Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 April 2024 | 15.00 WIB

Empat Dekade Tragedi Bintaro dan Cerita Misterinya, Kerap Bertemu Sosok yang Anggota Tubuhnya Tak Lengkap

KENANGAN PAHIT: KRL melintas tepat di titik lokasi kecelakaan tragedi Bintaro, yakni KM 17+252 Tanah Abang-Rangkasbitung, Kamis (4/4). - Image

KENANGAN PAHIT: KRL melintas tepat di titik lokasi kecelakaan tragedi Bintaro, yakni KM 17+252 Tanah Abang-Rangkasbitung, Kamis (4/4).

Tragedi Bintaro terjadi 36 tahun lalu. Namun, cerita misteri terkait dengan kecelakaan maut yang merenggut nyawa ratusan orang itu bertahan hingga kini. Salah satunya, cerita tentang pejalan kaki yang menyusuri rel kereta. Namun, anggota tubuhnya tak lengkap.

MALAM itu, Putra Hartanto, 29, dan rombongan baru pulang dari Bogor dengan menaiki mobil. Dari Bogor, dia sengaja melewati daerah Tangerang Selatan untuk mengantar salah seorang rekannya yang tinggal di daerah tersebut. Maklum, jam sudah menunjukkan waktu tengah malam.

Setelah ngedrop, dia berniat langsung masuk tol agar bisa segera sampai di kawasan Jakarta Selatan. Namun, nyatanya, rombongan itu justru nyasar ke jalur kereta tragedi Bintaro.

Tragedi tabrakan antara rangkaian kereta api Patas Merak jurusan Tanah Abang–Merak (KA 220) yang berangkat dari Stasiun Kebayoran dan kereta api lokal Rangkas jurusan Rangkasbitung–Jakarta Kota (KA 225) dari Stasiun Sudimara ini memang menyisakan kenangan yang amat dalam. Banyak cerita misteri yang muncul di area sekitar pasca kejadian 19 Oktober 1987 tersebut.

”Yang nggak habis pikir dan membuat kami kaget, kenapa diarahkan ke jalan yang tidak umum. Padahal, kalau dari tol Serpong bisa bablas tol Joglo daripada keluar Bintaro,” ungkapnya Rabu (9/4).

Awalnya, tak ada yang aneh dari perjalanan rombongan tersebut. Layaknya pengendara lain, mereka mengandalkan Google Maps untuk memandu perjalanan. Keanehan mulai terjadi ketika mereka dikeluarkan dari tol di daerah Bintaro. Tak ada pikiran aneh-aneh meski mereka sempat mempertanyakan panduan dari Google Maps tersebut.

Kegelisahan mulai muncul lantaran mereka diarahkan ke jalan yang tak lazim. Meski tak hafal, beberapa orang mengetahui seharusnya ada jalan lain yang lebih ramai atau luas. Bukan di jalan samping rel yang berat, sempit, dan sangat sepi. ”Kami diarahkan ke jalan sempit dan itu persis di rel jalur rel Stasiun Sudimara,” kenangnya.

Beberapa orang langsung mencoba membuka Google Maps kembali. Bahkan mereset panduan yang sebelumnya digunakan untuk memastikan tak ada yang salah dengan pengaturan. Termasuk pemilihan moda kendaraan. ”Lalu, sudah berkali-kali kami reset, tapi berkali-kali diarahkan ke jalur yang sama. Kami seolah gak ada pilihan jalan keluar, harus mengikuti apa yang diarahkan,” ungkapnya.

Kecemasan makin menjadi setelah jalur sebelah rel seolah tak ada habisnya. Padahal, mereka sudah berkendara beberapa saat. Beberapa orang tiba-tiba merinding sampai bulu kuduknya berdiri.

Mereka refleks mulai baca-baca doa. ”Setelah beberapa saat, kami mulai sadar, ternyata ini dulu TKP insiden kecelakaan kereta Bintaro. Kami kaget banget,” ujarnya.

Tak lama setelah berdoa, mereka berhasil menemukan jalan keluar. Mereka akhirnya kembali ke jalan utama beraspal.

Cerita-cerita misteri di kawasan itu memang banyak terjadi. Bukan hanya di jalur rel, tetapi juga di daerah sekitarnya. Mengingat, dulu saat kejadian, korban dievakuasi keluar dari kereta ke wilayah sekitar.

Salah seorang warga Bintaro, Gunawan (bukan nama sebenarnya), mengungkapkan bahwa sering terjadi kecelakaan maut di area rel tersebut. Itu pun terjadi sebelum tragedi maut Bintaro. Namun, dia tak menampik memang banyak hal berbau misteri pascatragedi tersebut. Misalnya, ada orang yang berjalan saat magrib dengan kondisi anggota tubuh tak lengkap.

”Paling banyak itu kayak ada yang lihat nih orang jalan tanpa anggota tubuh, cuman separo,” katanya. Kalau sudah begitu, mereka akan buru-buru kembali ke dalam rumah.

Kejadian lainnya, lanjut dia, kerap ada kecelakaan di area kereta karena korban tak menyadari keberadaan kereta. Padahal, suara klakson dari kereta sudah sangat kencang. ”Kadang udah diteriakin juga nggak denger aja. Makanya, saya takut nyeberang,” tandasnya. (mia/c14/any)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore