
Uji lapangan transformator solid-state 1 MW NC State pada jaringan listrik aktif di fasilitas EPRI, Lenox, Massachusetts / Foto: (Ars Technica)
JawaPos.com — AI boom atau lonjakan pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya meningkatkan kebutuhan komputasi, tetapi juga menciptakan pasar baru bagi teknologi kelistrikan. Di Amerika Serikat (AS), pusat data menjadi pendorong terbesar kenaikan permintaan listrik yang membebani jaringan. Kondisi ini sekaligus mempercepat investasi pada solid-state transformer (SST), transformator berbasis elektronika daya yang dirancang sebagai alternatif teknologi konvensional.
Transformator konvensional masih menggunakan rancangan dasar sejak 1880-an, dengan dua kumparan tembaga pada inti baja untuk menaikkan atau menurunkan tegangan listrik arus bolak-balik (AC). Transformator berukuran besar dibuat khusus untuk gardu sehingga tidak dapat diproduksi massal. Akibatnya, perusahaan utilitas di AS dapat menunggu hingga beberapa tahun untuk memperoleh perangkat baru, ketika kebutuhan ekspansi jaringan dan penggantian transformator lama terus meningkat.
Dilansir dari Ars Technica, Selasa (25/8/2026), SST menggunakan sakelar semikonduktor berfrekuensi tinggi untuk mengubah tegangan dan dapat diproduksi massal dengan material seperti silikon karbida. Ukurannya lebih kecil dan ringan, serta desainnya modular. Srdjan Lukic, profesor teknik elektro dan komputer di North Carolina State University, menyebut SST sebagai “satu kotak ajaib” yang mengurangi kebutuhan infrastruktur. “Kini hanya ada satu tahap konversi di luar ruang server, lalu listrik langsung menuju rak,” ujarnya.
Teknologi tersebut semakin relevan karena pusat data AI mulai menggunakan distribusi listrik arus searah (DC) untuk rak server berdaya tinggi. SST dapat mengubah listrik AC dari jaringan distribusi langsung menjadi DC tanpa perangkat konversi terpisah. Lukic menyebut pusat data sebagai “aplikasi killer bagi transformator solid-state saat ini”. Amperesand, Heron Power, dan DG Matrix telah mengumpulkan lebih dari USD 280 juta atau sekitar Rp4,96 triliun, dengan kurs Rp17.720 per dolar AS, dalam setahun terakhir untuk mengomersialkan teknologi tersebut.
Selain menghemat ruang, SST berpotensi mengurangi penggunaan tembaga dan material lain. Produksi massalnya juga dapat membantu mengatasi kelangkaan transformator yang menghambat pengembangan jaringan. “Jumlah perusahaan khusus yang memproduksi transformator konvensional relatif sedikit, sedangkan transformator solid-state lebih menyerupai perangkat elektronik,” kata Lukic. Menurutnya, kondisi itu memperluas pihak yang dapat memproduksi transformator sekaligus lokasi pembuatannya.
Peluangnya kemudian meluas ke kendaraan listrik (EV), yang juga membutuhkan listrik DC. Lukic dan timnya menguji SST yang terhubung ke jaringan aktif dan mampu menangani daya hingga 1 megawatt untuk pengisian baterai EV, sekaligus menurunkan tegangan dan mengubah AC menjadi DC. Pengujian berlangsung di laboratorium Electric Power Research Institute di Lenox, Massachusetts, melalui kolaborasi dengan New York Power Authority sejak 2018.
Perangkat berukuran sekitar 1 x 1,5 x 2 meter itu berada dalam kontainer sejak Mei 2026 dan dijadwalkan kembali ke North Carolina State University pada September. “Bentuknya seperti kotak transformator besar dengan bentuk yang sedikit berbeda, seperti bongkahan baja besar,” kata Lukic. Untuk pengisian EV, perangkat itu “menggantikan tiga bongkahan baja dengan satu bongkahan baja serta menghilangkan banyak kabel dan penggalian parit”.
Secara teknis, SST menggunakan desain modular yang mencakup bagian depan aktif, konverter AC/DC, dan transformator isolasi berfrekuensi tinggi untuk menaikkan atau menurunkan tegangan. Komponen isolasi khusus harus mampu menahan “tekanan penuh dari jaringan, tegangan distribusi penuh” dalam perangkat yang relatif ringkas. Meski demikian, teknologi ini masih menghadapi tantangan rekayasa dan komersialisasi.
Di luar pusat data, kemampuan SST juga menarik perhatian sektor energi. Drew Baglino, pendiri dan CEO Heron Power, mengatakan transformator konvensional “tidak memiliki pemantauan dan tidak memiliki kendali”. Teknologi solid-state, menurutnya, dapat memungkinkan lebih banyak listrik dialirkan melalui infrastruktur yang sama. Hal tersebut membuat pusat data AI berpotensi menjadi pasar awal yang membantu mengurangi risiko komersialisasi teknologi.
Lukic berharap penggunaan SST oleh industri AI dapat menjadi pijakan menuju adopsi yang lebih luas. “Di luar pusat data, kita dapat memikirkan pengisian kendaraan listrik di wilayah padat penduduk,” katanya. Dia juga melihat peluang pada rumah modern karena banyak perangkat menggunakan DC. “Kemampuan mendistribusikan DC di rumah modern akan memberikan manfaat yang signifikan.” Dengan demikian, ledakan pusat data AI tidak hanya menambah beban jaringan listrik, tetapi juga menciptakan pasar awal bagi transformator generasi baru.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Racing Santander vs Elche di Liga Spanyol 2026/2027: Tuan Rumah Kunci 3 Poin!
Prediksi Skor Alaves vs Villarreal di Liga Spanyol 2026/2027: Sengit, Berakhir Imbang?
Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Villarreal di Liga Spanyol: Babazorros Bisa Buat Kejutan
Kronologi Kericuhan di Pejompongan yang Tewaskan Lansia dan Bikin Pelajar Babak Belur
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Newcastle di Liga Inggris 2026/2027: Sengit, Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Levante vs Real Betis di Liga Spanyol 2026/2027: Tim Tamu Bisa Curi 3 Poin!
Prediksi Skor Bournemouth vs Everton di Liga Inggris 2026/2027: Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Coventry City vs Hull City di Liga Inggris 2026/2027: Bisa Berakhir Imbang!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Susunan Pemain AC Milan vs Venezia: Fisik Adrien Rabiot Belum Siap, Rafael Leao Absen
