
Foto yang diambil pada Oktober 2025 memperlihatkan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping sebelum menggelar pembicaraan di Korea Selatan. (Kyodo)
JawaPos.com - Pemerintah Jepang diperkirakan tidak akan menyebut Tiongkok sebagai "ancaman" dalam dokumen strategi keamanan utama yang akan direvisi pada akhir tahun ini. Tokyo kemungkinan mempertahankan istilah yang digunakan saat ini, yakni menyebut sikap dan aktivitas Tiongkok sebagai "tantangan strategis terbesar".
Dilansir dari Kyodo, Senin (2/11), langkah tersebut diduga diambil untuk menghindari meningkatnya ketegangan dalam hubungan Jepang dan Tiongkok yang sudah memburuk. Kebijakan itu juga muncul ketika Amerika Serikat, sekutu keamanan utama Jepang, berupaya membangun hubungan yang konstruktif dan stabil secara strategis dengan ekonomi terbesar kedua dunia tersebut.
Pemerintah Jepang berencana merampungkan dokumen tersebut setelah pembahasan antara Partai Demokrat Liberal atau LDP dan mitra koalisinya, Partai Inovasi Jepang atau JIP. Pembahasan diperkirakan dimulai paling cepat pada pertengahan November.
Strategi Keamanan Nasional Jepang yang disusun pada 2022 menyebut sikap eksternal, aktivitas militer, dan berbagai langkah Tiongkok sebagai "tantangan strategis terbesar dan belum pernah terjadi sebelumnya" dalam menjaga perdamaian dan keamanan Jepang.
Dalam dokumen tersebut, Tiongkok ditempatkan dalam kategori berbeda dengan Korea Utara. Jepang secara khusus menyebut Korea Utara sebagai "ancaman yang segera" di tengah pengembangan senjata nuklir dan rudalnya.
Istilah "ancaman" sendiri kerap digunakan untuk menggambarkan pihak yang dianggap sebagai lawan.
"akan sulit untuk menggambarkan Tiongkok sebagai sebuah 'ancaman'. Kami akan mengambil pendekatan realistis," kata seorang sumber pemerintah.
Sumber tersebut mengatakan Jepang perlu mempertimbangkan posisi Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar sekaligus negara yang memiliki hubungan ekonomi erat dengan Jepang.
Mempertahankan istilah yang digunakan saat ini juga sejalan dengan pernyataan bersama Jepang-Tiongkok pada 2008. Dalam kesepakatan itu, kedua negara menyatakan tidak saling menjadi ancaman dan berupaya membangun hubungan yang saling menguntungkan berdasarkan kepentingan strategis bersama.
Meski demikian, strategi keamanan terbaru Jepang kemungkinan tetap akan memuat perkembangan aktivitas Tiongkok. Salah satunya terkait pembatasan ekspor mineral penting ke Jepang.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Prediksi Skor Lillestrom SK vs Viktoria Plzen di Liga Europa: Duel Berpotensi Berjalan Terbuka
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Prediksi Skor Lion City Sailors vs Adelaide United di ACL Two: Tuan Rumah Diunggulkan Menang Lagi

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022