
Seorang wanita yang sedang berlinang air mata (Freepik)
JawaPos.com – Ketika kita menjalani bahtera kehidupan, pasti ada suka dan duka, canda dan tawa, tangis dan bahagia. Banyak rasa yang membersamai cerita perjalanan pada tiap-tiap individu.
Salah satunya rasa kesedihan yang sering diikuti dengan tangisan. Menangis sering dianggap tanda kelemahan bagi setiap orang, padahal tangisan sebagai mekanisme penyembuhan hati dan pikiran.
Dilansir dari unggahan Instagram @barengquran, menurut psikologi, menangis adalah self soothing behavior atau perilaku menenangkan diri. Sebab, ketika menangis, dalam tubuh mengaktifkan sistem saraf parasimpatik yang berfungsi untuk menstabilkan emosi, menenangkan, dan menurunkan stres.
Sebagaimana dalam Al-Qur'an yang menggambarkan orang beriman justru menangis dalam kekhusyukan. Hal ini termaktub dalam surah Al-Isra ayat 109, yang artinya "dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk".
Menangis sebagai kekuatan
Dari unggahan Instagram @quranreview dijelaskan bahwa dalam Islam terdapat konsep memanusiakan manusia. Artinya, manusia perlu mengekspresikan perasaan, baik dengan menangis maupun mengeluh. Namun, keluh kesah yang dimaksud bukanlah sembarang keluhan, melainkan aduan yang ditujukan hanya kepada Allah.
Karena itu, umat dianjurkan untuk menyampaikan segala keresahan kepada Allah, menumpahkan air mata sebagai bentuk keikhlasan dan permohonan agar hati diberi kekuatan. Menangis di hadapan-Nya adalah wujud penghambaan, bukan kelemahan.
Dalam unggahan Instagram @kata_uha, air mata diibaratkan seperti hujan yang mampu membersihkan. Ia tidak hanya menyucikan emosi, tetapi juga menenangkan perasaan, memperbaiki kondisi mental, hingga menjernihkan pikiran. Tangisan yang disertai penghambaan inilah yang diyakini mendatangkan pertolongan dari Allah.
Bahkan, salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan di padang mahsyar adalah mereka yang mengingat Allah dalam kesendirian hingga berlinang air mata.
Kisah Nabi Ya’qub juga menjadi teladan. Sebagaimana diulas dalam akun Instagram @tadabbur_centre, beliau menangis bertahun-tahun karena kehilangan anak yang sangat dirindukan. Namun, dalam kesedihannya, beliau tidak pernah menyalahkan takdir ataupun memaki orang lain.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Yusuf ayat 86, bahwa Nabi Ya’qub hanya mengadukan kesusahan dan kesedihannya kepada Allah semata. Dari situlah kita belajar bahwa tempat terbaik untuk melabuhkan air mata adalah di hadapan Sang Pencipta.
Menangis bagaikan doa tanpa suara

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
