Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Januari 2023 | 21.01 WIB

Perang Melawan Stunting Tetap Penting

Photo - Image

Photo

BRAVO. Pada 2022, Pemkot Surabaya telah berhasil menurunkan kasus ribuan anak yang menderita stunting. Hingga Oktober, tercatat tinggal 1.055 balita yang masih menderita stunting. Angka tersebut menurun drastis dari data tahun sebelumnya, yakni 6.722 balita. Artinya, ada 5.667 balita yang sudah sehat dari stunting.

Data tersebut sangat membahagiakan. Bukan hanya bagi pemkot yang akhirnya diganjar penghargaan Kota Terinovatif 2022 dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Sebab, pemkot membuat terobosan baru di bidang perekonomian dan kesehatan. Yakni, aplikasi e-Peken dan Jago Centing yang dinilai sukses menurunkan angka stunting. Namun, juga bagi semua pihak yang terlibat dalam program tersebut. Dan, juga bagi saya sebagai ibu yang sedikit paham akan bahaya stunting bagi masa depan anak-anak.

Saya jadi teringat ketika liputan bayi gizi buruk di RSUD dr Soetomo. Saya melihat ada bayi kurus yang menangis, padahal sang ibu sudah memberikan susu melalui dot botol. Sudah digendong dan ditenangkan, bayi tersebut tetap tak berhenti menangis. Si ibu pun marah. Anak yang kesakitan itu malah jadi sasaran omelan si ibu. ’’Ibunya gemuk kok anaknya bisa gizi buruk,’’ kata salah seorang penunggu pasien di ruang rawat inap tersebut saat melintas di dekat saya. Pemandangan itu membuat saya jadi trenyuh.

Rasanya tidak adil bila menyalahkan si ibu hanya dari penampilan fisiknya. Ketika saya tanya kenapa anaknya bisa gizi buruk, si ibu berkata bahwa dia memang tak intens memantau kondisi anaknya. Sebab, dia adalah kepala keluarga yang harus bekerja serabutan dari pagi hingga malam. Suaminya sakit, sementara si bayi diasuh neneknya yang sudah renta.

Ya, masalah stunting memang kompleks. Karena itu, penanganannya juga kompleks dan melibatkan berbagai macam institusi. Hal tersebut tak terlepas dari upaya kolaborasi terintegrasi pentahelix. Sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) Surabaya terkait pun turut terlibat mengentaskan stunting.

Sasaran intervensi bukan hanya khusus balita stunting, melainkan juga remaja, calon pengantin, ibu hamil, maupun ibu menyusui. Intervensi spesifik seperti pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi remaja putri, susu dan micronutrient, hingga suplemen vitamin dan mineral di makanan bayi dilakukan.

Terobosan lain juga dimiliki OPD terkait, yakni layanan Neonatal Maternal Emergency Transport Service Surabaya (NMETSS). Layanan itu menggunakan ambulans untuk menjemput dan mengantar bayi gawat darurat serta ibu hamil menuju faskes rujukan tingkat di atasnya. Setelah melahirkan, ada pendampingan seribu hari pertama kelahiran (HPK).

Kecamatan dan kelurahan pun turut membuat program yang mendukung penurunan angka stunting. Di Kecamatan Bulak, misalnya. Ada program ISOK PAS atau kepanjangan dari Arisan Kelompok Peduli Anak Stunting. Program itu melibatkan tokoh masyarakat untuk membantu menjadi orang tua asuh balita stunting.

Kecamatan Wonokromo malah berkomunikasi dengan pihak swasta untuk memberikan bantuan makanan dan susu untuk balita stunting. Sebab, mayoritas kejadian stunting di wilayah tersebut karena faktor ekonomi.

Makin banyak pihak yang terlibat makin baik. Intervensi bisa menjangkau semua aspek dan kalangan. Justru, PR pada 2023 makin berat. Perang melawan stunting belum usai. Akan ada tantangan dan permasalahan baru yang muncul agar target zero stunting tercapai. (*)




*) NUR AINI ROOSILAWATIRedaktur South Metro dan East Beach

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore