DITEMPA: Jawa Pos menjadi kawah candradimuka bagi Ahmad Khoirul Umam. Dia sempat menjadi jurnalis di Jawa Pos sebelum berkarier di dunia akademik. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)
Catatan Direktur Eksekutif Indostrategic Jakarta
Tempaan khas redaksi Jawa Pos memperkuat karakter Umam, sapaan akrabnya, dalam menekuni profesi sebagai akademisi. Doktor lulusan School of Political Science & International Studies, The University of Queensland, Australia, itu kini menjadi pakar politik di Institute for Democracy & Strategic Affairs (Indostrategic) Jakarta.
AGUS DWI PRASETYO, Jakarta
---
Jawa Pos bukan sekadar nama besar redaksi media, tetapi juga kawah candradimuka. Yang menempa saya untuk berlatih berpikir kritis, sistematis, faktual, namun tetap membumi. Redaksi Jawa Pos memiliki corak dan karakter yang berbeda dari media lain.
Selain memburu kebaharuan (novelty), Jawa Pos selalu mencoba ”njawani”. Dengan menggunakan pola penulisan yang membumi, memahamkan, dan tidak memaksa pembacanya untuk ”mengernyitkan dahi” dalam memahami setiap penjelasan isu-isu yang kompleks. Jenis-jenis artikel ”karkas” atau karangan khas, yang mampu mengulik sisi lain di balik fakta, yang sering kali luput dari perhatian media lain, juga sering menjadi keunggulan Jawa Pos.
Ketelatenan para redaktur senior untuk mendidik dan mengawal para jurnalis muda terbukti mampu mempertahankan corak karakter itu dengan baik. Hal tersebut menandakan bahwa proses transfer of knowledge and journalistic style Jawa Pos bisa dijalankan secara berkelanjutan.
Bagi saya pribadi, pernah menjadi bagian dari redaksi Jawa Pos bukan hanya sebuah kehormatan, tetapi juga keberuntungan besar. Karena saya ditempa oleh redaksi untuk menjalankan liputan lapangan setiap hari, ”dipaksa” menulis sekian banyak angle berita dengan fokus yang berbeda-beda. Itu membuat daya tahan dan daya saing saya terus berkembang.
Hal tersebut sangat saya rasakan ketika saya kemudian ”hijrah” ke dunia akademik. Kemampuan menulis yang diajarkan Jawa Pos seolah menyelamatkan jalan hidup saya. Sense of journalism itu benar-benar memperkuat kapasitas akademik kita.
Kita jadi bisa memilah mana penulisan yang jelas, tegas, impactful, influential, atau mana tulisan yang kering. Atau bahkan tulisan yang seolah melangit, tapi terjebak dalam logika-logika teori njelimet yang justru membuat pembaca menjadi kebingungan. Itu akibat ketidakmampuan kita dalam menerjemahkan data dan makna.
Terakhir, Jawa Pos juga mengajarkan kepada saya pentingnya dunia jurnalistik. Terutama untuk mempertahankan aspek kritisisme untuk ikut menjaga pilar-pilar demokrasi, kebebasan sipil, dan antikorupsi.
Karakter kritis ini akan tetap menjaga roh jurnalisme tetap hidup dan menghadirkan dampak signifikan terhadap arah politik kebangsaan. Juga pada agenda pembangunan tata kelola pemerintahan yang baik, transparan, dan akuntabel.
Di tengah kerja-kerja jurnalisme yang mulai banyak terjebak dalam pragmatisme, saya berharap Jawa Pos bisa tetap istiqamah. Khususnya dalam menjaga corak, karakter, dan nilai-nilai jurnalisme yang kritis, faktual, dan mencerahkan. Selamat ulang tahun yang ke-75 untuk Jawa Pos. Semoga semakin mencerahkan dan impactful! Salam, Ahmad Khoirul Umam. (*/c9/byu)

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Swedia dan Tunisia di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Jerman vs Curacao di Piala Dunia 2026: Der Panzer Siap Menggila di Laga Perdana
MUI Minta Pelaku dan Pengkampanye LGBTQ Bisa Dipidana, Lebih Berat dari Pasal Perzinaan
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Prediksi Skor Haiti vs Skotlandia di Piala Dunia 2026: The Tartan Army Bisa Menang Besar!
