Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 15 September 2025 | 22.05 WIB

Rekayasa Lalu Lintas di TB Simatupang, MTI DKI: Masalahnya Kompleks, Ungkap 5 Penyebab Utama

Kendaraan bermotor terjebak kemacetan lalu lintas di ruas Jalan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta, Kamis (21/8/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com-Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta bersama Kementerian Pekerjaan Umum resmi melakukan uji coba rekayasa lalu lintas di Jalan TB Simatupang – Jalan RA Kartini, tepatnya pada segmen Simpang Susun Antasari – Simpang Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Uji coba ini berlangsung mulai Senin (15/9) hingga Jumat (19/9), setiap pukul 17.00–20.00 WIB.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah DKI Jakarta Yusa Cahya Permana menilai kemacetan di TB Simatupang tidak bisa diselesaikan dengan satu kebijakan semata.

"Untuk perihal macet TB Simatupang ini seperti saya selalu jelaskan jika ditanya sebenarnya masalahnya kompleks," ungkap Yusa kepada JawaPos.com, Senin (15/9).

Ia menjelaskan ada sejumlah faktor penyebab macet horor di TB Simatupang di antaranya:

  1. Keterbatasan akses jalan utara–selatan dan timur–barat.
  2. Pergerakan masif masyarakat dengan dominasi kendaraan pribadi.
  3. Minimnya transportasi umum massal berbasis kereta.
  4. Jalan tol yang menjadi jalur perjalanan antarwilayah Jakarta–Tangerang–Depok–Bekasi–Bogor.
  5. Kapasitas jalan yang terbatas dan sulit diperluas lagi.

Yusa menegaskan, kebijakan rekayasa lalu lintas sebaiknya disertai kajian ilmiah yang jelas agar publik lebih mudah memahami.

"Untuk efektifitas kami pun tidak mendapat kajian detailnya. Tapi sudah saatnya pemerintah dalam menjelaskan kebijakan didukung data analisis keilmuan yang dapat diterima dan dipahami publik," tegasnya.

Menurut Yusa, kini sudah banyak model lalu lintas makro dan mikro yang bisa digunakan untuk memprediksi dampak manajemen lalu lintas, termasuk efek ke jalan alternatif. 

Sebab, dengan kemacetan disana, masyarakat akan mencari jalan alternatif lainnya. Artinya, kemacetan disana juga akan berdampak lainnya dengan ruas jalan lainnya.

"Efektivitas riil pada akhirnya harus melihat saat implementasi. Biasanya kalau pakai ilmu pendekatan nanti perlu adjustment di lapangan. Makin banyak faktor kira-kira karena faktor tak terkontrolnya ya nanti adjustment makin banyak," jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Dishub DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, rekayasa lalu-lintas dilakukan untuk mengurangi konflik lalu lintas dan menekan kemacetan.

"Uji coba rekayasa lalu lintas ini untuk mendukung upaya penanganan dampak kemacetan serta mengurangi konflik lalu lintas mulai dari Simpang Susun Antasari sampai dengan Simpang Lebak Bulus," ujar Syafrin.

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore