Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 Maret 2019 | 23.19 WIB

Fenomena Caleg Cabul di Sumbar, Pengamat: Parpol Tidak Selektif

Pengamat Politik Sumbar Asrinaldi - Image

Pengamat Politik Sumbar Asrinaldi

JawaPos.com - Berbagai kasus yang menyeret calon legislatif (caleg) di Sumatera Barat (Sumbar) menyita perhatian publik. Tidak saja soal korupsi, utang-piutang, kasus bunuh diri dan dugaan perbuatan cabul pun meyeret nama sejumlah caleg.


Dari rangkuman JawaPos.com, sedikitnya ada tiga kasus yang membuncah masyarakat dan itu terjadi dalam masa menyonsong Pemilu April 2019. Pertama, kasus bunuh diri yang dilakukan oleh oknum caleg partai Gerindra si Kabupaten Pesisir Selatan pada awal Februari lalu. Caleg ini diduga depresi dan memilih mengakhiri hidupnya dengan tali gantungan di rumah sendiri.


Lalu, di pertengahan Februari, tepatnya Selasa (19/2), seorang oknum caleg berinisial YR dari Partai Bulan Bintang (PBB) Dapil Kota Padang juga diringkus jajaran Polresta Padang. Oknum ini diduga mencabuli dua bocah kakak beradik di kawasan Kecamatan Padang Utara.


Baru-baru ini, publik kembali dikejutkan dengan pelaporan dugaan perbuatan cabul yang dilakukan oknum Caleg asal PKS di Pasaman Barat. Menurut laporan, Caleg yang kabur itu diduga telah mencabuli anaknya selama 14 tahun.


Pengamat Politik Sumbar Asrinaldi mengatakan, peristiwa yang menyeret sejumlah Caleg tersebut tidak lepas dari peran partai politik (parpol) dalam melakukan perekrutan.


"Salah parpol. Tidak selektif dalam menominasikan Caleg. Parpol tidak punya mekanisme jelas dalam merekrut Caleg. Terutama di daerah," kata Asrinaldi saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (13/3).


Menurut Doktor Politik itu, parpol harusnya mampu menyaring ketat orang-orang yang akan diikutkan dalam kontestasi politik. Apalagi, di daerah sangat mencari orang yang berminat kegiatan politik.


"Akibatnya, yang didapat (Caleg) yang memang tidak memiliki integritas moral dan kapasitas sebagai calon wakil rakyat," tegasnya.


Untuk mendapatkan Caleg berkualitas, parpol mesti melaksanakan fungsinya sebagai wadah pendidikan politik. Misalnya, memberikan sosialisasi politik rutin kepada masyarakat.


"Sekarang masyarakat seolah-olah dibiarkan dengan keadaan seperti ini dan belajar (politik) sendiri. Tentu masalah ini berdampak pada rekrutmen politik (Caleg)," tutup pengajar Universitas Andalas (Unand). 

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore