Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 31 Juli 2026 | 22.19 WIB

Krisis Ceuta Memburuk, Spanyol Kewalahan: Nasib 49 Ribu Migran dari Maroko Masih Menggantung

Sejumlah migran menyeberang dari Maroko menuju Ceuta milik Spanyol pada Kamis, 30 Juli 2026. (AP/Antonio Sempere) - Image

Sejumlah migran menyeberang dari Maroko menuju Ceuta milik Spanyol pada Kamis, 30 Juli 2026. (AP/Antonio Sempere)

JawaPos.com – Pemerintah Spanyol menghadapi tekanan besar setelah sebanyak 49.000 migran memasuki wilayahnya dari Maroko hanya dalam waktu 24 jam. Di tengah lonjakan tersebut, pemerintah mulai menyiapkan pemindahan anak-anak migran tanpa pendamping ke wilayah daratan Spanyol, sementara nasib puluhan ribu migran dewasa masih belum dipastikan.

Seperti dilansir El Mundo, Jumat (31/7), Ceuta telah berada dalam status kontingensi migrasi luar biasa sejak 29 Agustus 2025. Status tersebut diberlakukan karena jumlah anak migran tanpa pendamping telah melampaui batas yang ditetapkan dalam peraturan.

Dengan status itu, pemerintah pusat diwajibkan memindahkan anak-anak migran tanpa pendamping ke wilayah daratan Spanyol dalam waktu 15 hari kalender sejak mereka tiba. Langkah tersebut dimaksudkan untuk mengurangi beban pusat-pusat penampungan di Ceuta yang sudah mengalami kelebihan kapasitas.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol melaporkan sebanyak 49.000 orang memasuki wilayah Spanyol dari Maroko dalam 24 jam terakhir. Sementara itu, Serikat Dokter Ceuta memperkirakan jumlah pemeriksaan penentuan usia terhadap para migran dapat melampaui 10.000 orang karena tingginya arus kedatangan.

Presiden Serikat Dokter Ceuta sekaligus Ketua Ikatan Dokter Ceuta, Enrique Roviralta, mengatakan berbagai permintaan bantuan yang diajukan selama ini belum mendapat respons memadai. Menurutnya, sistem layanan kesehatan di Ceuta sudah berada dalam kondisi yang sangat terbebani.

Ia mengingatkan bahwa Ceuta telah ditetapkan sebagai wilayah dengan kekurangan tenaga medis melalui dekret kerajaan pada 2023. Namun, menurut Roviralta, kondisi tersebut kini kembali diperdebatkan oleh pemerintah pusat meski tekanan terhadap layanan kesehatan terus meningkat.

Salah satu unit yang paling terdampak adalah Departemen Radiologi. Bagian tersebut kini harus menangani ribuan pemeriksaan penentuan usia menggunakan foto rontgen pergelangan tangan dan radiografi panoramik, sehingga mengurangi kapasitas pelayanan medis rutin.

Roviralta mengatakan saat ini hanya tersisa tiga tenaga profesional di Departemen Radiologi. Bahkan sebagian hasil pemeriksaan harus dikirim ke perusahaan di Madrid untuk dianalisis karena keterbatasan sumber daya di Ceuta.

Nasib anak-anak migran yang dipastikan masih di bawah umur diatur dalam dekret kerajaan yang disahkan pada 22 Juli 2025. Regulasi tersebut mengatur langkah-langkah perlindungan yang harus diambil pemerintah demi mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak.

Presiden Kota Otonom Ceuta, Juan Jesús Vivas, meminta pemerintah segera mengaktifkan seluruh mekanisme yang tersedia untuk mengurangi tekanan migrasi. Selain relokasi anak-anak, ia juga mendesak pencairan bantuan keuangan yang telah dialokasikan pemerintah pusat.

Editor: Dhimas Ginanjar
Sumber: El mundo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore