
Korea Utara diduga berada di balik serangkaian pencurian aset kripto, termasuk peretasan senilai USD 1,5 miliar dari bursa Bybit pada 2025 (The Guardian)
JawaPos.com - Peretasan senilai USD 6,3 miliar atau sekitar Rp114,2 triliun (kurs Rp18.130 per dolar AS) terhadap Binance, bursa kripto terbesar di dunia, diduga melibatkan kelompok peretas Korea Utara. Serangan yang disebut sebagai pencurian terbesar dalam sejarah itu mengguncang industri aset digital sekaligus memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan bursa kripto yang melayani jutaan investor lintas negara.
Dilansir dari The Guardian, Senin (2/11/2026), serangan tersebut terjadi pada Kamis (29/10). Firma analisis kripto TRM Labs, Elliptic, dan Chainalysis mengidentifikasi kelompok TraderTraitor, unit peretas elite Korea Utara, sebagai pelaku. TRM Labs menyatakan atribusi tersebut didasarkan pada tingkat keyakinan tinggi. FBI kemudian mengonfirmasi keterlibatan Korea Utara pada Sabtu (31/10).
Para peretas diduga mengubah sebagian besar aset curian menjadi Ethereum, kemudian memindahkannya melalui layanan keuangan terdesentralisasi dan bursa pertukaran instan untuk menyamarkan jejak transaksi.
Menurut Tom Robinson, kepala ilmuwan Elliptic, "Ini hampir pasti merupakan pencurian terbesar dalam sejarah, dalam kategori apa pun." Nilainya melampaui pencurian kripto senilai USD 1,5 miliar dari Bybit pada 2025.
Sementara itu, penyelidikan Binance menemukan bahwa serangan kemungkinan bermula dari laptop salah satu insinyurnya yang diretas. Akses tersebut memungkinkan pelaku memasuki sistem perusahaan dan melakukan penarikan tanpa izin. Pemeriksaan lanjutan juga menemukan beberapa titik kebocoran lain. Binance menyebut serangan itu sebagai operasi canggih yang melibatkan lebih dari satu celah keamanan.
Menghadapi kerugian tersebut, wakil CEO Binance Richard Teng memastikan perusahaan akan mengganti seluruh dana nasabah. "Intinya, uang Anda aman dan kami akan menanggung setiap kerugian," ujarnya.
Binance menyediakan USD 6,34 miliar atau sekitar Rp114,9 triliun untuk menutup kerugian. Perusahaan sempat menghentikan penyetoran dan penarikan selama pemeriksaan sistem serta pelacakan aset bersama aparat penegak hukum.
Pendiri Binance Changpeng Zhao juga menegaskan melalui platform X, "Dana pengguna aman!" Meski tidak lagi mengelola perusahaan, Zhao menyatakan, "Sebagai pemegang saham, saya berharap seluruh dana pengguna dapat diganti sepenuhnya."
Pada Minggu (1/11), Reuters melaporkan Binance telah menutup sekitar 95 persen nilai kerugian dan mulai membuka kembali penarikan secara bertahap. Perusahaan masih berupaya memperoleh token yang lebih sulit dipulihkan karena likuiditasnya rendah.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Prediksi Skor Lillestrom SK vs Viktoria Plzen di Liga Europa: Duel Berpotensi Berjalan Terbuka
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Prediksi Skor Lion City Sailors vs Adelaide United di ACL Two: Tuan Rumah Diunggulkan Menang Lagi

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022