Warga berada kantor pelayanan pajak yang untuk melaporkan SPT, di Jakarta, Rabu (11/3/2020). Kantor pajak menargetkan, pelaporan SPT tahun ini bisa mencpaai 15,2 juta atau sekitar 80% wajib pajak yang wajib melaporkan pembayaran pajaknya selama periode se
JawaPos.com-Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memastikan tak akan memberikan insentif pajak pada tahun 2026 mendatang. Keputusan ini diambil sebagai imbas dari pemotongan dana transfer ke daerah (TKD) oleh pemerintah pusat melalui Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta Lusiana Herawati mengungkapkan bahwa pemerintah pusat memangkas TKD DKI secara signifikan untuk tahun anggaran 2026.
Sebelumnya, Pemprov DKI telah merencanakan APBD 2026 sebesar Rp 95,35 triliun. Namun setelah pemangkasan TKD dari Rp 27,5 triliun menjadi Rp11 triliun, proyeksi APBD harus direvisi menjadi Rp 81,28 triliun.
"Pasti banyak kebijakan yang kita ambil, contohnya PBB, kemudian restoran, hotel, dan lain-lain itu juga pasti akan berbeda-beda. Sehingga kemarin kami pada saat menghitung potensi pendapatan di tahun 2026, arahannya kebijakannya adalah hampir kurang lebih sama dengan kebijakan di 2025," ujar Lusiana, Selasa (21/10).
Lusiana menjelaskan, sepanjang tahun 2025 Pemprov DKI telah memberikan berbagai keringanan atau insentif pajak kepada masyarakat dengan nilai cukup besar. Jika dihitung, program tersebut menghilangkan potensi pendapatan Pemprov DKI hingga Rp 6 Triliun.
Dengan tidak adanya insentif pajak 2026, diharapkan bisa mendongkrak pendapatan Pemprov DKI Jakarta.
"Jadi dapat kami sampaikan pada kesempatan ini, sampai dengan bulan Oktober 2025, tax expenditure yang kita berikan, yaitu pajak yang tidak kita pungut dari masyarakat karena itu merupakan insentif yang kita berikan, itu hampir sampai Rp6 triliun. Jika kebijakan itu nanti di tahun depan tidak ada insentif, saya rasa bisa kita meningkatkan pendapatannya," jelasnya.
Artinya, kebijakan insentif pajak seperti keringanan PBB, pajak restoran, maupun hotel kemungkinan besar akan dihentikan tahun depan untuk menjaga pendapatan daerah tetap stabil.
Selain itu, Lusiana juga menyoroti tarif nol persen untuk bea balik nama dan pajak kendaraan listrik. Padahal, potensi pajak dari kendaraan listrik diperkirakan bisa tembus Rp 3 triliun.
"Di satu sisi ada memang yang cukup signifikan, yaitu pajak bea balik nama kendaraan listrik yang tarifnya 0, dan juga PKB, pajak kendaraan listrik, tarifnya juga 0 rupiah. Ini sampai dengan akhir tahun 2025, karena tarif yang ditetapkan oleh pemerintah pusat melalui undang-undang 1 tahun 2022 adalah 0, kita penurunannya hampir mencapai Rp 3 triliun," ungkapnya.
Lusiana menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan agar kebijakan ini bisa ditinjau ulang. Diharapkan, Pemprov DKI bisa menarik pajak kendaraan listrik di Jakarta tahun depan.
"Karena sampai dengan saat ini penjualan kendaraan listrik itu melonjak, sangat tinggi. Sehingga kalau ini dibiarkan, maka pendapatan daerah, bukan hanya DKI ya, daerah akan tergerus dari situ," katanya.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
