
Kondisi air di Kali Jaletreng Tangsel usai tercemar zat-zat kimia akibat kebakaran gudang pestisida di Taman Tekno, Kecamatan Setu. (Istimewa)
Langkah ini diambil menyusul kebakaran hebat yang melanda sebuah gudang pestisida di kawasan industri Taman Tekno, Setu, pada Senin (9/2).
Limbah beracun dari lokasi kebakaran dilaporkan mengalir deras ke aliran sungai Jaletreng hingga menyebabkan ekosistem rusak. Cemaran bahkan diinfokan berdampak pada aliran sungai Cisadane.
Kepala DLH Kota Tangsel Bani Khosyatulloh menegaskan, pihaknya tidak bekerja sendiri. Mengingat aliran sungai melintasi beberapa wilayah, koordinasi dilakukan dengan pemerintah daerah tetangga.
"Terkait cemaran di Kali Jaletreng ini kita sudah mengambil sampel air, kita uji di lab kita. Kita koordinasi dengan DLH Kota Tangerang ngambil sampel di pintu air 10, DLH Kabupaten Tangerang ambil sampel di Sepatan. Kita sama-sama uji lab dan nanti akan kita infokan ke masyarakat," ujar Bani di Serpong, Selasa (10/2).
Dampak kebakaran ini terlihat nyata dengan banyaknya ikan yang mati mengapung di aliran sungai.
Terkait fenomena ini, Bani memberikan peringatan keras kepada warga sekitar agar tidak memanfaatkan kondisi tersebut untuk konsumsi pribadi.
"Kita nggak tahu kondisi ikan tersebut, khawatir sudah terpapar oleh zat-zat kimia itu. Seyogyanya jangan dikonsumsi," imbaunya.
Instruksi mitigasi pun datang langsung dari Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie. Tim gabungan dari berbagai dinas dikerahkan untuk meminimalkan dampak buruk yang mungkin timbul bagi masyarakat maupun lingkungan di sekitar Taman Tekno.
"Tadi Pak Wali menyampaikan bahwa tim dari Satpol PP, DLH, dan Dinkes turun ke lapangan termasuk komunikasi dengan pengelola Taman Tekno terkait hal-hal yang akan mengakibatkan bencana," tutur Bani.
Pencemaran bermula saat gudang bahan kimia pestisida terbakar pada Senin pagi sekitar pukul 04.30 WIB. Zat kimia yang terkena air pemadaman dan hujan kemudian masuk ke saluran drainase.
Danton Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Tangsel, Sahroni, menjelaskan bahwa arus membawa zat berbahaya tersebut jauh hingga ke Kali Angke.
"Zat kimia yang terbakar, limbahnya ngalir ke gorong-gorong, jadi kebawa arus, kebawa ngalir ke sana," ujar Sahroni.
Ia menambahkan bahwa efek dari zat kimia ini sangat instan dan mematikan bagi biota air. "Mencemari sungai, sampai banyak ikan yang mati. Pestisida itu. Itu salah satu aliran air dari kali Angke," jelasnya.
Pemadaman gudang insektisida tersebut bukan perkara mudah. Sebanyak 14 unit mobil pemadam dan puluhan personel harus berjibaku melawan api yang sulit dijinakkan karena karakteristik bahan kimia.
Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Damkar Tangsel, Omay Komarudin, mengungkapkan kendala di lapangan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Soal Penolakan Pembangunan Gereja di Citraland, Wali Kota Eri: Tidak Sesuai Site Plan
Prediksi Skor Singapura vs Thailand: Ilhan Fandi Jadi Ancaman, Tuan Rumah Bisa Bikin Kejutan
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Pembangunan Gereja di Citraland Surabaya Ditolak Warga, Ternyata karena salah soal Perizinannya
Jadwal Siaran Langsung Sabah FC vs Persib Bandung di Dewata Challenge Series 2026: Live di Indosiar
5 Weton Aras Kembang yang Bisa Memikat Lawan Jenis karena Kharismatik danMempesona Menurut Primbon Jawa
