Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 Januari 2021 | 02.27 WIB

Tahu dan Tempe Hilang dari Pasaran, Konsumen: Pendapatan Saya Turun

Pekerja mengolah kacang kedelai yang akan di gunakan untuk bahan baku tahu di kawasan Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat, Senin (20/7/2020). Di tengah pandemi Covid-19, penghasilan pelaku usaha tahu dan tempe turun drastis. Penjualan menurun hingga mencapa - Image

Pekerja mengolah kacang kedelai yang akan di gunakan untuk bahan baku tahu di kawasan Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat, Senin (20/7/2020). Di tengah pandemi Covid-19, penghasilan pelaku usaha tahu dan tempe turun drastis. Penjualan menurun hingga mencapa

JawaPos.com - Produsen tahu dan tempe, menghentikan produksi pembuatan makanan berbahan pokok kedelai itu sejak awal tahun 2021. Ini dilakukan sebagai bentuk protes atas kenaikan harga kedelai dari Rp 7.200 menjadi Rp 9.200 per kilogram (kg).

Atas hilangnya stok tahu dan tempe itu, beberapa Konsumen di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mengeluhkan hilangnya salah satu makanan favorit tersebut.

"Sudah sejak tahun baru ini aja saya gak ketemu lagi tahu dan tempe di pasar. Saya juga baru tahu hari ini kalau ada mogok kerja dari yang bikin (produsen)," kata salah satu konsumen tahu dan tempe, Nurohatun Hasanah, 48, di Jakarta, Minggu (3/1) dikutip dari ANTARA.

Nurohatun mengatakan, selama ini dirinya membutuhkan 30 sampai dengan 40 kilogram tahu dan tempe untuk digoreng dan dijual di warteg kawasan Jatinegara, Jakarta Timur.

Sejak komoditas berbahan baku kacang kedelai itu hilang dari pasaran, Nurohatun beralih menjual kentang goreng dan sayuran.

"Ada yang lain, misalnya ada kentang sayuran yang lain, kalau gak ada tahu tempe. Saya baru tahu kalau katanya kacang kedelai lagi susah," jelasnya.

Dia berharap produsen kembali memasok tahu dan tempe sebab penggemar makanan tersebut cukup tinggi di warungnya.

"Namanya orang Indonesia kan favoritnya tahu tempe. Seharusnya walaupun mahal harus diadain biarpun mahal," katanya.

Konsumen lainnya, Windy,27, mengaku sudah dua hari terakhir tidak berjualan gorengan tempe dan tahu isi.

"Saya sering beli di pasar. Biasanya buat dagang gorengan, tapi dari tahun baru nggak ada. Biasanya ada aja pedagang yang nyetok, tapi kemarin nggak ada sama sekali, yang anterin juga nggak ada. Katanya kacangnya lagi mahal," jelasnya.

Baca juga: Aksi Mogok Pengrajin Tahu dan Tempe di Jabodetabek Berakhir Minggu

Windy mengaku mengalami penurunan pendapatan hingga separuh dari biasanya sejak tahu dan tempe hilang dari pasaran.

"Kalau jualan sih tetap, tapi kan saya nggak jual tahu dan tempe jadi pendapatan jadi turun sekitar setengahnya, karena dagangan nggak komplit," katanya.

Warga Pulogadung itu berpesan kepada produsen agar harga tahu tempe bisa stabil, namun kalaupun harus naik harganya tetap wajar dan bisa terjangkau.

"Walaupun harganya naik, yang penting ada. Yang penting naiknya terjangkau. pelanggan nanyain juga, padahal baru seminggu lalu toge nggak ada di pasaran," katanya.

Secara terpisah Sekretaris Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta Handoko Mulyo mengatakan, ketiadaan tahu dan tempe di pasaran merupakan imbas dari bentuk protes terhadap kenaikan harga kedelai dari Rp 7.200 menjadi Rp 9.200 per kilogram (kg).

"Terhitung mulai 1 hingga 3 Januari 2021, kita stop produksi. Ada sekitar 5.000 pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yang memproduksi tahu dan tempe, sepakat untuk mogok produksi," katanya.

Dikatakan Handoko, setiap harinya produsen memasok kebutuhan tahu dan tempe di Jakarta sebanyak 500 hingga 600 ton.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/9Wv-vcl9xcE

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore