Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 2 Januari 2021 | 23.36 WIB

Aksi Mogok Pengrajin Tahu dan Tempe di Jabodetabek Berakhir Minggu

Aksi unjuk rasa pengrajin kedelai yang tergabung dalam Sedulur Pengrajin Tahu Indonesia (SPTI). Antara - Image

Aksi unjuk rasa pengrajin kedelai yang tergabung dalam Sedulur Pengrajin Tahu Indonesia (SPTI). Antara

JawaPos.com–Aksi mogok produksi yang dilakukan pengrajin tahu dan tempe wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek) yang berlangsung sejak  Kamis (31/12) dipicu naiknya harga kedelai akan berakhir pada  Minggu (3/1).
Ketua Bidang Hukum Sedulur Pengrajin Tahu Indonesia (SPTI) Fajri Safii seperti dilansir dari Antara mengatakan, aksi mogok produksi tersebut terpaksa dilakukan mengingat harga kedelai naik hingga 35 persen. Para pengrajin tahu dan tempe melakukan aksi mogok produksi dengan harapan  pemerintah mendengar keluhan sehingga mengeluarkan kebijakan agar harga kedelai bisa kembali normal.

Menurut Fajri, saat ini lonjakan harga kedelai mencapai kisaran Rp 9.000 sampai Rp 10.000. Padahal, harga kedelai pada bulan lalu, di kisaran Rp 7.000 sampai Rp 7.500 per kilogram.

”Kenaikan harga kedelai sebesar itu menyebabkan para pengrajin tahu mogok produksi karena tidak sanggup lagi membeli kedelai,” terang Fajri Safii pada Sabtu (2/1).

Menurut dia, Peraturan Menteri Perdagangan Nomor: 24/M-DAG/PER/5/2013 tentang ketentuan impor kedelai dalam rangka stabilitas harga kedelai dianggap menghambat tumbuhnya importir-importir baru. Akibatnya, importir lama bisa semaunya menentukan harga dan melakukan kesepakatan harga atau kesepakatan pembagian wilayah pemasaran.

”Hal ini bertentangan dengan UU No. 5 Tahun 1999 tentang praktik monopoli dan persaingan usaha yang tidak sehat,” ungkap Fajri.

Sementara itu, Ketua Umum Sahabat Pengrajin Tempe Pekalongan (SPTP) Indonesia Haryanto mengaku, tak sedikit perajin yang tergabung dalam organisasinya yang gulung tikar akibat kenaikan harga kedelai.

Pengrajin tahu dan tempe asal Pekalongan yang kini tinggal di Tangerang, itu berharap kepada pemerintah untuk bisa menekan kembali harga kedelai seperti semula.

”Dengan kenaikan harga kacang kedelai impor yang sangat tinggi dari Rp 7.000 menjadi Rp 9.500 per kilonya telah menimbulkan keresahan. Lonjakan harga ini membuat para pengrajin gulung tikar. Kami berharap pemerintah bisa menstabilkan kembali harga seperti semula,” ujar Haryanto.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=jnkhKmrFyQw

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore