
Petugas saat mencek suhu tubuh penumpang LRT di Stasiun LRT Velodrome, Jakarta, Rabu (4/3/2020). Hal ini berupaya untuk menerapkan standar kebersihan dan hygiene yang tinggi di lingkungan Stasiun agar terlindung dari penyebaran virus corona. Foto: Dery R
JawaPos.com - Komisi C DPRD DKI Jakarta meminta PT Jakarta Propertindo (Jakpro) menggabungkan anak usaha. Sebab, jumlah anak usaha BUMD itu dianggap terlalu banyak. Sementara kondisi keuangannya belum sehat. Indikatornya tidak ada dividen yang disetorkan ke Pemprov DKI Jakarta selama empat tahun terakhir.
“Perusahaan ini terlalu besar, sehingga tidak fokus. Anak perusahaannya aja ada tujuh. Dari pemaparan mereka kami melihat sepertinya ada (anak usaha) yang perlu digabungkan," ujar Wakil Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Rasyidi, Selasa (24/1).
Contoh anak usaha BUMD yang bisnisnya cuma menyewakan rumah dan menyewakan lahan. Anak perusahaan itu dianggap cukup menjadi bagian unit usaha dalam satu BUMD. Bukan menjadi satu entitas tersendiri.
Adapun tujuh anak usaha yang menopang bisnis PT Jakpro selama ini adalah PT PMJ Land, PT Jakarta Konsultindo, PT LRT Jakarta, PT Jakarta Utilitas Propertindo, PT Jakarta Infrastruktur Propertindo, Jakarta Oses Energi, dan PT Jakarta Solusi Lestari.
“Kami menyampaikan kepada kepala BP BUMD supaya kalau memungkinkan untuk harus digabungkan (anak usaha Jakpro) ya gabungkan saja,” kata politikus PDI-P itu.
Menanggapi hal itu, Direktur Utama PT JakPro Iwan Takwin berjanji segera melakukan perbaikan dan treatment terhadap seluruh anak usaha.
“Kami memang sedang berupaya memperbaiki anak-anak usaha kami yang tidak perform. Jadi, sampai sekarang kami cari penyakitnya di mana, kami sembuhkan penyakitnya baru kami berikan obatnya,” katanya.
Sementara itu, Plt Kepala BP BUMD Fitri Rahadiani menambahkan, saat ini pihaknya sedang membuat pemetaan core business masing-masing anak usaha PT Jakpro. Sehingga anak-anak usaha Jakpro itu bisa fokus pada bidang masing-masing.
“Kayak PMJ Land punya bisnis SPBU. Sebenarnya layaknya di mana sih? Apakah di PT Jakarta Oases Energi. Jadi kita petain satu-satu. Misalnya bisnis parkir, sebenarnya layaknya di mana sih. 2023 ini kita kaji anak-anak usaha Jakpro,” terang Fitria.
Sebelumnya, BUMD PT Jakarta Propertindo (JakPro) ternyata sudah empat tahun tak memberikan keuntungan hasil kerja perusahaan atau dividen kepada pemegang saham, salah satunya Pemprov DKI Jakarta.
"Memang kemarin waktu kita rapat, kita tanya dividen, mereka (JakPro) memang sudah sejak tahun 2019 itu belum bisa memberikan dividen kepada kita (Pemprov DKI) karena belum sehat," ujar Wakil Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Rasyidi saat dihubungi wartawan, Selasa (24/1).
Dampak dari tak adanya dividen dari Jakpro selama empat tahun ini cukup membuat DKI tekor. Pasalnya, Penyertaan Modal Daerah (PMD) yang dikucurkan pada JakPro cukup tinggi setiap tahunnya.
"Masa kemarin kita ngasih PMD (ke JakPro) Rp 1,6 triliun, hasilnya enggak ada, gimana? Kan harus timbal balik," kata Rasyidi.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
