Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Januari 2023 | 23.48 WIB

Megaproyek Rumah Sakit dan Legasi Pak Wali

Photo - Image

Photo

RUMAH Sakit Umum Daerah (RSUD) Surabaya Timur akhirnya jadi dibangun tahun ini. Itu diputuskan dalam sidang paripurna di gedung dewan Selasa (27/12) lalu. Proyek penyediaan fasilitas kesehatan (faskes) di Kalirungkut itu memakan waktu dua tahun.

Kepastian pembangunan RSUD Surabaya Timur patut disambut bahagia. Sebab, itu adalah megaproyek pertama pascapandemi Covid-19. Lebih tepatnya yang digagas pimpinan daerah yang baru saat ini. Pagu anggarannya mencapai Rp 507 miliar. Seluruhnya ditanggung APBD.

Seingat saya, dua tahun terakhir, belum ada proyek besar yang dirancang pemkot. Wajah metropolis masih sama seperti yang dulu. Padahal, APBD Surabaya besar. Totalnya Rp 10,3 triliun. Terbesar di Jawa Timur.

Bandingkan dengan 10 tahun yang lalu, kala itu APBD Surabaya ”hanya” Rp 5 triliun. Meski kekuatan belanja daerah terbilang kecil, pemkot rajin membangun. Taman-taman kota ditambah dan dipercantik. Pemkot juga membangun tiga jembatan sekaligus: Jembatan Suroboyo, Jembatan Ujung Galuh, serta Jembatan Sawunggaling.

Jangan lupakan proyek frontage road (FR). Akses pendamping jalan arteri A. Yani itu berfungsi mengurai kepadatan di pintu masuk-keluar Surabaya. Dibangun di sisi timur dan barat memanjang hingga perbatasan Sidoarjo.

Belum lagi pembangunan berbagai museum. Seperti museum pendidikan dan olahraga. Ada pula pengerjaan lapangan tembak, gedung park and ride, serta Alun-Alun Surabaya di bagian bawah tanah. Warga Surabaya mendapatkan banyak warisan pembangunan fisik. Fasilitas semakin bertambah, kota ini semakin nyaman.

Fokus Sektor Ekonomi dan Kesejahteraan Warga


Sependek pengetahuan saya, sejak 2021, arah pembangunan pemkot mulai berubah. Tak lagi berfokus pada proyek infrastruktur yang besar-besar. Namun, lebih memprioritaskan pada perbaikan sektor ekonomi dan peningkatan kesejahteraan warga pascapandemi Covid-19. Sisi ekonomi memang harus dibangkitkan karena korona membuat warga kehilangan pekerjaan.

Itu terlihat dari beragam program kerja yang diusung oleh dinas-dinas. Ambillah contoh program padat karya. Warga yang statusnya MBR dilatih dan diberi tempat untuk berwirausaha. Mereka membuat paving untuk dijual. Ada pula yang mengelola aset pemkot berupa tambak yang saat panen hasilnya dijual untuk pemenuhan biaya hidup. Tujuannya, mereka lebih berdaya.

Ada juga program jaminan kesehatan semesta. Warga cukup menunjukkan KTP saat hendak berobat ke puskesmas/rumah sakit, langsung dilayani. Yang terkini, layanan rumah sakit umum daerah (RSUD) dipercepat. Pasien tak boleh menunggu lama. Kalau molor, pasien mendapatkan kompensasi berupa uang tunai.

Namun, pembangunan fisik tidak hilang begitu saja. Hanya, skalanya minor. Contohnya, pembenahan sentra wisata kuliner (SWK), perbaikan puskesmas, serta revitalisasi kawasan wisata seperti Jalan Tunjungan dan kawasan pecinan Kya-Kya.

Tantangan Pemenuhan Infrastruktur


Akhir 2019 lalu, Jawa Pos menghelat diskusi dengan sejumlah pakar dan dosen ITS. Dalam dialog itu, akademisi menyampaikan sejumlah tantangan yang bakal dihadapi wali kota Surabaya yang baru pasca kepemimpinan Tri Rismaharini.

Menurut Prof Dr Ir Johan Silas, Surabaya harus bersiap menjadi sentra logistik dalam pembangunan ibu kota negara yang baru. Hal itu perlu didukung dengan ketersediaan pabrik logistik di Surabaya dan sekitarnya.

Masukan lain disampaikan Ir Hera Widyastuti MT PhD. Pakar transportasi ITS itu menyatakan, transportasi di Surabaya belum terintegrasi. Untuk menjadi kota penyuplai logistik ibu kota negara yang baru, syaratnya wajib memiliki transportasi yang terintegrasi.

Pandangan para pakar itu menyiratkan bahwa laju pembangunan Surabaya tak boleh mandek. Toh, pembangunan juga selaras dengan visi Pemkot Surabaya yang dibuat Pak Wali, yaitu gotong royong menuju kota dunia yang maju, humanis, dan berkelanjutan.

Sebagai warga Surabaya, saya juga menunggu landmark baru Kota Pahlawan. Entah itu mewujud dalam bentuk bangunan, gedung, atau fasilitas lain. Mungkin RSUD Surabaya Timur ini yang ditunggu-tunggu. Lewat warisan itu, harapannya, saya dan warga Surabaya yang lain bisa mengingat. Ini legasi Pak Wali. (*)




*) ARISKI PRASETYO HADI, Redaktur Politik & Pemerintahan

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore