
ILUSTRASI. (BAGUS/JAWA POS)
Oleh FAHRUDDIN FAIZ
---
Malek Bennabi, seorang filsuf muslim asal Aljazair, suatu ketika menyatakan bahwa kondisi masyarakat yang terbelakang itu bukanlah karena kekurangan kebendaan, tetapi karena kemiskinan ide.
MENURUT beliau, kesalahan negara-negara berkembang secara umum saat mengejar ketertinggalannya adalah lebih fokus kepada kebendaan, yakni fokus kepada apa yang harus dimiliki atau dikuasai dan melupakan pengembangan ide dan pemikiran yang membawa kepada perubahan dan kemajuan.
Pada akhirnya, yang terlahir dari fokus kebendaan ini adalah mental konsumtif. Kemajuan diartikan memiliki ”benda-benda”, lalu mengimpor komoditas material dipandang sebagai solusi. Dengan solusi konsumsi ini, ketergantungan semakin besar dan daya produksi, kreasi, dan inovasi semakin mengecil.
Peradaban bermula dari kebudayaan dan kebudayaan adalah hasil dari kerja akal budi manusia. Setiap perubahan dan perkembangan pasti berawal dari ide dan gagasan. Ringkasnya, daya pikir yang sehat, kritis, dan kreatif adalah kunci peradaban.
Di sisi lain, keberadaan manusia di muka bumi ini dikenal dengan ciri spesifiknya sebagai ”binatang yang berpikir”, hayawan al-natiq. Oleh karena itu, sebenarnya dorongan untuk berpikir dan mendayagunakan akal ini tidak harus dicari ke mana-mana karena tuntutan alamiah dalam diri manusia itu sendiri sudah mengarah ke sana, kecuali memang ada mental, ideologi, atau struktur sosial-politik yang menghambatnya.
Anugerah yang Mendapat Stigma
Kemampuan berpikir ini tentu saja merupakan anugerah yang luar biasa dari Tuhan kepada manusia. Meskipun demikian, dalam praksis kesehariannya, oleh berbagai faktor dan alasan, banyak orang yang masih menempelkan stigma-stigma negatif kepada aktivitas berakal budi ini. Stigma-stigma ini pada akhirnya menghalangi lahirnya peradaban ide dan melanggengkan peradaban kebendaan.
Di antara stigma yang dimaksud, misalnya, ada yang memandang akal itu terbatas karena banyak hal di alam semesta ini yang tidak dapat dijelaskan dengan akal belaka. Realitas itu sangat kompleks dan misterius sehingga akal saja tidak memadai untuk memahami alam semesta.
Ada juga yang menganggap akal tidak mampu menangani aspek emosional dan spiritual manusia. Emosi dan keyakinan akan memberikan panduan yang lebih kuat dalam kehidupan sehari-hari daripada pemikiran rasional. Akal juga sering dipandang tidak dapat menjadi panduan yang baik dalam hal etika dan moral.
Bahkan ada pula pesimisme bahwa akal dapat membawa kepada kesombongan intelektual. Orang-orang pandai itu cenderung sombong karena merasa superior dan cenderung mengabaikan nilai-nilai keutamaan seperti kerendahan hati dan empati.
Pandangan-pandangan di atas tentu saja dapat panjang lebar diurai dan diperdebatkan, namun bukankah munculnya pandangan-pandangan seperti itu juga bermula dari berpikir menggunakan akal? Di sisi lain, stigma-stigma tersebut apabila ditelaah lebih dalam sebenarnya berkaitan dengan penggunaan akal yang benar, baik, dan tepat, bukan dalam aspek tidak perlunya menggunakan akal.
Jawaban dari stigma-stigma tersebut adalah dengan menegaskan perbedaan antara penggunaan akal yang sekadar akrobat intelektual dan intellectual bullying dengan penggunaan akal yang sehat. Akal sehat adalah kemampuan alami manusia untuk membuat keputusan yang logis, bijaksana, tidak abai nilai, dan berdimensi praksis, sesuai problem dan masalah yang dihadapi sehari-hari. Dalam istilah yang berbeda dapat dikatakan akal sehat itulah filsafat, philo-sophia, cinta kebijaksanaan.
Malfunction Pendayagunaan Akal

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
