Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 November 2022 | 03.48 WIB

Keseraman Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut yang Melegenda

SUDAH PULUHAN TAHUN: Suasana TPU Jeruk Purut yang sering bikin bulu kuduk merinding. Cerita seram beredar sejak lama. (Ilham Dwi Wancoko/Jawa Pos) - Image

SUDAH PULUHAN TAHUN: Suasana TPU Jeruk Purut yang sering bikin bulu kuduk merinding. Cerita seram beredar sejak lama. (Ilham Dwi Wancoko/Jawa Pos)

Kewingitan Taman Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut sudah melegenda. Sampai-sampai, banyak yang menjadikan cerita seram ”hotel abadi” tersebut sebagai latar belakang cerita dalam film. Hingga kini, kerap dijumpai raungan harimau, penampakan ular besar, dan berbagai keganjilan lainnya.

---

HANYA dengan mendengar namanya, TPU Jeruk Purut, sebagian orang langsung merinding. Apalagi dibayangi berbagai adegan seram yang bertebaran di film horor Indonesia. Semua kengerian itu terasa lebih nyata saat diceritakan salah seorang penggali kubur TPU Jeruk Purut, Sulaiman.

Sulaiman sudah hampir 40 tahun bekerja sebagai penggali dan perawat kubur di kompleks pemakaman seluas 912 hektare tersebut. Beragam cerita sejak 1980-an hingga kini tertancap kuat di benaknya.

Menurut dia, cerita tentang tukang becak paling sering digetoktularkan. Peristiwa itu memang sudah cukup lama, mungkin terjadi pada akhir 1980-an. ”Saat saya masih muda,” katanya ketika ditemui di belakang kantor perawatan TPU Jeruk Purut beberapa waktu lalu.

Saat itu ada seorang tukang becak yang mendapat penumpang perempuan cantik nan bahenol. Yang meminta diantarkan ke kompleks perumahan mewah di Jeruk Purut. ”Tukang becak itu bercerita bahwa jalanannya tampak modern dan indah,” ungkapnya.

Dengan gerbang perumahan yang megah dan lampu jalanan yang begitu terang, tentu saja si tukang becak tidak merasakan keganjilan. Apalagi, rumah-rumah besar nan elite berjejeran. ”Baru ganjil saat perempuan cantik ini sampai di depan rumah,” ujar Sulaiman.

Begitu dibayar, tukang becak berbalik untuk pulang. Kondisi langsung gelap seperti listrik padam. Tukang becak menoleh, tetapi penumpang perempuan tadi sudah hilang. ”Yang terlihat kuburan, bukan rumah mewah,” jelasnya.

Saat itu tukang becaknya lari tunggang-langgang. Becaknya ditinggal di tengah malam dan baru diambil setelah fajar datang. ”Cerita ke saya itu, dia gak berani ambil becaknya. Setelah subuh, baru berani,” paparnya.

Pengalaman tukang becak tersebut, bagi Sulaiman, merupakan hal biasa. Sebagai penggali kubur, ”sentuhannya” dengan para penghuni TPU Jeruk Purut jauh lebih asyik. Tentu bagi penghobi cerita horor. ”Wah, semua yang terjadi saya masih ingat,” tegasnya.

Salah satunya saat ada pindahan makam dari Cilandak. Para pengantarnya menyebut almarhum sebagai seorang jawara. ”Begitu pindah ke Jeruk Purut, dunia mistisnya semakin ramai,” candanya.

Di makam jawara tersebut, lanjutnya, pernah terjadi keganjilan. Sulaiman melihat dengan mata kepala sendiri seekor ular hitam dengan ukuran yang tidak biasa. ”Besar sekali, saya yakin bukan ular biasa,” jelasnya.

Ular itu menggeliat dan merayap dari makam sang jawara menuju ke arah barat. Awalnya pelan, tetapi lantas secepat kilat. ”Barulah ularnya tidak terlihat di dekat makam seorang syekh,” terangnya.

Nah, uji nyali biasanya dilakukan pada malam Jumat. Yang penampakannya paling sering muncul di kuburan adalah sang jawara pindahan dari Cilandak. ”Kalau beruntung, bisa mendengar raungan harimau,” ungkapnya.

Selain keramatnya makam sang jawara, Sulaiman menceritakan makam seorang syekh yang berada di tengah-tengah TPU Jeruk Purut. Menurut dia, makam tersebut termasuk salah satu yang paling awal berada di Jeruk Purut. ”Saking keramatnya makam syekh ini, dulu era Pak Soeharto banyak jenderal yang memburu keris di lokasi itu,” katanya.

Salah satu kejadian yang dia lihat sendiri adalah seorang jenderal yang mendapatkan keris luk delapan. Menurut dia, saat itu sang jenderal datang tengah malam dengan membawa dua keris kuningan. ”Tiba-tiba, muncul keris luk delapan dari tanah makam sang syekh,” jelasnya.

Dia berusaha keras menangkap keris tersebut. ”Kalau tidak, saya bisa mati,” ujar Sulaiman menirukan perkataan sang jenderal.

Menurut dia, memang TPU Jeruk Purut sejak dulu angker. Dulu lokasinya seperti berada di bukit dengan akses sebuah jembatan. ”Tidak ada lampu jalanan. Lampu itu baru ada pada 2000-an,” jelasnya.

TPU Jeruk Purut keramat mungkin karena dulu lokasinya di pelosok. Namun, kini semuanya sudah berubah. ”Banyak lampu dan lebih hidup. Tidak gelap gulita lagi,” paparnya.

Namun, rupanya keangkerannya belum cukup membuat orang tidak bertanggung jawab agar tidak bermain-main dengan lahan TPU Jeruk Purut. Kendati kerap diperluas, lahan TPU Jeruk Purut ini terus menyempit. ”Diperluas, tapi kok saya terus merasa sempit, ya,” ujarnya lirih.

Abdurrochman, penggali kubur lainnya di TPU Jeruk Purut, mengamininya. Menurut dia, lahannya semakin luas, tetapi seperti ada yang terus memepet lahan pemakaman. ”Mungkin karena ada pembangunan perumahan, ya,” ucapnya. 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore