Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 September 2025 | 19.15 WIB

Menangis Bukan Tanda Kelemahan tetapi Jadi Kekuatan Manusia: Begini Penjelasannya dalam Al-Qur'an

Seorang wanita yang sedang berlinang air mata (Freepik) - Image

Seorang wanita yang sedang berlinang air mata (Freepik)

JawaPos.com – Ketika kita menjalani bahtera kehidupan, pasti ada suka dan duka, canda dan tawa, tangis dan bahagia. Banyak rasa yang membersamai cerita perjalanan pada tiap-tiap individu.

Salah satunya rasa kesedihan yang sering diikuti dengan tangisan. Menangis sering dianggap tanda kelemahan bagi setiap orang, padahal tangisan sebagai mekanisme penyembuhan hati dan pikiran.

Dilansir dari unggahan Instagram @barengquran, menurut psikologi, menangis adalah self soothing behavior atau perilaku menenangkan diri. Sebab, ketika menangis, dalam tubuh mengaktifkan sistem saraf parasimpatik yang berfungsi untuk menstabilkan emosi, menenangkan, dan menurunkan stres.

Sebagaimana dalam Al-Qur'an yang menggambarkan orang beriman justru menangis dalam kekhusyukan. Hal ini termaktub dalam surah Al-Isra ayat 109, yang artinya "dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk".

Menangis sebagai kekuatan

Dari unggahan Instagram @quranreview dijelaskan bahwa dalam Islam terdapat konsep memanusiakan manusia. Artinya, manusia perlu mengekspresikan perasaan, baik dengan menangis maupun mengeluh. Namun, keluh kesah yang dimaksud bukanlah sembarang keluhan, melainkan aduan yang ditujukan hanya kepada Allah.

Karena itu, umat dianjurkan untuk menyampaikan segala keresahan kepada Allah, menumpahkan air mata sebagai bentuk keikhlasan dan permohonan agar hati diberi kekuatan. Menangis di hadapan-Nya adalah wujud penghambaan, bukan kelemahan.

Dalam unggahan Instagram @kata_uha, air mata diibaratkan seperti hujan yang mampu membersihkan. Ia tidak hanya menyucikan emosi, tetapi juga menenangkan perasaan, memperbaiki kondisi mental, hingga menjernihkan pikiran. Tangisan yang disertai penghambaan inilah yang diyakini mendatangkan pertolongan dari Allah.

Bahkan, salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan di padang mahsyar adalah mereka yang mengingat Allah dalam kesendirian hingga berlinang air mata.

Kisah Nabi Ya’qub juga menjadi teladan. Sebagaimana diulas dalam akun Instagram @tadabbur_centre, beliau menangis bertahun-tahun karena kehilangan anak yang sangat dirindukan. Namun, dalam kesedihannya, beliau tidak pernah menyalahkan takdir ataupun memaki orang lain.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Yusuf ayat 86, bahwa Nabi Ya’qub hanya mengadukan kesusahan dan kesedihannya kepada Allah semata. Dari situlah kita belajar bahwa tempat terbaik untuk melabuhkan air mata adalah di hadapan Sang Pencipta.

Menangis bagaikan doa tanpa suara

Tangisan bukan berarti kelemahan, melainkan wujud kekuatan dari bahasa hati yang paling tulus, sebuah doa yang mengalir dalam keheningan.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore