Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 31 Desember 2018 | 20.08 WIB

Tiga Refleksi Pendidikan Tinggi di Australia dengan Indonesia

Kampus Australian National University - Image

Kampus Australian National University

JawaPos.com - Tak terasa satu tahun telah berlalu sejak saya kuliah S1 di Australian National University (ANU). Ketiban setumpuk bacaan dan tugas membuat saya tidak begitu sempat untuk melakukan refleksi yang mendalam tentang pengalaman saya belajar di Australia dan implikasi dari pengalaman tersebut.


Beberapa minggu terakhir setelah masa libur kampus tiba, barulah saya sempat untuk mendalami apa yang terjadi selama satu tahun hidup saya yang luar biasa ini. Saya menyadari, selain melalui kelas, kuliah di ANU memperkenalkan secara tidak langsung filosofi dan praktik pendidikan tinggi Australia itu sendiri.


Melalui tulisan ini, saya hendak berbagi pengalaman dan observasi tentang saya pendidikan tinggi di Australia. Saya berharap melalui pengalaman saya yang tak seberapa, para pembaca tetap dapat membandingkan, mempertimbangkan, dan mungkin mempertanyakan praktik dan aspek dari bidang pendidikan tinggi di tanah air.



1. O-Week, Ospek Tanpa Senioritas


Masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) ANU berlangsung selama seminggu mulai dari 12 Februari 2017.  Namun, Ospek yang dilakukan di ANU amat berbeda dengan apa yang biasa kita lihat di Indonesia. Kegiatan Ospek atau ‘O-Week’, dibuka dengan acara induksi sampai dengan commencement speech oleh Brian Schmidt, Vice-Chancellor  ANU yang menandakan dimulainya semester satu.


Memang semua kegiatannya bersifat tidak wajib alias suka-suka kita mau hadir ke suatu sesi atau tidak. Meskipun, direkomendasikan untuk datang di sesi tertentu. Saya perhatikan, semua kegiatan bersifat edukatif dan profesional.


Tidak ada acara atau instruksi aneh-aneh. Para mahasiswa baru diperlakukan sepantasnya orang dewasa. Tidak ada kesenjangan dengan para senior, bahkan mereka hadir untuk membantu administratif kegiatan seperti menyambut di pintu, membantu mengurus hal yang berkaitan dengan IT, bagi-bagi merchandise, dan berbagi pengalaman.


Llewellyn Hall, Tempat Sesi Induksi Undergraduate ANU


Pengalaman ini membuat saya berpikir tentang kegiatan Orientasi yang dilakukan di perguruan tinggi di tanah air. Mengapa desain ospek di Indonesia cenderung jauh berbeda dengan negara lainnya? Tak jarang saya membaca berita tentang kejanggalan- kejanggalan yang terjadi saat 
ospek di negara tercinta.


Padahal, menurut saya, tujuan ospek sejatinya untuk memperkenalkan kampus, presentasi dan tur yang diadakan oleh para staff universitas dan departemen rasanya cukup. Nah, jika tujuan ospek adalah untuk melatih disiplin dan kesopanan, ospek di Indonesia terasa tak sejalan dengan tujuannya. Saya tidak merasa ada korelasi antara menuruti perintah-perintah yang bisa jadi nyeleneh dengan pengembangan disiplin dan etika akademik mendasar seperti kejujuran dan ketepatan waktu.


Di sisi lain, saya juga meragukan dalih bahwa Ospek bertujuan untuk mengajarkan hormat dan solidaritas angkatan. Tentu tak ada salahnya menghormati orang yang lebih tua, namun apakah senior universitas harusnya dipertuakan? Umur senior-junior rata-rata hanya berbeda tipis (kecuali jika senior Ospek kebetulan ‘terlalu betah’ kuliah).



2. Pedagogi Berbasis Tanggung Jawab dan Critical Thinking


Ketika masih SMA, saya selalu diwanti-wanti oleh guru bahwa nanti di universitas ‘nggak ada lagi yang nyuapin kamu!’. Guru-guru bicara dalam konteks perguruan tinggi Indonesia. Tapi, perkataan mereka juga tepat untuk mahasiswa ANU. Sebagai International Student, saya diwajibkan mengambil 4 mata kuliah per semester, masing-masing berharga 6 units. 


Rata-rata murid di ANU dapat lulus dengan gelar Bachelor setelah dapat 144 units (atau sekitar 3 tahun). Namun karena saya ambil gelar ganda dengan sistem Flexible Double Degree, saya harus menyelesaikan 240 unit atau sekitar 5 tahun.


Masing-masing mata kuliah hanya butuh 3-5 jam kuliah tatap muka per minggu. Sampai-sampai, Ibu bertanya apakah saya benar-benar kuliah. Tapi tidak berarti bahwa datang ke kelas saja cukup. Untuk melahap semua mata kuliah, saya membutuhkan minimal 6 jam studi independen di luar jam perkuliahan, bahkan seringkali lebih.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore