
Donald Trump bersama Direktur Intelijen Nasional Jay Clayton dan Menteri Tenaga Kerja Keith Sonderling (The Guardian)
JawaPos.com - Kecerdasan buatan (AI) semakin menyatu dengan kekuasaan pemerintahan Donald Trump. Dalam sepekan terakhir, Gedung Putih mempererat hubungan dengan perusahaan AI, Pentagon, dan komunitas intelijen AS, membentuk jaringan baru yang berpotensi memengaruhi arah teknologi sekaligus kebijakan keamanan global.
Dilansir dari The Guardian, Rabu (7/10/2026), Trump dan enam pemimpin perusahaan AI menandatangani kesepakatan sukarela mengenai pengendalian AI. Elon Musk, Mark Zuckerberg, Jensen Huang, Dario Amodei, Sundar Pichai, dan Greg Brockman menyepakati kerangka pengawasan internal serta audit. Trump menyebut kesepakatan itu "mengikat secara moral", dengan pengawasan AI sebagian besar diserahkan kepada perusahaan teknologi melalui mekanisme pengawasan internal.
Kesepakatan itu penting bukan hanya karena isinya, tetapi juga karena proses pembentukannya. Zuckerberg dilaporkan ikut mengarahkan penyusunan rancangan setelah berbicara dengan Ketua DPR AS Mike Johnson dalam jamuan kenegaraan untuk Presiden Tiongkok Xi Jinping. Zuckerberg kemudian mengedarkan rancangan sebelum pertemuan para CEO, sementara Huang memberikan dukungan.
Trump bahkan menggambarkan kesepakatan tersebut dengan bahasa konstitusional. "Ini hampir seperti konstitusi, dan orang-orang terbesar di dunia menandatanganinya, lalu saya menandatanganinya sebagai presiden, dan ini benar-benar merupakan bentuk perlindungan," kata Trump. Padahal, berbeda dari konstitusi, kesepakatan itu tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat.
Pada saat bersamaan, Trump menginstruksikan pemerintah federal mengganti penyebutan "kecerdasan buatan" menjadi "superintelligence" dalam dokumen pemerintah. Musk segera mengikuti istilah itu dengan mengganti nama anak perusahaan SpaceXAI menjadi SpaceXSI. Perubahan tersebut beriringan dengan kembalinya Musk ke lingkaran pemerintahan, lebih dari setahun setelah keterlibatannya dalam Department of Government Efficiency (DOGE) berakhir.
Keterlibatan Musk kini bergerak ke ranah pertahanan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menunjuk Musk bersama Palmer Luckey dan Emil Michael dalam Project Meridian untuk mengkaji masa depan peperangan. Dalam 120 hari, mereka dijadwalkan menghasilkan laporan publik mengenai cara mencapai "dominasi teknologi absolut di medan perang generasi berikutnya."
Langkah berikutnya membawa AI langsung ke pusat mesin intelijen AS. Trump menunjuk Direktur Intelijen Nasional Jay Clayton sebagai pejabat AI pemerintah sekaligus ketua Super Intelligence Force. Clayton mengatakan, "Presiden meminta agar sebuah kelompok dibentuk untuk memastikan persis seperti yang dia katakan, yakni agar kita tetap menjadi pemimpin dalam superinteligensi dan kepentingan rakyat Amerika ditempatkan sebagai prioritas." Dia juga menegaskan, "Risiko jika kita tidak menjadi yang terdepan sangat tinggi."
Penunjukan Clayton juga menandai perubahan dibanding pendahulunya, David Sacks, investor Silicon Valley yang mendorong pertumbuhan dan deregulasi serta memiliki kepentingan finansial langsung di sejumlah perusahaan AI. Sacks dikenal mendukung AI accelerationism, pandangan yang berseberangan dengan doomerism, yakni kekhawatiran bahwa perkembangan AI dapat berujung pada kepunahan manusia.
Dari perspektif global, implikasinya jauh melampaui Amerika. Penggabungan AI dengan kewenangan eksekutif, kemampuan militer, pengawasan, dan pengumpulan informasi membuat ketergantungan negara lain terhadap teknologi AS menjadi persoalan kedaulatan. Pemerintah dan perusahaan di Eropa, khususnya yang mengandalkan AI Amerika, menghadapi kemungkinan bahwa standar teknologi mereka semakin dipengaruhi kepentingan keamanan nasional Washington.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022