Logo JawaPos
Author avatar - Image
Penulis: Rian Alfianto
Rabu, 4 November 2026 | 03.53 WIB

Data Pribadi Presiden Korea Selatan Bocor Akibat Kesalahan Internal, 168 Orang Terdampak

Presiden Lee Jae Myung. (Yonhap)

JawaPos.com - Data pribadi Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dan Ibu Negara Kim Hea Kyung dilaporkan bocor. Selain itu kebocoran juga menimpa 166 orang lainnya, termasuk pejabat pemerintah, staf istana kepresidenan, hingga agen pengamanan presiden.

Dilansir dari Antara pada Selasa (3/11), kebocoran diduga akibat kesalahan internal dalam penggunaan platform pemindai malware VirusTotal. 

Data yang bocor mencakup nama dalam bahasa Korea dan Inggris, instansi, jabatan, tanggal lahir, nomor paspor, serta tanggal penerbitan dan kedaluwarsa paspor. Informasi tersebut diduga dapat diakses perusahaan keamanan siber dan pelanggan berbayar VirusTotal di berbagai negara.

Berdasarkan laporan JoongAng Ilbo, dokumen yang memuat informasi pribadi 168 orang itu diunggah ke VirusTotal pada 2 Juni. Platform pemindai malware milik Google tersebut memiliki mekanisme berbagi data hasil pemindaian dengan perusahaan keamanan dan anggota berbayar di seluruh dunia.

Dugaan sementara mengarah pada kelalaian orang dalam yang memiliki akses terhadap dokumen pribadi di lingkungan Blue House. Alih-alih menjadi sasaran peretasan, dokumen tersebut kemungkinan justru diunggah oleh pegawai atau sistem keamanan internal yang tidak memahami konsekuensi penggunaan VirusTotal.

Kesalahan Internal Diduga Jadi Penyebab Kebocoran

Salah satu petunjuk yang menguatkan dugaan tersebut adalah nama berkas yang memuat tulisan 'Korea-Belgium'. Dokumen itu diperkirakan berkaitan dengan persiapan perjalanan Presiden Lee Jae Myung ke Eropa, yang dimulai dengan kunjungan ke Brussels pada 9 Juni.

Para pakar keamanan siber menilai pegawai yang memiliki akses terhadap dokumen tersebut kemungkinan menggunakan VirusTotal untuk memeriksa keamanan berkas tanpa mengetahui bahwa informasi yang diunggah dapat dibagikan kepada pihak eksternal.

Profesor Graduate School of International Information Security Universitas Dongguk, Hwang Seok-jin, menilai kecil kemungkinan kebocoran tersebut merupakan tindakan peretas yang sengaja mencuri informasi internal lalu mengunggahnya ke platform berbagi global.

"Sepertinya tidak mungkin seorang peretas yang mencuri informasi internal secara jahat justru mengunggahnya ke platform berbagi global," kata Hwang.

"Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya kesadaran keamanan dari orang dalam atau kesalahan terkait pekerjaan, bukan karena peretasan," lanjutnya.

VirusTotal merupakan layanan untuk memeriksa apakah suatu berkas atau tautan mengandung malware maupun ancaman digital lainnya. Platform ini banyak digunakan perusahaan dan institusi karena memungkinkan pemeriksaan keamanan tanpa harus memasang berbagai perangkat lunak antivirus secara terpisah.

Namun, mekanisme kerja VirusTotal memiliki risiko tersendiri. Data yang diunggah tidak hanya diperiksa, tetapi juga dibagikan secara real time kepada perusahaan antivirus dan pelanggan berbayar di seluruh dunia.

Platform tersebut menerapkan pendekatan 'collective intelligence', yakni berbagi informasi ancaman siber agar berbagai pihak dapat bersama-sama mengidentifikasi malware dan mengembangkan perlindungan digital.

Editor: Kuswandi
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore