Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 Juli 2024 | 15.45 WIB

Di Umur 75

Goenawan Mohamad memberikan sambutan saat peluncuran buku Membaca Goenawan Mohamad di Komunitas Utan Kayu, Jakarta, Kamis (29/12/22). Dalam kesempatan itu, GM diusulkan oleh sejumlah kalangan untuk mendapatkan Nobel. FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS - Image

Goenawan Mohamad memberikan sambutan saat peluncuran buku Membaca Goenawan Mohamad di Komunitas Utan Kayu, Jakarta, Kamis (29/12/22). Dalam kesempatan itu, GM diusulkan oleh sejumlah kalangan untuk mendapatkan Nobel. FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS

Oleh GOENAWAN MOHAMAD, Komisaris Jawa Pos


PADA suatu hari di tahun 1982, saya menemani Pak Eric Samola ke Surabaya. Kami berdua dari Majalah Tempo. Eric Samola pemimpin umum, saya pemimpin redaksi. Manajemen Tempo telah memutuskan mengambil alih harian Djawa Post.

Koran Surabaya ini –di tahun 1982 itu sudah berumur tiga puluh tahun lebih– dalam keadaan setengah mati dan ditawarkan untuk dijual. Kami berminat. Kami berdua mewakili Tempo untuk berunding dengan The Chung Sen, pemilik harian Djawa Post.

Kami bertemu di rumah Pak The, di Pregolan. Di bagian depan rumah sederhana yang banyak dihiasi tanaman itu Pak The, berusia sekitar 80 tahun, tampak lemah dan pasif, dengan penyakit parkinson yang belum hilang. Yang aktif istrinya –dipanggil Tante The–seorang perempuan yang energetik, yang tampak telah jadi pendamping dan pengimbang suaminya. Pasangan itu tak berminat meneruskan usaha mereka lagi. Ketiga anak mereka, dua laki-laki dan satu perempuan, sudah meninggalkan rumah, hidup di London, dan tak tertarik hidup dalam bisnis media.

Djawa Post tampak seperti anak yatim piatu yang hidup letih.

Tapi koran ini punya sejarah yang panjang. The Chung Sen adalah pendiri Jawa Pos. Saya tak mendalami riwayat hidup tokoh ini. Ada sebuah tulisan yang mengatakan The Chung Sen, setelah berkenalan dengan dunia film –tapi detailnya tak jelas– tertarik untuk membuat surat kabar. Ia, kemudian juga dikenal sebagai Suseno Tedjo, adalah seorang pengusaha kelahiran Bangka. Ia pernah bekerja di salah satu kantor film di Surabaya. Tugasnya: menghubungi berbagai surat kabar memasang iklan film tepat pada waktunya. Sejak itu ia merasa ingin menerbitkan sendiri korannya.

Di pertengahan tahun 1940-an, di Surabaya terbit koran berbahasa Indonesia, Pewarta Soerabaia dan Trompet Masjarakat. Ketika melihat hanya ada satu koran berbahasa Mandarin, Tsing Kwang Daily Press. The Chung Sen pun mendirikan koran Hua Chiao Hsin Wen.

Segera koran ini, disebut juga Chinese Daily News, jadi surat kabar berbahasa Tionghoa terbesar di Surabaya. Tak lama kemudian, tanggal 1 Juli 1949, ia terbitkan Djawa Post. Dalam perubahan ejaan Indonesia, koran ini jadi Jawa Post –lalu Jawa Pos.

Surabaya juga punya Surabaja Post, pertama kali terbit pada tahun 1953, didirikan oleh tokoh pers terkemuka, wartawan A. Azis, sebagai penerus surat kabar Soerabaiasch Handelsblad. Jawa Pos punya pesaing yang bagus.

Tapi nasib kedua koran ini tak bisa dikatakan stabil. Surabaya Post, yang pernah dilihat sebagai koran berwibawa dengan bisnis yang sukses –kantornya sebuah gedung megah di satu jalan utama di Surabaya– pernah berhenti terbit selama tiga bulan. Jawa Pos tidak lebih baik –hingga akhirnya The Chung Sen memutuskan untuk menjual Jawa Pos. Penerbit Tempo mengambil alihnya.

Tidak begitu mudah. Pemerintahan Orde Baru, dengan Harmoko sebagai pengontrol pers, tak mengizinkan Tempo menguasai 100%. Hanya boleh 40%. Alasan: jangan sampai ada penguasaan surat kabar oleh satu pemegang saham di Jakarta. Tapi juga Harmoko waswas jika Tempo –yang sejak mula tak begitu patuh dengan kontrol pemerintah–jadi sangat berpengaruh.

Eric Samola punya langkah yang pas untuk menghadapi hambatan ini. Ia meminta kami –teras pimpinan Tempo–membeli saham, hingga secara formal Tempo tidak menguasai Jawa Pos. Pimpinan Tempo juga tidak mengedrop ”orang Jakarta” ke Jawa Timur. Kami, dengan saran Yusril Djalinus –yang waktu itu menyupervisi operasi peliputan se-Indonesia mengangkat Dahlan Iskan untuk memimpin Jawa Pos.

Yusril orang yang tajam dalam menyeleksi tenaga jurnalis. Ia menilai Dahlan sangat tinggi: bukan saja penulis yang bagus, tapi juga pekerja keras, cepat, efektif, dan manajer biro yang berhasil. Saya sangat menyetujuinya. Nama Dahlan kami usulkan ke Pak Samola –yang kemudian bekerja, intandem, dengan Dahlan membawa Jawa Pos memasuki keberhasilan bisnis yang impresif.

Kedua tokoh ini entrepreneur yang penuh vitalitas. Tapi apa yang dicapai Jawa Pos tidak hanya secara bisnis. Saya tak pernah cawecawe secara kontinu dan telaten dalam produksi Jawa Pos, tapi merasa bersyukur bahwa koran ini –dengan segala kekurangannya– bisa jadi contoh media yang melintasi ”politik identitas” yang merusak persatuan bangsa berkali-kali.

Dahlan dengan bijaksana tak ”membersihkan” tenaga Jawa Pos lama. Dan ia dan kami beruntung, bahwa di antara yang lama itu sejak semula ada Wenny –kini komisaris utama– yang sangat bisa dipercaya, andal, dan tak kenal lelah. Didirikan oleh kalangan keturunan Tionghoa Surabaya, Jawa Pos menjadi koran yang bersemangat nasional: kalangan mana pun –etnis, agama, bahasa, daerah– bisa menganggap Jawa Pos bagian dari hidup mereka.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore