
Warga berdoa di makam keluarga saat melakukan ziarah kubur di Tanah Kusir, Jakarta, Minggu (4//4/6). Ziarah kubur Menjelang Ramadhan menjadi tradisi sebagian masyarakat guna mendoakan keluarganya yang telah meninggal. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com
JawaPos.com - Bulan suci Ramadan segera tiba dalam hitungan hari. Masyarakat banyak yang melakukan kegiatan ziarah ke makam sanak keluarga tercinta atau disebut juga munggahan. Jika selama dua tahun terakhir pemerintah melarang kegiatan ziarah karena kasus Covid-19 yang meningkat, namun di masa transisi endemik, kini Tempat Pemakaman Umum (TPU) sudah kembali dapat dikunjungi.
Berdasarkan pantauan JawaPos.com, TPU Tanah Kusir di akhir pekan ini padat dikunjungi oleh para peziarah sejak pagi hari. Pembukaan kembali TPU bagi para peziarah juga menjadi ladang rezeki bagi para pedagang bunga, penjaga makam, petugas kebersihan makam, hingga tukang parkir.
Jelang Ramadan dan menjelang Lebaran menjadi momentum yang paling ditunggu oleh mereka. Sebab, mereka dapat pendapatan yang lebih dari kegiatan tradisi setiap tahun tersebut untuk dana tambahan di hari raya. Terlihat para pedagang bunga yang sibuk menawarkan dagangannya ke para pengunjung yang lewat.
Untuk sekantung plastik kecil berisi bunga mawar merah, mawar putih, dan melati dijual seharga Rp 5.000, sementara sekantung besar antara Rp 35.000 hingga Rp 60.000. Sedangkan untuk rangkaian mawar yang dihias berkisar antara Rp 35.000 hingga Rp 50.000.
Salah satu pedagang bunga Bu Haji Suminah yang telah berdagang bunga makam sejak tahun 1986 mengaku bersyukur karena bunga yang dijajakan banyak pembeli. Ia mengaku, omzet per harinya selama periode munggahan bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat.
“Alhamdulilah, udah mulai ramai. Saya sih nggak ambil untung banyak. Soalnya kan bayar orang kerja juga. Tapi tahun ini Alhamdulilah ramai lagi, orang yang kerja sama saya jadi seneng lagi,” ujarnya kepada JawaPos.com, Sabtu (26/3).
Sementara, pedagang bunga musiman Tini juga mengambil momentum munggahan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Dirinya yang kesehariannya berprofesi sebagai Ibu rumah tangga ikut membantu menambah penghasilan suaminya untuk hari raya Lebaran.
“Laki saya kan ngojek. Saya sih tahun aja selama munggahan jualan bunga. Lumayan buat beli anak baju lebaran,” tuturnya.
Kegiatan munggahan juga menjadi pintu rezeki bagi juru parkir yang mayoritas adalah warga sekitar. Untuk kendaraan motor dikenakan tarif Rp 2.000 sedangkan mobil Rp 5.000. Salah satu juru parkir Slamet mengaku, biasanya saat akhir pekan selama munggahan keuntungan yang didapat bisa dua kali lipat.
“Kan juga banyak juga orang-orang warga sini yang sampingan markir kalau lagi begini. Tapi ya lumayan, rejeki,” pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
