
Anak-anak mengikuti kegiatan melipat origami burung bangau perdamaian di sebuah gereja di Kota Quezon, Filipina, pada 21 April 2026. (Kyodo)
JawaPos.com - Kisah Sadako Sasaki, gadis Jepang yang meninggal akibat leukemia setelah selamat dari bom atom Hiroshima, menginspirasi anak-anak di Filipina untuk mengampanyekan perdamaian. Mereka melipat lebih dari 1.000 burung bangau origami sebagai simbol penolakan terhadap perang.
Seperti dilansir Kyodo, Kamis (6/8), kegiatan tersebut digagas Pastor Katolik Robert Reyes. Acara digelar dua kali, yakni pada akhir April dan pertengahan Mei, di sebuah gereja di Quezon City, sebelah utara Manila.
Reyes mengatakan kampanye itu bertujuan menyebarkan pesan perdamaian melalui cara yang sederhana. "Kami ingin mempromosikan perdamaian melalui sesuatu yang sesederhana melipat origami," ujarnya.
Burung bangau kertas telah lama menjadi simbol harapan dan perdamaian sejak berakhirnya Perang Dunia II. Simbol tersebut kembali mendapat perhatian di tengah berbagai konflik yang masih berlangsung, termasuk perang yang melibatkan Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran.
Sadako Sasaki baru berusia dua tahun ketika terpapar radiasi akibat bom atom yang dijatuhkan AS di Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Sepuluh tahun kemudian, ia meninggal karena leukemia setelah berjuang melawan penyakit tersebut.
Sadako percaya pada legenda Jepang yang menyebut seseorang akan dikabulkan keinginannya jika berhasil melipat 1.000 burung bangau kertas. Dengan harapan bisa sembuh, ia terus membuat origami hingga akhir hayatnya pada 1955.
Reyes mengenal kisah Sadako saat mengunjungi Taman Peringatan Perdamaian Hiroshima dan Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima pada 2024. Pengalaman itu begitu membekas sehingga ia menceritakan kisah Sadako dalam salah satu khotbah misa di Filipina.
Salah seorang anak yang mendengarkan khotbah tersebut kemudian membuat burung bangau origami dengan harapan keinginannya juga terkabul. Pada Maret lalu, anak itu memberikan beberapa hasil karyanya kepada Reyes sebagai ungkapan terima kasih.
Peristiwa itu mendorong Reyes menggelar kegiatan melipat origami bersama anak-anak di parokinya. Menurutnya, kampanye perdamaian itu juga menjadi semakin relevan setelah konflik bersenjata yang melibatkan AS, Israel, dan Iran pecah pada Februari.
"Perang di Iran menimbulkan dampak ke seluruh dunia. Kami juga sangat merasakannya di Filipina," kata Reyes.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Arema FC di Piala Presiden 2026: Misi Green Force Unjuk Gigi!
Profil Malik Bawazier, Suami Cut Keke yang Dilaporkan Kasus Perzinaan dan Kohabitasi
Hasil Piala Presiden: Persebaya Surabaya vs Arema FC 1-0, Yuran Fernandes Gacor!
Prediksi Skor Persib vs Persebaya di Final Piala Presiden 2026: Duel Tim Kelelahan!
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Misi Berat Macan Kemayoran!
Aji Santoso Resmi Latih de Red FC, Klub Baru Jawa Timur Pilih Stadion Gelora 10 November Surabaya
Pelapor Diintimidasi Pihak Malik Bawazier Usai Laporkan Kasus Perzinaan
Iran Buka Suara usai Pidato Prabowo, Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
