Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 Oktober 2022 | 03.13 WIB

Yayat Supriatna: Banjir Jakarta Takkan Selesai Kalau Dibawa ke Politik

Warga saat terkena banjir di pemukiman padat penduduk  di Pejaten Timur RT 005 RW 08, Jakarta, Senin (10/10/2022). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat hingga Senin (10/10) pukul 09.00 WIB sebanyak 68 RT di Jakarta terendam banj - Image

Warga saat terkena banjir di pemukiman padat penduduk di Pejaten Timur RT 005 RW 08, Jakarta, Senin (10/10/2022). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat hingga Senin (10/10) pukul 09.00 WIB sebanyak 68 RT di Jakarta terendam banj

JawaPos.com - Pengamat Tata Kota Yayat Supriatna menyatakan bahwa masalah banjir di Jakarta tidak akan selesai jika dibawa ke ranah politik. Hal itu ia ungkapkan setelah melihat banjir yang tak kunjung selesai sejak dulu kala.

Yayat menyampaikan, masalah banjir di Jakarta hanya dapat terselesaikan jika pemimpinnya menyelesaikan masalah banjir dengan ranah keilmuan dan teknokrasi, bukan dengan masalah politik. "Persoalan banjir Jakarta harus selesai dengan persoalan teknokratis. Kalau dibawa kepada persoalan politis, masalahnya tidak akan pernah selesai," ujarnya kepada wartawan, Kamis (13/10).

Dosen Universitas Trisakti itu mengatakan, secara teknokrasi, masalah banjir di Jakarta hanya dapat diselesaikan dengan melakukan normalisasi. Sebab, masterplan pengendalian banjir yang saat ini digunakan oleh Pemprov DKI adalah masterplan usang yang sudah tak relevan lagi.

"Masterplan tahun 1973 itu sudah tidak mendukung. Makanya dikatakan pak gubernur bahwa kapasitas sistem tata air kita sudah tidak mampu lagi menghadapi hujan ekstrem," jelasnya.

Seperti yang diketahui sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan bahwa penyebab dari banjir yang terjadi di Jakarta belakangan ini adalah lantaran curah hujan yang tinggi dan sistem drainase yang dimiliki Jakarta tidak dapat menampungnya.

Anies mengatakan bahwa saat ini sistem drainase di Jakarta hanya mampu menampung air sebanyak 250 milimeter di perumahan dan sebanyak 107 milimeter air di jalanan protokol.

"Sebagai contoh pekan lalu hujan ada yang 120 mm sampai dengan 180 mm yang bisanya dihitung harian 140, 180-an sangat lebat, bahkan 180 bisa dibilang ekstrem," katanya kepada wartawan, Senin (10/10).

Oleh karena itu, kata Yayat, jika hujan yang turun mulai ekstrem, penanganan yang dilakukan juga harus ekstrem. Masalahnya, hingga kini penanganan yang dilakukan masih biasa saja, berbanding terbalik dengan curah hujan yang turun.

"Kalau melihat paparan yang disampaikan oleh Menteri PUPR itu adalah sudah saatnya beberapa sungai itu harus ditingkatkan supaya bisa mengantisipasi hujan ekstrem," tandasnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore