
Ilustrasi Isra Mikraj. (freepik)
JawaPos.com - Isra Miraj tentu saja tidak terdengar asing bagi mayoritas orang di Indonesia. Itu karena kedatangannya selalu diperingati setiap tahun dan termasuk ke dalam kalender Hari Libur Nasional.
Meski istilah itu sangat familiar bagi banyak orang, tidak setiap orang dapat memahaminya dengan baik.
Untuk itu, ada baiknya kita mengupas istilah Isra Miraj sekaligus kita kaitkan dengan konteks peristiwa maha dahsyat yang dialami Rasulullah.
Isra merupakan kata dalam Bahasa Arab. Di dalam ilmu sharaf, kata isra merupakan Isim Masdar dari wazan af'ala, dan termasuk ke dalam kategori Tsulasi Mazid.
Kata dasarnya adalah sara-yasri dalam Tsulasi Mujarrod. Arti dari kata dasar sara-yasri adalah berjalan. Kata ini kemudian diubah bentuk menjadi Tsulasi Mazid dengan wazan af'ala menjadi asra-yusri-isra'an.
Pengubahan bentuk ini otomatis mengubah makna. Yang awalnya artinya berjalan, menjadi memperjalankan.
Dalam konteks Isra Rasulullah, Isra berarti Allah memperjalankan Nabi Muhammad pada waktu malam dari Masjidil Haram (Makkah menuju Masjid Al-Aqsa (Yerussalem) dalam waktu singkat dengan menggunakan kendaraan buraq.
Adapun Mi'raj, dalam ilmu sharaf dikenal sebagai Isim Alat dengan Fi'il Madhi-nya adalah araja, yang artinya naik. Isim alat biasanya digunakan untuk menunjukkan alat atau sarana melakukan perbuatan.
Dengan demikian, Miraj dapat diartikan sebagai alat naik yang kemudian dikenal sebagai tangga.
Dalam konteks Isra Miraj, Rasulullah menggunakan alat naik dari bumi menuju langit tertinggi, langit ke tujuh hingga sampai ke Sidratul Muntaha, dengan menggunakan kendaraaan buraq.
Peristiwa Isra Miraj terjadi pada Nabi Muhammad, bertepatan dengan tanggal 27 Rajab, tahun ke-10 kenabian. Peristiwa ini merupakan peristiwa sangat luar biasa yang tidak pernah terjadi pada manusia mana pun di dunia. Ini hanya terjadi pada Rasulullah.
Isra Miraj merupakan peristiwa kurang rasional karena sulit untuk dijangkau dengan akal sehat. Peristiwa ini hanya dapat dijangkau dengan cahaya keimanan.
Pada saat Rasulullah menceritakan bahwa dirinya melakukan peristiwa Isra Miraj, banyak orang Arab ketika itu menertawakannya karena dianggap tidak masuk akal. Akan tetapi, Abu Bakar salah satu sahabat yang langsung memercayainya dengan cahaya keimanannya.
Karena hal itu, Abu Bakar kemudian diberikan gelar ash-shiddiq atas pembenarannya yang teguh terhadap peristiwa Isra Miraj, sebagaimna diceritakan Nabi Muhammad.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
