti di sebuah rumah makan. Maspupah beserta keluarga juga sempat ditawari makan bersama, namun menolak.

"Adiknya (Yadi, Red) itu curiga, kok abang gue meninggal polisi malah sempat-sempatnya ngajak makan. Saya bilang jangan suka suudzon sama orang. Pokoknya lihat dulu keadaan abang," imbuhnya.

Setibanya di RS Polri, Maspupah dikejutkan dengan kondisi jenazah Yadi yang penuh luka bengkak pada bagian pipi. "Saya sendiri sempat nanya ke anak saya itu Yadi apa bukan sih? Mukanya udah beda," ungkapnya.

Selain itu, Maspupah juga melihat telinga kiri Yadi mengeluarkan darah. Dia pun sempat mempertanyakan hal ini kepada polisi. Namun, karena rasa cemas, dia langsung menyudahi pembicaraan di rumah sakit, dan memilih segera mengurus jenazah Yadi.

Setelah itu, polisi meminta Maspupah membuat surat pernyataan kematian Yadi. "Polisi itu ngomong dan suruh anak saya nulis bahwa Maulana Suryadi meninggal karena penyakit asma dan gas air mata," imbuhnya.

Setelah surat pernyataan dibuat, polisi memberikan amplop berisi uang Rp 10 juta. Pemberian dilakukan salah satu ruangan rumah sakit. Maspupah pun terkejut dengan pemberian uang tersebut. "Kata dia, ini buat ngurus jenazah anak ibu," jelas Maspupah.

Uang itu pun diterima. Meskipun masih penasaran penyebab kematian Yadi, Maspupah mengaku sudah mengikhlaskan kepergian anaknya.

Meski menemui sejumlah kejanggalan, Maspupah memastikan tidak akan menempuh jalur hukum. Dia hanya ingin mengetahui penyebab Yadi meninggal.

"Saya udah ikhlas ditinggal anak. Tapi kalau anak saya digebukin sampai meninggal saya nggak terima dunia dan akhirat," sambungnya.

Apabila memang Yadi meninggal akibat tindakan aparat, Maspupah meminta kepolisian bertanggungjawab lebih jauh karena Yadi memiliki dua anak yang masih sangat kecil. Kehilangan sosok ayah sebagai tulang punggung keluarga tentu menjadi pukulan besar bagi keluarga Yadi. "Tanggung (pendidikan, Red) anaknya (Yadi, Red) sampai dewasa. Anaknya dua, umur 4 tahun dan 2 tahun," tegasnya.

Saking terpukulnya keluarga atas kehilangan ini, Maspupah masih terngiang-ngiang momen terakhirnya bersama Yadi. Dia begitu ingat terakhir kali bertemu dengan anaknya pada Rabu (25/9) malam pukul 20.00. Saat itu Yadi baru pulang setelah menjadi juru parkir di Blok F Pasar Tanah Abang.

Sontak di tengah tidur lelapnya, Maspupah terbangun ketika Yadi tiba-tiba memijit dia tanpa diminta. "Nggak biasanya dia begitu. Saya sempat nyeletuk, 'Pasti ini ada maunya, nanti minta upah deh'. Terus dia bilang 'Nggak, ibu pasti kecapekan kan'" kata Maspupah menirukan kata-kata Yadi.

Tak seperti biasanya, Yadi bahkan sempat meminta maaf sebanyak dua kali. Padahal saat itu, Yadi tak berbuat salah apapun. Keanehan mulai dirasa Maspupah. Namun, ia tidak berburuk sangka.

Matanya langsung tertuju ke arah tas anaknya. Yadi kemudian menjawab akan ikut demonstrasi di sekitar gedung DPR RI. Maspupah sempat melarang, namun tak berhasil mencegah kepergian anaknya. "Mau ngapain ikut demo ntar celaka, udah saya larang itu," tuturnya.

Sebelum menuju area demo, Yadi juga sempat menemui bibinya, Ningsih. Dia meminta uang Rp 10 ribu untuk bekal demo. Yadi juga sempat makan terlebih dahulu.

Selanjutnya, Yadi berangkat bersama Aldo, 15, ke lokasi demo menaiki sepeda motor. Itu menjadi pertemuan terakhir antara Maspupah dengan Yadi. Keesokan harinya, Maspupah tak lagi melihat anaknya di lokasi parkir Blok F Tanah Abang.

Saat itu, dia tak langsung curiga. Maspupah masih berusaha berfikir jernih. Tak ada firasat buruk apapun. Dia bahkan sempat mengira Yadi tengah menjalani kerja sampingannya sebagai kuli panggul setiap hari Kamis, di pasar Tasik.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian membenarkan adanya satu korban jiwa dalam kerusuhan pelajar di sekitar gedung DPR/MPR RI Senayan, Jakarta, Rabu (25/9). Namun, dia memastikan korban meninggal bukan dari kelompok pelajar maupun mahasiswa.

"Tidak ada pelajar atau mahasiswa yang saya ketahui itu yang meninggal dunia dalam bentrok atau dalam demo yang damai di sekitar DPR," ujar Tito di kantor Kemenko Polhukam Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (26/9) lalu.

Tito menjelaskan, korban tewas terjadi saat kerusuhan di daerah Slipi. Dia merupakan masyarakat yang diduga sebagai perusuh. Massa ini yang membakar pos polisi serta merusak kendaraan dan memblokade jalan.

Selain itu, korban meninggal bukan karena terkena tembakan maupun penganiayaan. Mulanya korban pingsan saat kerusuhan berlangsung. Kemudian sempat dilarikan ke Rumah Sakit Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono juga membatantah ada tanda-tanda kekerasan di jenazah Yadi. "Ibu kandung almarhum atas nama Maspupah datang ke RS Polri melihat jenasah anaknya untuk di bawa pulang. Ibu kandung melihat sendiri jenasah anaknya, dan melihat tidak ada tanda-tanda kekerasan apapun," ujar Argo kepada wartawan, Jumat (4/10) kemarin.

Kepada polisi, Maspupah mengakui anaknya memiliki riwayat sesak napas. Atas dasar itu pula, keluarga korban menolak jenazah dilakukan otopsi. "Ada pernyataan ditandatangani di atas materai 6.000," tegas Argo.

Di sisi lain, Argo membenarkan jika polisi memberikan uang senilai Rp 10 juta kepada Maspupah. Namun, uang tersebut hanya bentuk duka cita. "Kalau misalnya seseorang turut berduka, boleh atau tidak (memberikan uang, Red)? Ya boleh ya," terangnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore