
ANTUSIAS: Pengunjung melihat dokumentasi sejarah kelahiran Bung Karno di Kampung Pandean, Peneleh, Surabaya, Kamis (20/6). (DIPTA WAHYU/JAWA POS)
”Saja dilahirkan di Soerabaja, jadi saja arek Soerabaja.” Itulah penggalan pidato Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno saat menerima penghargaan doktor honoris causa di Universitas Padjadjaran pada 1964. Berpuluh-puluh tahun kemudian, baru terdeteksi bahwa tempat lahir Bung Karno itu berada di Jalan Pandean IV No 40, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya. Rumah itu melengkapi kawasan historis Peneleh.
GALIH ADI PRASETYO, Surabaya
---
Sejarah trah keluarga putra pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai itu tergambar jelas di rumah 60 meter persegu tersebut. Dindingnya penuh penjelasan informatif. Mulai jejak ayahnya menjadi seorang guru hingga bertemu dengan ibunda. Kemudian, perjalanan pindah di kawasan Peneleh antara 1898–1901.
”Memang kami ingin rumah lahir Bung Karno itu sangat informatif, tapi mudah dipahami. Karena itu, di dalamnya dikemas dengan gaya infografis yang sederhana, tapi pesannya dapat,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga, serta Pariwisata (DKKORP) Surabaya Hidayat Syah.
Instalasi cahaya dan teknologi artificial intelligence dipasang di rumah tersebut. Misalnya, di salah satu kamar ada kursi merah. Kalau orang duduk di sana, akan keluar animasi yang informatif tentang Bung Karno. ”Muncul itu di televisi yang ada di dinding,” katanya.
Rumah kelahiran Bung Karno itu menjadi bagian utuh dari konsep kawasan heritage Peneleh. Sebab, tidak jauh dari lokasi itu juga ada peninggalan cagar budaya dari kampung yang diduga berkembang sejak 1275 tersebut. Misalnya, sumur jobong di Jalan Pandean I yang disebut peninggalan era Majapahit. Sebab, ditemukan tulang dari 1 laki-laki dewasa, 3 perempuan, dan 1 bayi. ”Bersama peneliti, dilakukan uji karbon. Hasilnya, diperkirakan manusia itu hidup antara 1430–1608 dan 1640 Masehi,” ungkapnya.
Di Jalan Pandean Gang V, ada Langgar Dukur Kayu yang tercatat dibangun pada 1893. Namun, keberadaannya baru diketahui publik pada 2018.
Di Jalan Peneleh Gang VII, ada kediaman H.O.S. Tjokroaminoto yang menjadi rumah kos Bung Karno. Rumah yang eksis sejak 1912 itu menjadi tempat belajar tokoh republik seperti Semaoen, Musso, Alimin, dan Kartosoewirjo. Banyak siswa dari sekolah-sekolah Belanda yang tinggal di sana seperti Hoogere BurgerSchool (HBS), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Middelbare Technische School (MTS), maupun Nederlandsch-Indische Artsenschool (NIAS).
Rumah itu memang disulap menjadi rumah keluarga Tjokroaminoto sekaligus kos dengan 10 kamar. Termasuk bagian loteng rumah. Apalagi, rumah tersebut memiliki arsitektur joglo. Atap tinggi memungkinkan bagian loteng menjadi kamar. Di loteng itulah, Soekarno dan lainnya tinggal.
Saat ini kawasan tersebut terus dikembangkan. Kawasan heritage itu memang semakin eksis. Banyak event yang sudah digelar untuk meramaikan kawasan itu. Kesan heritage yang kental menjadi daya tarik ampuh untuk menarik wisatawan lokal dan mancanegara.
”Termasuk wisatanya, ya. Di depan kawasan itu sudah ada dermaga. Jadi, pengunjung bisa naik perahu dari Taman Prestasi dan turun di sini untuk berwisata,” tuturnya. (*/c14/jun)

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Timnas Qatar vs Swiss di Piala Dunia 2026: The Maroons Terancam Gagal Start Sempurna
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Amerika Serikat vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Pembuktian Magis Christian Pulisic
Daftar Pemain Swedia dan Tunisia di Piala Dunia 2026
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Maroko: Vinicius Junior dan Achraf Hakimi Siap Saling Sikut di Piala Dunia
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Prediksi Skor Jerman vs Curacao di Piala Dunia 2026: Der Panzer Siap Menggila di Laga Perdana
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
