
Sejumlah migran menyeberang dari Maroko menuju enklave Ceuta milik Spanyol pada Kamis, 30 Juli 2026. (AP/Antonio Sempere)
JawaPos.com – Pemerintah Spanyol masih berupaya mengungkap penyebab di balik masuknya puluhan ribu migran dari Maroko ke wilayah Ceuta. Meski muncul dugaan adanya tekanan politik dari Rabat, sejumlah pakar mengingatkan bahwa penyebab krisis tersebut belum dapat disimpulkan secara pasti.
Seperti dilansir RTVE, Jumat (31/7), ribuan warga Maroko memasuki Ceuta melalui darat maupun laut sehingga memicu salah satu krisis migrasi terbesar dalam lima tahun terakhir. Para migran terdiri atas anak muda, keluarga, hingga penyandang disabilitas yang berusaha mencapai wilayah Spanyol dengan memanjat perbukitan atau berenang menyeberangi laut.
Pemerintah Spanyol menegaskan hubungan bilateral dengan Maroko saat ini tetap berjalan dengan baik. Kementerian Luar Negeri menyebut koordinasi kedua negara dalam penanganan migrasi masih berlangsung intensif dan telah disepakati langkah bersama untuk memulangkan para migran yang masuk ke Ceuta secara ilegal.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menduga jaringan penyelundup manusia memanfaatkan putusan Mahkamah Agung untuk mendorong arus migrasi. Putusan tersebut menegaskan bahwa setiap orang yang memasuki wilayah Spanyol berhak memperoleh pendampingan hukum sebelum statusnya dinilai secara individual.
Guru Besar Ilmu Politik sekaligus peneliti Complutense Institute of International Studies, Ruth Ferrero, mengatakan putusan itu kerap disalahartikan. Menurutnya, aturan tersebut hanya menerapkan hukum internasional mengenai suaka dan tidak berarti pemulangan migran ke Maroko menjadi mustahil dilakukan.
Ferrero menilai penyelundup manusia dapat memanfaatkan kesalahpahaman terhadap putusan tersebut untuk menarik lebih banyak migran. Namun, ia mengingatkan bahwa hal itu berbeda dengan anggapan bahwa Spanyol telah membuka perbatasannya secara bebas.
RTVE mengingatkan bahwa situasi serupa pernah terjadi pada Mei 2021 ketika hampir 9.000 orang memasuki Ceuta. Saat itu, krisis dipicu memburuknya hubungan diplomatik setelah Spanyol merawat pemimpin Front Polisario, Brahim Ghali, di sebuah rumah sakit.
Sejumlah laporan dari Pusat Intelijen Nasional Spanyol setelah peristiwa 2021 menyebut sempat beredar kabar bahwa aparat keamanan Maroko akan melonggarkan pengawasan di wilayah pesisir utara. Rumor tersebut diyakini ikut mendorong gelombang migrasi pada saat itu.
Direktur Eksekutif Center for Contemporary Arab Studies, Haizam Amirah Fernández, mengatakan terdapat pola dalam berbagai gelombang migrasi massal dari Maroko menuju Ceuta. Menurutnya, pergerakan manusia kerap digunakan sebagai cara untuk menyampaikan pesan politik ketika terdapat kepentingan Maroko yang belum terpenuhi.
Namun, Ferrero meminta semua pihak tetap berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Ia menilai tidak tepat menganggap seluruh tekanan migrasi dari Maroko selalu merupakan strategi politik pemerintah Rabat karena informasi yang tersedia saat ini belum mengarah pada kesimpulan tersebut.

Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Port FC di Piala Presiden 2026: Green Force Bisa Sapu Bersih Laga!
Update Kondisi Alex Martins! Dibawa ke Rumah Sakit, Pelatih Persebaya Surabaya Tunggu Kabar Terbaru
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Voli Indonesia Berduka, Mantan Pemain Jakarta Pertamina Enduro Meninggal Dunia
Prediksi Skor Persija Jakarta vs PSMS Medan di Piala Presiden 2026: Macan Kemayoran Jaga Asa ke Semifinal!
Jadwal Aston Villa vs Indonesia All Stars: Jam Kick-off, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad
Hasil Babak Pertama Persebaya vs Port FC: Miguel Pereira Cetak Gol Perdana, Skor Masih 1-1
Prediksi Persebaya Surabaya vs Port FC: Bruno Moreira Dikabarkan Cedera, Bernardo Tavares Buka Peluang Rotasi Pemain
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
