Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 2 Januari 2023 | 17.56 WIB

Selamat Datang Kebisingan

Photo - Image

Photo

JawaPos.com- Hiruk pikuk Pemilihan Umum (Pemiliu) 2024, utamanya pilpres, akan makin terasa tahun ini. Dari hari ke hari, isu tersebut bakal banyak menyita perhatian.

Diperbincangkan di ruang-ruang publik. Puncaknya, saat hari coblosan yang ditetapkan pada 14 Februari 2024.

Pemilu atau politik tentu bukan isu tunggal tahun ini. Masih banyak persoalan lain yang perlu dipikirkan elite negeri ini. Ekonomi misalnya.

Ancaman inflasi tinggi dan bayang-bayang resesi menunggu di depan mata.

Riset DBS Group Research: Indonesia Consumption Basket, tiga hingga enam bulan ke depan, masyarakat menengah dan menengah ke bawah mengambil sikap defensif: save more, spend less.

Pertumbuhan ekonomi bisa melambat.

Pun, isu-isu sosial menyangkut kesejahteraan, penanganan bencana, hingga jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan. Juga, stabilitas keamanan dengan kerawanan di sejumlah daerah.

Dan, jangan lupakan penegakan hukum dan HAM yang rasanya masih jauh dari rasa adil bagi para pencari keadilan.

Tapi, politik memang akan ramai tahun ini. Para elite yang bertugas memikirkan berbagai persoalan di atas akan terbagi fokusnya. Faktanya, sebagian di antara mereka berlatar politik dan pastinya ikut menyongsong hajatan politik 2024.

Tahun politik akan kian riuh dengan munculnya ”tim hore” dari para buzzer.

Mereka tidak hanya mengampanyekan jagoannya, tapi juga menarasikan negatif kubu seberang. Seiring dengan tren penggunaan media sosial untuk kampanye politik, linimasa akan makin bising.

Beberapa bulan terakhir kebisingan itu mulai tampak. Saat satu partai politik menyatakan mengusung seorang tokoh sebagai capres. Dukungan yang beriringan dengan serangan mendadak ramai.

Itu masih sebatas bakal capres. Masih perlu koalisi dengan partai lain terlebih dulu untuk bisa memenuhi syarat mengusung capres. Plus, ditetapkan KPU sebagai peserta pilpres.

Dukungan dan serangan serupa, di sisi yang lain, terjadi pada figur yang digadang-gadang menjadi capres. Baru disebut, belum ada pencalonan.

Tiket menuju pilpres pun belum pasti dikantongi. Tapi, itu tidak mengurangi ramainya bilik komentar di setiap unggahan medsos.

Maka, bisa diprediksi keramaian linimasa saat yang akan bersaing di pilpres sudah mengerucut pada dua atau tiga pasangan calon tertentu. Makin riuh. Buzzer bekerja.

Baik yang sukarela maupun yang secara terbuka menjadikan pekerjaan untuk mendapatkan fulus. Ada juga akun-akun bot yang meramaikan setiap unggahan.

Buzzer yang secara harfiah berarti lonceng atau bel berperan untuk menarik audiens dalam mendukung atau mengetahui suatu isu atau produk tertentu. Selayaknya influencer.

Namun, maknanya berubah negatif seiring dengan penggunaannya dalam ranah politik. Yang terjadi, para pendengung itu kerap digunakan untuk propaganda, menyerang lawan politik, menghasut, hingga menciptakan disinformasi.

Besarnya jumlah pengguna media sosial di Indonesia (menurut DataReportal sekitar 191 juta) menjadi ceruk luar biasa bagi kampanye via platform digital.

Sayang, rendahnya tingkat literasi membuat dengungan para buzzer kerap ditelan mentah-mentah hingga masuk ke ruang-ruang obrolan dunia nyata.

Pada akhirnya, kita harus bersiap dengan segala keriuhan yang bakal datang. Selamat datang tahun politik, selamat datang kebisingan... (*)

---

*) Naufal Widi A.R, Redaktur Halaman Nasional Jawa Pos Koran

Editor: Candra Kurnia Harinanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore