
Ilustrasi kendaraan bermotor melintas di bawah alat Sistem Jalan Berbayar Elektronik (ERP). Hafidz Mubarak A./Antara.
JawaPos.com - Kemacetan merupakan salah satu masalah utama Jakarta yang belum bisa teratasi hingga saat ini. Kondisi itu, terjadi karena pertumbuhan kendaraan di Jakarta tidak seimbang dengan pertumbuhan jalan.
Atas kondisi itu, Gubernur DKI Pramono Anung ingin mengatasi persoalan kemacetan lebih kepada fundamental, dibandingkan dengan memperpanjang atau memperlebar jalan. Salah satunya, akan menerapkan electronic road pricing (ERP) atau jalan berbayar elektronik.
Terkait rencana itu, Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno menuturkan, ERP itu bukan sekedar teknologi, tetapi juga refleksi keberanian politik untuk menata ulang hak ruang, mengembalikan jalan kepada yang lebih banyak pihak utama. Yakni, pejalan kaki, pesepeda, pengguna angkutan umum, dan masyarakat kecil yang selama ini kehilangan ruang hidupnya oleh ekspansi mobil pribadi.
''Langkah Pemprov DKI menyiapkan sistem ERP dan manajemen parkir itu sudah jadi bagian strategi mobilitas yang berbasis keadilan ruang dan efisiensi,'' ujar lelaki yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat tersebut.
Namun, dia menyebutkan, sebelum penerapan ERP itu pemerintah, baik DKI maupun Bodetabek harus memastikan kawasan permukiman di Bodetabek sudah terlayani angkutan umum. Dengan begitu, akan memudahkan masyarakat bermobilisasi.
''Harus diterapkan setelah kawasan permukiman di Bodetabek terlayani angkutan umum. Kalau saat ini yang terlayani belum sampai 50 persen. Pemda di Bodetabek perlu bergerak cepat,'' imbuhnya.
Sebagai informasi, sebelumnya, Gubernur DKI Pramono Anung sebelumnya menyampaikan, untuk mengurangi jumlah kendaraan di jalanan Jakarta perlu diterapkan perbaikan sistem perparkiran dan penerapan ERP. Dia bahkan menyampaikan bahwa penerimaan dari ERP itu bisa digunakan untuk subsidi transportasi umum.
''Kalau nanti ERP dipasang di Jakarta, maka seluruh pendapatan dari ERP tidak digunakan untuk kepentingan revenue-nya Jakarta. Tetapi untuk subsidi transportasi di mana saja. Termasuk di Jabodetabek,'' imbuhnya.(rya/)

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
