
Presiden AS Donald Trump. (AP Photo)
JawaPos.com - Ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk kembali melancarkan serangan besar terhadap Iran dinilai semakin sulit diwujudkan. Meski sebelumnya berulang kali mengancam akan memberikan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, Trump disebut memilih menahan diri setelah mendapat penilaian bahwa Washington tidak memiliki opsi militer yang menjanjikan.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar mengapa Amerika Serikat yang memiliki kekuatan militer jauh lebih unggul belum mampu memaksa Iran menyerah. Bahkan setelah menghancurkan sebagian besar kemampuan pertahanan udara dan laut konvensional negara tersebut?
Sejumlah analis menilai jawabannya terletak pada perubahan karakter peperangan modern. Dominasi militer AS dinilai tidak lagi cukup untuk memaksakan hasil politik seperti yang terjadi pada perang-perang sebelumnya.
Baca Juga:Iran Bantah Klaim Trump Soal Negosiasi Dimulai Senin, Tegaskan Tak Ada Pembicaraan dengan AS
Menurut analisis tersebut, Trump dan sejumlah pejabat di sekelilingnya dianggap salah membaca penyebab menurunnya efektivitas kekuatan militer AS. Mereka lebih menyalahkan pemerintahan sebelumnya, pendekatan kebijakan luar negeri yang dinilai terlalu lunak, hingga fokus pada isu-isu nonmiliter, ketimbang melihat perubahan teknologi yang mengubah keseimbangan kekuatan global.
Padahal, perkembangan teknologi membuat negara-negara yang secara militer lebih lemah kini mampu memberikan perlawanan yang jauh lebih efektif melalui strategi asimetris. Robert A. Pape, profesor dari University of Chicago sekaligus penulis Bombing to Win: Air Power and Coercion in War, menjelaskan dalam artikelnya di Foreign Affairs bahwa globalisasi yang dipimpin AS sejak berakhirnya Perang Dingin justru mempercepat penyebaran teknologi militer.
Menurut dia, teknologi seperti citra satelit, semikonduktor, hingga drone kini tidak lagi dimonopoli negara-negara besar. Kondisi tersebut membuat negara yang sebelumnya dianggap lemah memiliki kemampuan untuk melawan kekuatan militer superior dengan biaya jauh lebih rendah.
Akibatnya, strategi tekanan militer yang dahulu efektif terhadap Irak pada Perang Teluk 1991 atau Serbia saat dibombardir NATO pada 1999 kini tidak lagi memberikan hasil yang sama terhadap negara seperti Iran.
Analisis tersebut menyebut Iran telah menunjukkan bahwa mereka tetap mampu membalas jika AS benar-benar menghancurkan infrastruktur vital maupun fasilitas energi negara itu. Teheran diyakini memiliki kemampuan menyerang infrastruktur negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk Persia.
Selain itu, Iran juga diperkirakan tidak akan menyerah hanya karena mengalami kerusakan besar. Dalam skenario seperti itu, Washington justru berisiko menghabiskan persediaan rudal dan senjata presisi bernilai tinggi tanpa memperoleh keuntungan strategis yang berarti.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Sassuolo vs Cesena di Coppa Italia: Jay Idzes Berpeluang Starter!
