Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Juli 2023 | 01.40 WIB

Korban Redho Tri Agustian dan Pelaku Mutilasi Sleman Tergabung Komunitas Tak Wajar, Kriminolog Duga Sadistik

2 pelaku mutilasi Sleman ditangkap Polda DIJ dalam pelariannya di Bogor, Jawa Barat. (Radar Jogja) - Image

2 pelaku mutilasi Sleman ditangkap Polda DIJ dalam pelariannya di Bogor, Jawa Barat. (Radar Jogja)

JawaPos.com - Polisi mengungkapkan bahwa korban mutilasi R, 20 dan dua pelaku W, 29, dan RD, 38, tergabung dalam komunitas yang tak wajar. Dalam komunitas itu, terdapat aktivitas kekerasan yang dilakukan para pelaku dan korban hingga akhirnya salah seorang di antaranya meninggal dunia.

Belum ada keterangan pasti komunitas tak wajar yang dimaksud kepolisian tersebut. Menurut Sosiolog Kriminalitas purna Universitas Gadjah Mada (UGM) Soeprapto, bisa jadi adalah komunitas yang mencari kenyamanan dengan cara kekerasan atau perilaku sadistik.
 
"Jadi andaikata dia merupakan anggota dari komunitas yang memiliki hobi melakukan kekerasan, biasanya kekerasan itu pun dilakukan untuk menciptakan rasa nyaman," ujarnya saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (20/7).
 
"Karena mereka termasuk secara psikologis orang yang memiliki sifat sadisme. Kepuasan ketika melakukan tindakan-tindakan menyakiti," imbuh Soeprapto.
 
 
Ia memisalkan bahwa dalam komunitas itu, bisa jadi seperti halnya saat melihat kucing yang saling bertengkar, padahal sebetulnya tidak. Terlihat menggigit, tetapi sebenarnya tidak menggigit sungguhan, melainkan untuk kenikmatan. 
 
 
"Tindakan menyakiti itu akan bermuara atau diusahakan untuk saling menciptakan rasa nyaman, baik yang disakiti maupun yang menyakiti," ungkapnya.
 
Dalam prakteknya, komunitas yang menyukai kekerasa tersebut bisa jadi melakukan menutup hidung lawan main hingga engap selama beberapa detik, kemudian dilepaskan kembali.
 
"Tersiksa itu membuat kenyamanan bagi orang-orang yang memiliki sifat sadisme atau sadistik itu," terangnya.
 
"Jadi kalau misalnya sampai menyebabkan kematian, tentu ada motif lain. Apakah karena tadi ada karena kecemburuan, dia merasa tersaingi atau dia merasa takut kehilangan," pungkas Soeprapto.
 
Sebelumnya, Dirreskrimum Polda DIY, Kombes Pol FX Endriadi mengungkapkan antara korban dan pelaku saling kenal. Mereka tergabung dalam satu komunitas tidak wajar di media sosial.
 
Penyidik akan melakukan digital forensik pada media sosial pelaku untuk mendalami chat atau obrolan di media sosial. Diketahui bahwa antara pelaku dan korban terlibat dalam grup tidak wajar atau menyimpang di media sosial.
 
"Polisi tengah mendalami obrolan melalui digital forensik. Polisi akan mendalami obrolan chat di aplikasi Whatsapp maupun media sosial yang menjadi wadah para pelaku dan korban tergabung," ungkap Dirreskrimum Polda DIY, Kombes Pol FX Endriadi seperti dikutip Fajar (Jawa Pos Grup), Rabu (19/7).
Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore