
Unggahan Instagram Redho Tri Agustian, mahasiswa UMY hilang korban mutilasi Sleman (Instagram Redho Tri Agustian)
JawaPos.com - Fakta baru kasus mutilasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Redho Tri Agustian, satu per satu muncul. Hal ini membuat motif meninggalnya Redho sedikit demi sedikit terkuak. Dan, sekaligus mulai menghapus stigma yang muncul di masyarakat bahwa Redho termasuk dalam komunitas menyimpang atau LGBT.
Sebelumnya, pihak kepolisian mengatakan bahwa Redho bergabung dengan komunitas tak wajar. Disebutkan bahwa ketiganya merupakan anggota sebuah komunitas yang memiliki grup media sosial Facebook. Karena sama-sama menjadi anggota komunitas tersebut, Redho, dan dua pelaku mutilasi yakni Waliyin dan RD akhirnya kerap berinteraksi.
Mereka kemudian berkumpul di lokasi atau indekos salah satu pelaku yakni Waliyin di wilayah Krapyak, Triharjo, Kabupaten Sleman. Korban dan pelaku yang tergabung dalam komunitas tidak wajar kemudian melakukan aktivitas kekerasan satu sama lain secara berlebihan. Akibat aktivitas itu, Redho meninggal dunia. Waliyin dan RD yang panik lantas memutilasi tubuh Redho untuk menghilangkan jejak.
Sebelumnya, pihak Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengungkap informasi aktivitas keseharian Redho di kampus. Wakil Rektor V Bidang Kerja Sama dan Internasional UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc, mengungkapkan Redho adalah mahasiswa UMY penerima dana hibah penelitian mahasiswa, program dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbudristek Republik Indonesia Tahun 2023. Topik penelitian yang diajukan oleh almarhum adalah mengenai perilaku menyimpang kaum gay (LGBT). Penelitian itu mengharuskan korban mengumpulkan data primer dengan berinteraksi dan memasuki kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan kelompok LGBT.
Informasi yang didapat Prof. Achmad Nurmandi bahwa almarhum Redho Tri Agustian mencoba memasuki kelompok atau Individu yang terlibat LGBT melalui media sosial Facebook. "Dari fakta-fakta tersebut bisa diyakini bahwa isu-isu miring mengenai almarhum saat ini bisa dikatakan tidak benar," tegas Prof. Achmad Nurmandi.
Hal yang makin menguatkan bahwa Redho bukanlah LGBT seperti yang beredar di masyarakat diungkap oleh pihak kuasa hukum keluarga almarhum. Salah satu kuasa hukum keluarga Redho, Dr. King Faisal Sulaiman, S.H., LLM, mengatakan bahwa almarhum diduga kuat menjadi kontributor freelance salah satu radio lokal di Pangkalpinang untuk berita mengenai aktivitas kelompok LGBT di Jogjakarta.
Dr. King Faisal Sulaiman, S.H., LLM, salah satu kuasa hukum keluarga Redho Tri Agustian.
"Hasil investigasi awal, interview dengan beberapa saksi yang dekat dengan korban (Redho), korban ini diduga kuat menjadi kontributor freelance salah satu radio lokal di Pangkalpinang. Dia diminta menjadi kontributor untuk berita mengenai kelompok LGBT di Jogja dan meneliti aktivitas mereka," sebut King Faisal Sulaiman yang juga Direktur Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum Fakultas Hukum UMY kepada JawaPos.com.
"Ini berdasarkan testimoni atau pengakuan dari salah satu teman korban yang sehari sebelum korban meninggal sempat berkomunikasi," imbuhnya.
"Menurut teman korban ini, awal dia mendalami kehidupan komunitas LGBT, kuat dugaan karena dia pernah ditawari kontributor freelance salah satu radio lokal di Pangkalpinang untuk menyuplai informasi atau berita mengenai dinamika komunitas atau kelompok LGBT di Jogja," sebut King Faisal Sulaiman.
King Faisal Sulaiman menambahkan, korban menerima tawaran jadi kontributor karena mungkin dapat imbalan dalam bentuk fee. "Soal fee per berita masih kami dalami, artinya belum bisa kami simpulkan. Ada dugaan kuat dia dibayar juga untuk berita, setiap berita Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Kami kroscek data dengan keluarga korban. Kakak korban juga dalam proses mendalami. Kami minta juga lacak rekening koran korban apakah ada transfer. Ini menjadi investigasi kami dan bisa menjadi bukti petunjuk baru," ungkapnya.
King Faisal Sulaiman juga mengiyakan bahwa ada titik relasi antara penelitian dari kampus dengan tawaran jadi kontributor freelance. "Soal hibah penelitian murni dari pihak kampus karena bukan hanya mahasiwa UMY saja, tapi seluruh indonesia. Mungkin topik dari riset yang diajukan Redho berkaitan dengan dunia komunitas menyimpang atau LGBT. Kemudian terpilih dan mendapatkan dana hibah penelitian," sebut King Faisal.
"Menariknya ada tawaran dari radio, sehingga ada titik relasi. Artinya Redho juga tertarik dengan isu komunitas LGBT dan kebetulan juga mendapatkan tugas penelitian. Dia harus menggali mendapatkan data primer dan harus masuk mewawancarai dan berinteraksi langsung. Hal ini kurang lebih sama atau saling terkait dalam kapasitas dia sebagai kontributor freelance radio lokal di Pangkalpinang yang mengharuskan dia terjun langsung di komunitas menyimpang untuk mendapatkan berita yang berkaitan," beber King Faisal.
"Bagi saya ini rangkaian keterkaitan karena objeknya sama yakni dana hibah penelitian dan ada tawaran kontributor freelance dari radio lokal," pungkas King Faisal.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Link Live Streaming PSG vs Arsenal Malam Ini Final Liga Champions, Siaran Langsung Jam Berapa dan Tayang di TV Mana?
3 Calon Pelatih Liverpool Musim Depan, Semua Masih Muda dan Bertalenta!
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
Bicara Kartu Merah: Arema FC Paling Brutal, Semua Perlu Belajar dari Borneo FC!
Berikut 3 Bek yang Dirumorkan Merapat ke Persebaya Surabaya! Ada Yusuf Meilana Hingga Bek Tengah Brasil
Prediksi Final Liga Champions 2026: PSG vs Arsenal, Les Parisiens Diunggulkan, The Gunners Butuh Keajaiban
Persib Bandung Ungkap Penyebab Masuk Daftar Banned FIFA, Bukan Tunggakan Gaji!
