
Hukum menunda bayar puasa hingga Ramadhan berikutnya. (Freepik)
JawaPos.com - Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Oleh karena itu, ketika seseorang meninggalkan puasa, baik karena sakit, bepergian, hamil, menyusui, atau uzur syar’i lainnya, dalam Islam sudah diatur dengan jelas kewajiban untuk menggantinya di hari lain.
Idealnya, qadha puasa dilakukan setelah Ramadhan berakhir hingga sebelum datang Ramadhan berikutnya. Namun, dalam praktiknya, tak sedikit orang yang justru menundanya. Lantas, bagaimana hukumnya?
Dalam fiqih Islam, puasa yang tertinggal disebut sebagai utang ibadah yang wajib dilunasi. Meski waktu penggantiannya cukup panjang, para ulama menganjurkan agar qadha dilakukan sesegera mungkin sebagai bentuk tanggung jawab spiritual.
Islam juga memberi kelonggaran bagi mereka yang memiliki uzur syar’i berkelanjutan. Jika penundaan terjadi karena kondisi kesehatan atau keadaan tertentu yang tidak memungkinkan berpuasa hingga Ramadhan berikutnya tiba, maka tidak ada dosa dan tidak diwajibkan fidyah, cukup mengganti puasa saat sudah mampu.
Namun, berbeda halnya jika seseorang sehat, mukim, dan mampu, tetapi sengaja menunda qadha hingga bertemu Ramadhan berikutnya.
Mayoritas ulama menilai hal ini sebagai kelalaian yang berdosa. Hal ini dijelaskan oleh Jalaluddin Al-Mahali dalam kitab Kanzur Raghibin:
“Barang siapa yang mengakhirkan qadha puasa Ramadhan, sedangkan dia mampu melaksanakannya hingga menemui Ramadhan berikutnya, maka dia wajib mengqadha, membayar satu mud untuk setiap harinya serta mendapat dosa sesuai keterangan yang disampaikan Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab. Dan dalam kitab tersebut, Imam Nawawi juga menjelaskan adanya kewajiban membayar mud hanya dengan masuknya bulan Ramadhan.” (Al-Mahalli, Kanzur Raghibin, [Beirut, Darul Kutub Al-'Ilmiyah: 2010], juz II, halaman 90-91).
Fidyah adalah bentuk tanggung jawab ibadah berupa memberi makan orang miskin bagi mereka yang menunda qadha puasa tanpa alasan syar’i. Biasanya fidyah dibayarkan untuk setiap hari puasa yang belum diganti setelah datang Ramadhan berikutnya, dengan takaran sekitar satu mud atau 0,5 - 0,8 kilogram makanan pokok seperti beras.
Jadi, menunda qadha puasa tanpa uzur syar’i bukanlah hal yang sepele. Qadha puasa bukan hanya soal menggugurkan kewajiban, tetapi juga bentuk kepedulian pada kebersihan hati dan ketenangan batin dalam menjalani ibadah.
Selain berdosa, ada kewajiban tambahan berupa fidyah yang harus ditunaikan. Sebaliknya, jika penundaan terjadi karena kondisi yang benar-benar tidak memungkinkan, Islam memberikan keringanan tanpa sanksi tambahan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Ferry Juliantono Rencanakan Penyaluran Gaji PNS dan Pensiun lewat Koperasi
Prediksi Skor Buriram vs Borneo di ASEAN Club Championship: Thunder Castle Menang Tipis
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Kuching City vs Tampines di ASEAN Club Championship: The Cats Unggul Tipis
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Didik J Rachbini: Putusan MK Ungkap Kebohongan Gibran dan Jokowi
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Meksiko vs Cile: El Tri Bakal Bangkit, La Roja Akhiri Tren Buruk
Gibran Terbukti Tak Punya Ijazah SMA, tapi MK Tidak Berwenang Diskualifikasi dari Wapres

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022