Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 Januari 2026, 16.30 WIB

8 Tradisi Menyambut Ramadhan di Berbagai Daerah Indonesia, Unik dan Masih Lestari

Tradisi menyambut Ramadhan di berbagai daerah Indonesia, tradisi Padusan masyarakat Yogyakarta. (Istimewa) - Image

Tradisi menyambut Ramadhan di berbagai daerah Indonesia, tradisi Padusan masyarakat Yogyakarta. (Istimewa)

JawaPos.com - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, suasana di berbagai penjuru Indonesia selalu terasa berbeda. Selain menyiapkan fisik dan batin untuk berpuasa, masyarakat Nusantara juga merawat tradisi khas yang telah hidup ratusan tahun sebagai bagian dari persiapan spiritual.

Tradisi-tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi menjadi momen penting untuk mempererat hubungan keluarga, menjaga nilai kebersamaan, serta menanamkan makna kesucian sebelum memasuki bulan penuh berkah.

Berikut ragam tradisi menyambut Ramadhan di berbagai daerah Indonesia yang masih lestari hingga kini:

1. Dugderan (Semarang, Jawa Tengah)

Warga Semarang menyambut Ramadhan dengan kemeriahan Dugderan, sebuah festival budaya yang telah berlangsung sejak era kolonial. Ditandai dengan bunyi bedug dan dentuman meriam bambu, Dugderan menjadi penanda resmi dimulainya puasa. Pawai budaya, pasar rakyat, hingga kuliner khas menjadikan tradisi ini sebagai ruang perjumpaan lintas generasi yang sarat nilai kebersamaan.

2. Nyorog (Jakarta)

Bagi masyarakat Betawi, nyorog adalah tradisi penuh makna. Bingkisan makanan diantarkan kepada orang tua atau tokoh yang dihormati sebagai simbol kasih sayang dan penghormatan. Di balik hidangan yang dibawa, tersimpan pesan tentang pentingnya menjaga silaturahmi menjelang Ramadhan.

3. Cucurak (Jawa Barat)

Tradisi cucurak dilakukan dengan makan bersama keluarga atau sahabat menggunakan alas daun pisang. Hidangan sederhana seperti nasi liwet dan lauk tradisional menjadi simbol kesederhanaan dan kebersamaan sebelum memasuki bulan puasa.

4. Padusan (Yogyakarta)

Padusan menjadi ritual penyucian diri secara simbolis. Mandi di mata air atau sungai dipercaya membantu membersihkan diri lahir dan batin agar lebih siap menjalani ibadah Ramadhan.

5. Marpangir (Sumatera Utara)

Tradisi mandi menggunakan air campuran dedaunan dan rempah, marpangir menjadi simbol pembersihan diri dan niat buruk. Tradisi ini juga mencerminkan kearifan lokal yang memadukan alam dan spiritualitas.

6. Malamang & Balimau (Sumatera Barat)

Malamang dilakukan dengan memasak lemang bersama keluarga dan tetangga, sedangkan balimau berupa mandi air jeruk nipis sebagai simbol penyucian diri. Keduanya menekankan nilai gotong royong dan persiapan batin.

7. Meugang (Aceh)

Meugang identik dengan memasak daging dan berbagi kepada sesama. Tradisi ini mencerminkan rasa syukur, kepedulian sosial, serta semangat berbagi menjelang Ramadhan.

8. Mattunu Solong (Sulawesi Barat)

Tradisi menyalakan pelita yang terbuat dari kemiri yang ditumbuk, dicampur kapuk, lalu dililitkan pada batang bambu sebelum dinyalakan. Cahaya pelita dipasang di depan rumah, pagar, hingga area dapur, melambangkan doa, harapan, serta permohonan keberkahan dan kelancaran rezeki, sekaligus menjadi penanda kesiapan lahir dan batin menyambut hari-hari besar keagamaan.

Beragam tradisi ini membuktikan bahwa Ramadhan di Indonesia bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga perayaan nilai budaya, solidaritas sosial, dan warisan kearifan lokal yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore