
Greenpeace menyebut sebagian besar emisi karbon terkait dengan kepemilikan aset dan investasi berintensitas karbon tinggi (The Guardian)
JawaPos.com - Perdebatan mengenai tanggung jawab krisis iklim memasuki babak baru. Jika selama ini perhatian lebih banyak tertuju pada gaya hidup mewah para miliarder, penelitian terbaru justru menunjukkan bahwa sumber dampak terbesar berasal dari aset dan investasi yang mereka kuasai, mulai dari perusahaan minyak hingga portofolio bisnis beremisi tinggi.
Dilansir dari The Guardian, Jumat (12/6/2026), laporan Greenpeace menyebut kelompok superkaya tidak hanya menyumbang emisi melalui penggunaan jet pribadi, kapal pesiar, atau konsumsi barang mewah, melainkan juga lewat kepemilikan perusahaan dan aset finansial yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar. Kelompok 1 persen terkaya dunia melalui saham dan investasinya mengendalikan sekitar seperempat emisi global setiap tahun.
Greenpeace menghitung apa yang disebut sebagai "utang iklim" atau climate debt, yakni besarnya kerusakan iklim yang dapat dikaitkan dengan aset yang dimiliki kelompok berpendapatan sangat tinggi. Berdasarkan perhitungan itu, orang-orang terkaya di dunia diperkirakan menyebabkan kerugian iklim hampir 1 triliun dolar AS atau sekitar Rp17.930 triliun, dengan kurs Rp17.930 per dolar AS, setiap tahun.
Clara Thompson, pemimpin kampanye sistem sosial ekonomi Greenpeace International, mengatakan ketimpangan tersebut semakin sulit diabaikan.
"Di saat masyarakat menghadapi kenaikan tagihan energi, meningkatnya biaya hidup, dan dampak perubahan iklim yang semakin besar, banyak orang bertanya mengapa rumah tangga biasa harus menanggung begitu banyak beban, sementara sebagian orang terkaya di dunia terus meraup keuntungan dari industri yang mendorong krisis ini," ujarnya.
Selain itu, Greenpeace memperkirakan kelompok 1 persen terkaya di dunia bertanggung jawab atas sekitar 40 persen emisi berbasis kepemilikan. Emisi ini berasal dari kegiatan bisnis dan aset finansial maupun fisik yang mereka kuasai, yang secara keseluruhan menyumbang sekitar 60 persen emisi karbon global. Di dalam kelompok tersebut, 0,1 persen terkaya menyumbang sekitar 17 persen, sedangkan 0,01 persen terkaya sekitar 9 persen emisi berbasis kepemilikan.
Sebaliknya, separuh populasi dunia dengan tingkat kekayaan terendah hanya menyumbang sekitar 3 persen emisi berbasis kepemilikan. Menurut Greenpeace, seseorang masuk kelompok 1 persen terkaya jika memiliki kekayaan di atas sekitar 2 juta dolar AS, sementara kelompok 0,01 persen memiliki kekayaan lebih dari 38 juta dolar AS.
Thompson menilai pendekatan berbasis kepemilikan perlu mendapat perhatian lebih besar dalam kebijakan iklim global. "Ini bukan hanya soal jet pribadi dan gaya hidup mewah. Dalam persoalan polusi yang dihasilkan kaum ultra-kaya, kepemilikan bahkan lebih penting daripada konsumsi. Sebagian besar emisi terkait dengan kepemilikan aset dan investasi yang intensif karbon," katanya.
"Selama bertahun-tahun, kebijakan iklim berfokus pada konsumen. Temuan kami menunjukkan bahwa perhatian yang jauh lebih besar perlu diberikan pada apa yang dimiliki dan diinvestasikan seseorang," tambahnya.
Karena itu, Greenpeace mengusulkan instrumen seperti pajak kekayaan untuk membantu mengatasi ketimpangan tersebut.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022