Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 Juli 2024 | 17.36 WIB

Legasi dari Sang Legenda, Gombloh Lebih dari Sekadar "Di Radio"

Komunitas Me mories of Gombloh. (DIMAS MAULANA/JAWA POS) - Image

Komunitas Me mories of Gombloh. (DIMAS MAULANA/JAWA POS)

Gombloh mengemas lirik-liriknya –baik yang kelam, satire, maupun nasionalis– dalam bahasa yang lugas, tapi tetap santun. Bisa dibilang, Gombloh adalah cerminan arek Suroboyo.

FAHMI SAMASTUTI, Surabaya

---

REMY Wicaksono, putra semata wayang almarhum Gombloh, tak punya terlalu banyak kenangan tentang sang ayah. Maklum, maestro musik itu berpulang saat Remy baru berusia balita.

’’Di keluarga dan kata orang-orang, buat almarhum Bapak keluarga itu nomor satu. Dulu pernah ada cerita, Bapak sudah di studio, tapi pulang ke rumah karena katanya belum pamit sama saya,” kenang Remy.

Berbeda dengan sang ayah, Remy tidak bermusik. Dia mengaku pernah membentuk band saat SMA. ’’Tapi, namanya anak SMA, ngeband waktu itu buat seneng-seneng. Pengen sebenarnya meng-cover lagu Bapak, tapi karena belum nemu temen yang cocok, jadi ya nggak lanjut,” ujar pria yang kini tinggal di Sidoarjo itu.

Dia sangat mengapresiasi komunitas dan musisi yang masih melestarikan karya almarhum Gombloh. ’’Saya dan keluarga berterima kasih sekali karena banyak orang yang masih mengingat almarhum,” imbuh Remy.

Bagi banyak orang, Gombloh memang tak lepas dari Kugadaikan Cintaku. Alias, ’’di radio’’. Lagu itu menjadi percobaan pertama pemilik nama asli Soedjarwoto tersebut di genre arus utama.

’’Tapi, nggak bisa dimungkiri, memang banyak yang kenal almarhum dari di radio, baru ngulik lagu dari album-album sebelumnya,” ungkap Guruh Dimas Nugraha, anggota komunitas Memories of Gombloh (MoG) yang juga penulis biografi Revolusi Cinta dari Surabaya.

Sama seperti Gombloh, pria yang akrab disapa Dimas itu juga akhirnya ’’membenci” Kugadaikan Cintaku maupun rilisan populer mendiang. Bukan tak suka, namun lagu-lagu itu dinilai menenggelamkan karya terdahulu Gombloh. Baik sebagai solois maupun saat masih tergabung di Lemon Tree’s Anno 69. Di era itu, mendiang melahirkan lagu-lagu yang lebih kritis, patriotik, dan punya tema tak biasa.

Contohnya, Tetralogi Fallot, lagu yang judulnya merupakan nama untuk kelainan jantung bawaan pada bayi baru lahir. Juga B.K., lagu subtil yang didedikasikan untuk Bung Karno yang rilis di era Orde Baru.

Serta, lagu-lagu tentang para pekerja seks komersial yang judulnya memuat nama. Juga karya berbahasa Jawa. MoGers, sebutan anggota MoG, Affandy Willy Yusuf dan M. Nurul Huda menilai, liarnya tema dan lirik lagu itu tak terlepas dari referensi bacaan dan musik Gombloh yang luas.

’’Yang orang juga nggak tahu, selain musisi yang hebat, Gombloh itu produser dan penulis lagu yang sangar. Berkibarlah Bendera Negeriku itu karya dia, meski yang membawakan musisi lain,” ungkap Yus, sapaan Affandy Willy Yusuf.

Huda menambahkan, Gombloh pun mengemas lirik-liriknya –baik yang kelam, satire, maupun nasionalis– dalam bahasa yang lugas, tapi tetap santun. ’’Mungkin ini juga yang membuat beliau enggak pernah kena kritik keras pemerintah waktu itu. Juga lebih banyak pendengarnya ketimbang duo dari Lemon Tree’s lainnya, seperti Leo Kristi dan Franky Sahilatua,” imbuhnya.

Pegiat budaya Surabaya Dhahana Adi Pungkas juga menilai, Gombloh adalah cerminan arek Suroboyo. ’’Kalau kita dengarkan, lagunya Gombloh itu pakai bahasa yang lugas. Tidak sastrawi seperti katakanlah Leo Kristi atau Ebiet G. Ade. Dan, itu mewakili kultur Surabaya yang terus terang, blak-blakan, dan apa adanya,” ujar pria yang akrab disapa Ipung itu.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore