
Kemendikbud berencana menghapus penerimaan peserta didik baru (PPDB) untuk tahun ajaran baru. Ke depan sekolah dituntut untuk lebih aktif mencari sistem berdasarkan sistem zonasi.
JawaPos.com - Bila pendaftar SMA memilih mendaftar online mandiri, sebaliknya pendaftar SMK justru menggeruduk ke sekolah tujuan. Hari pertama pendaftaran Senin lalu, SMKN 6 Surakarta melayani 400 pendaftar yang mendaftar online di sekolah setempat. Hari kedua, lebih sedikit, hanya sekitar 100 pendaftar saja.
“Sekitar 90 persen pendaftar memilih datang ke sekolah untuk mendaftar online. Mereka lebih mantap kalau daftar di sekolah langsung. Ada juga pendaftar datang ke sekolah karena belum paham prosedurnya. Tapi ada juga yang mendaftar online mandiri,” beber Ketua PPDB SMKN 6, Danang Eko Sutrisno kepada Radar Solo (Jawa Pos Group), Rabu (3/7).
Danang menyebut pendaftaran online dalam PPDB SMK jauh lebih kondusif ketimbang PPDB SMA. Lantaran tidak menerapkan sistem zonasi, pendaftar PPDB SMK tidak perlu berebut dan beradu cepat seperti pendaftar PPDB SMA. Sehingga tidak ada ceritanya pendaftar PPDB SMK mendaftar online tengah malam sesaat website dibuka.
“Ya, ada satu dua anak yang tengah malam daftar. Tapi sebenarnya pendaftar SMK tidak perlu banyak pertimbangan. Karena kan tinggal memantau nilainya saja. Kalau kira-kira tidak masuk ya diganti ke jurusan lain,” jelas Danang.
Hari kedua pendaftaran, Danang mencatat ada sekitar 20 pendaftar yang datang kembali ke sekolah untuk mengubah pilihannya lantaran nilainya tidak memenuhi. Mayoritas tetap mendaftar di sekolah tersebut hanya memindah jurusan lain yang kuotanya masih longgar.
“Tadi (kemarin) juga ada pendaftar SMA yang datang ke sekolah. Ada 10 anak ingin daftar ke sini. Karena di SMA sudah tidak bisa, sudah terlempar di mana-mana. Tapi kami tegaskan itu tidak bisa karena sistemnya pun berbeda antara SMA dan SMK,” ungkapnya.
Kondisi serupa terjadi di SMKN 2 Surakarta. Hari pertama pendaftaran, sekolah tersebut melayani 883 pendaftar yang mendaftar online di sekolah setempat. Ketua PPDB SMKN 2 Andi Mustofa mengklaim proses pendaftaran di sekolahnya berjalan lancar dan minim kendala.
“Ketika ada siswa ingin daftar ke sini tapi nilainya tidak memenuhi, maka mau tidak mau harus pindah ke SMK lainnya. Nah, kami beri pilihan ke anak, kami tawarkan untuk dibantu pindah pilihan ke mana. Kami bimbing pendaftar untuk mengubah pilihan,” jelasnya.
Menurutnya, mayoritas pendaftar masih belum memahami cara dan prosedur mengubah pilihan jurusan atau sekolah jika nilai yang dimilikinya tidak memenuhi. Itulah alasannya banyak pendaftar yang memilih datang ke sekolah untuk mendaftar online.
“Dan juga merasa lebih yakin dan mantap kalau datang ke sekolah langsung. Bisa sekalian konsultasi apa yang menjadi kebingungan mereka,” tandasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
