Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 6 Juli 2026 | 20.57 WIB

Transformasi Pertanian Digital Tiongkok Mengubah Peta Produksi Pangan Modern dari Lahan hingga Robot Otonom

Sistem irigasi sprinkler tegak menyiram tanaman gandum di lahan pertanian koperasi di Qingdao, Provinsi Shandong, Tiongkok timur. / Foto: (People's Daily Online) - Image

Sistem irigasi sprinkler tegak menyiram tanaman gandum di lahan pertanian koperasi di Qingdao, Provinsi Shandong, Tiongkok timur. / Foto: (People's Daily Online)

JawaPos.com — Revolusi teknologi kini tidak hanya terjadi di pusat data, pabrik semikonduktor, atau laboratorium kecerdasan buatan (AI), tetapi juga merambah sektor pertanian di Provinsi Shandong, Tiongkok. Perubahan ini menghadirkan sistem irigasi pintar, drone, robot otonom, hingga analitik berbasis data yang mengubah cara petani mengelola lahan secara fundamental.

Modernisasi tersebut tidak semata mengejar peningkatan produksi, tetapi juga menjawab persoalan lama seperti krisis air, degradasi tanah, dan keterbatasan tenaga kerja. Sistem irigasi presisi, sensor tanah, serta navigasi satelit kini memungkinkan pengambilan keputusan dilakukan secara real time di tingkat petani.

Dilansir dari People's Daily Online, Senin (6/7/2026), perubahan paling terasa terjadi di Kabupaten Ningjin, Kota Dezhou, Provinsi Shandong. Ye Jitao, direktur koperasi pertanian di Desa Hupizhangxi, menggambarkan kondisi masa lalu yang penuh kesulitan. "Dulu irigasi merupakan mimpi buruk secara logistik. Beberapa keluarga harus berbagi satu sumur dan kami sering menunggu tiga hingga empat hari hanya untuk satu kali giliran mengairi sawah. Biaya listrik untuk memompa air pun sangat besar," ujarnya.

Kini kondisi berubah drastis. Ye menambahkan, "Pemerintah telah membangun jaringan pipa yang menyalurkan air Sungai Kuning langsung ke lahan kami. Kami cukup menyalakan sistem irigasi dan air langsung mengalir. Tidak ada lagi antrean ataupun persaingan mendapatkan air."

Sebagai wilayah hilir sistem irigasi Sungai Kuning, Ningjin sebelumnya menghadapi kekurangan air dan eksploitasi air tanah. Pemerintah setempat kemudian mengeruk 114 kilometer saluran utama, membangun dan meningkatkan 14 gorong-gorong serta stasiun pompa, membangun 12 kolam penampungan, dan menambah kapasitas penyimpanan hingga 5 juta meter kubik untuk memperkuat sistem irigasi.

Perubahan juga terjadi pada pengelolaan air di tingkat petani. Wang Yuchi dari Koperasi Yicang kini dapat mengontrol irigasi melalui ponsel pintar. "Dulu saya harus terus berada di sawah saat mengairi lahan karena khawatir air terbuang percuma. Sekarang semuanya dapat dikendalikan melalui telepon genggam," katanya. Irigasi genangan mulai digantikan sistem tetes dan manajemen air-pupuk terpadu yang lebih presisi.

Di Kota Dongying, 107 hektare lahan bergaram berhasil dipulihkan menjadi lahan produktif melalui sistem drainase bawah tanah berlapis ganda. Teknologi ini bekerja dengan menahan air asin sekaligus mengalirkan garam keluar dari tanah secara bertahap. Dalam satu hingga dua tahun, kadar garam turun dari 16 menjadi 3 bagian per seribu dan hasil jagung mencapai 600 kilogram per mu atau sekitar 9 ton per hektare, dengan daya tahan perbaikan hingga 50 tahun.

Digitalisasi juga mengubah pengelolaan lahan di Kabupaten Linshu. Terdapat 200 stasiun pemantauan yang mengirim data tanah dan cuaca ke platform big data pertanian. Petani Yu Leyi mengatakan, "Dulu pemupukan dan irigasi lebih banyak mengandalkan pengalaman. Sekarang, hanya dengan satu sentuhan di telepon genggam, saya dapat melihat suhu, kelembapan, dan kondisi tanaman secara real time."

Tak hanya itu, operator alat pertanian Wan Lei mengatakan sistem digital juga mempercepat pekerjaan lapangan. "Dulu saya harus datang langsung ke sawah untuk memeriksa kelembapan tanah dan melakukan pemeriksaan berulang sebelum pemupukan. Sekarang saya bisa memantau jalur terbang drone, data tanah, dan pertumbuhan tanaman melalui platform seluler. Efisiensinya luar biasa. Satu drone mampu mencakup 53 hingga 67 hektare lahan dalam sehari," ujarnya.

Sementara itu, di Tai’an, robot penyemprot pestisida menjadi bagian dari pertanian tanpa awak. Teknisi Wang Xinwen menjelaskan, “Begitu rute ditetapkan, robot akan bergerak sendiri. Layar juga menampilkan tingkat kelembapan tanah hingga kerusakan akibat serangga pada daun sehingga sudut penyemprotan dapat disesuaikan dengan mudah.”

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore