
Ketua Asosiasi Pedagang JPM Tanah Abang Jimmy Rory memakai baju kampanye Gubernur dan Wakil Gubernur Pramono Anung dan Rano Karno saat aksi, Senin (6/10). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)
JawaPos.com - Puluhan pedagang di Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Tanah Abang, Jakarta Pusat, menggelar aksi protes pada Senin (6/10). Mereka menuntut penurunan tarif sewa kios yang dianggap terlalu tinggi dan memberatkan.
Namun, ada yang berbeda dari aksi kali ini. Sebagian pedagang yang berdemo sengaja mengenakan baju bergambar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno.
Langkah itu mereka lakukan sebagai bentuk sindiran halus, sekaligus pengingat bahwa para pedagang dulu adalah pendukung setia pasangan tersebut saat Pilkada.
Ketua Asosiasi Pedagang JPM Tanah Abang, Jimmy Rory, mengaku sengaja mengenakan seragam oranye bergambar wajah Pramono dan Rano. Baju itu juga bertuliskan "Suara Kami Untuk Pramono-Rano".
Menurut Jimmy, hampir semua pedagang di lokasi merupakan warga asli Tanah Abang yang pernah memberi dukungan politik kepada Pramono-Rano saat maju sebagai Gubernur.
"Biar Bapak Gubernur tahu, mayoritas pedagangnya di sini anak wilayah, anak wilayah Tanah Abang, yang mendukung dia waktu dia mencalonkan jadi Gubernur," ujarnya kepada JawaPos.com di JPM Tanah Abang, Senin (6/10).
Jimmy berharap aksi ini dapat membuka mata Pemprov DKI Jakarta dibawah kepemimpinan Pramono - Rano untuk lebih berpihak pada rakyat kecil.
"Jadi, jangan sampai Bapak Pramono mengabaikan suara-suara kita. Nah, kita nih pendukung dia," sambung Jimmy.
Jimmy menjelaskan, aksi protes ini merupakan puncak kejengkelan pedagang terhadap PT Miratti Sarana Utama selaku pengelola baru JPM, serta Perumda Pembangunan Sarana Jaya.
"Jadi sebenarnya aksi ini adalah akumulasi. Akumulasi dari apa, dari kejengkelan kita, dari kekeselan kita terhadap pihak Sarana Jaya pertama. Terutama Sarana Jaya dan pengelola yang baru sekarang ini," ungkap Jimmy.
Ia menuturkan, daya beli masyarakat saat ini tengah lesu. Pengunjung semakin berkurang dari tahun ke tahun. Namun, di tengah kondisi sulit itu, pengelola justru menaikkan tarif sewa kios.
Awalnya, pedagang membayar sewa Rp 560 ribu per bulan, namun kemudian melonjak jadi Rp 1,5 juta. Setelah negosiasi, akhirnya turun sedikit menjadi Rp 1,3 juta.
"Kita aksi waktu itu, turunnya Rp 1.300.000. Tapi dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, dari hari ke hari, (jumlah pembeli) terus turun. Kita minta turun lagi agar seperti semula," jelas Jimmy.
Selain memprotes tarif tinggi, pedagang juga menolak surat edaran pengelola yang dinilai bernada ancaman. Dalam surat bertanggal Jumat (3/10) itu, disebutkan pedagang yang telat membayar sewa 20–23 hari akan langsung diganti dengan pedagang lain.
"Apabila kita sebagai pedagang telat membayar sewa, mereka melakukan pengancamanan dan penekanan. Karena isinya itu pengosongan kios dan pergantian pedagang," kata Jimmy.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
