Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 Juli 2024 | 18.00 WIB

Menjelajahi Kawasan Heritage Peneleh: Dari Jejak Era Majapahit, Rumah Lahir Bung Karno, hingga H.O.S. Tjokroaminoto

ANTUSIAS: Pengunjung melihat dokumentasi sejarah kelahiran Bung Karno di Kampung Pandean, Peneleh, Surabaya, Kamis (20/6). (DIPTA WAHYU/JAWA POS) - Image

ANTUSIAS: Pengunjung melihat dokumentasi sejarah kelahiran Bung Karno di Kampung Pandean, Peneleh, Surabaya, Kamis (20/6). (DIPTA WAHYU/JAWA POS)

”Saja dilahirkan di Soerabaja, jadi saja arek Soerabaja.” Itulah penggalan pidato Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno saat menerima penghargaan doktor honoris causa di Universitas Padjadjaran pada 1964. Berpuluh-puluh tahun kemudian, baru terdeteksi bahwa tempat lahir Bung Karno itu berada di Jalan Pandean IV No 40, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya. Rumah itu melengkapi kawasan historis Peneleh.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

---

Sejarah trah keluarga putra pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai itu tergambar jelas di rumah 60 meter persegu tersebut. Dindingnya penuh penjelasan informatif. Mulai jejak ayahnya menjadi seorang guru hingga bertemu dengan ibunda. Kemudian, perjalanan pindah di kawasan Peneleh antara 1898–1901.

”Memang kami ingin rumah lahir Bung Karno itu sangat informatif, tapi mudah dipahami. Karena itu, di dalamnya dikemas dengan gaya infografis yang sederhana, tapi pesannya dapat,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga, serta Pariwisata (DKKORP) Surabaya Hidayat Syah.

Instalasi cahaya dan teknologi artificial intelligence dipasang di rumah tersebut. Misalnya, di salah satu kamar ada kursi merah. Kalau orang duduk di sana, akan keluar animasi yang informatif tentang Bung Karno. ”Muncul itu di televisi yang ada di dinding,” katanya.

Rumah kelahiran Bung Karno itu menjadi bagian utuh dari konsep kawasan heritage Peneleh. Sebab, tidak jauh dari lokasi itu juga ada peninggalan cagar budaya dari kampung yang diduga berkembang sejak 1275 tersebut. Misalnya, sumur jobong di Jalan Pandean I yang disebut peninggalan era Majapahit. Sebab, ditemukan tulang dari 1 laki-laki dewasa, 3 perempuan, dan 1 bayi. ”Bersama peneliti, dilakukan uji karbon. Hasilnya, diperkirakan manusia itu hidup antara 1430–1608 dan 1640 Masehi,” ungkapnya.

Di Jalan Pandean Gang V, ada Langgar Dukur Kayu yang tercatat dibangun pada 1893. Namun, keberadaannya baru diketahui publik pada 2018.

Di Jalan Peneleh Gang VII, ada kediaman H.O.S. Tjokroaminoto yang menjadi rumah kos Bung Karno. Rumah yang eksis sejak 1912 itu menjadi tempat belajar tokoh republik seperti Semaoen, Musso, Alimin, dan Kartosoewirjo. Banyak siswa dari sekolah-sekolah Belanda yang tinggal di sana seperti Hoogere BurgerSchool (HBS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Middelbare Technische School (MTS), maupun Nederlandsch-Indische Artsenschool (NIAS).

Rumah itu memang disulap menjadi rumah keluarga Tjokroaminoto sekaligus kos dengan 10 kamar. Termasuk bagian loteng rumah. Apalagi, rumah tersebut memiliki arsitektur joglo. Atap tinggi memungkinkan bagian loteng menjadi kamar. Di loteng itulah, Soekarno dan lainnya tinggal.

Saat ini kawasan tersebut terus dikembangkan. Kawasan heritage itu memang semakin eksis. Banyak event yang sudah digelar untuk meramaikan kawasan itu. Kesan heritage yang kental menjadi daya tarik ampuh untuk menarik wisatawan lokal dan mancanegara.

”Termasuk wisatanya, ya. Di depan kawasan itu sudah ada dermaga. Jadi, pengunjung bisa naik perahu dari Taman Prestasi dan turun di sini untuk berwisata,” tuturnya. (*/c14/jun)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore